Tantangan Pendidikan Tinggi Islam di Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tantangan Pendidikan Tinggi Islam di Aceh

Tantangan Pendidikan Tinggi Islam di Aceh
Foto Tantangan Pendidikan Tinggi Islam di Aceh

Oleh Eka Srimulyani

PENDIDIKAN adalah satu unsur penting dalam sejarah peradaban sebuah bangsa. Kebangkitan dan perubahan sosial yang dialami sebuah bangsa dan masyarakat seringkali memiliki keterkaitan dengan (kemajuan) pendidikan. Kalau dikelola dengan benar, maka pendidikan akan menjadi modal dan strategi ampuh untuk perubahan sebuah masyarakat ke arah yang lebih baik. Dalam konteks inilah, keberadaan lembaga pendidikan yang berkualitas merupakan sebuah kebutuhan sekaligus keharusan.

Dari jenjang pendidikan yang ada, pendidikan tinggi memiliki kompleksitas tersendiri, dan tuntutan yang lebih untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, yang kemudian diwujudkan dalam konsep Tridarma Perguruan Tinggi. Pendidikan tinggi menjadi tempat untuk menghasilkan para pemikir, praktisi, penggerak dan teknisi dalam konteks pembangunan masyarakat. Di sini terjadi pengembangan ilmu dan keahlian ke arah yang lebih serius. Di perguruan tinggi tidak hanya terjadi penyiapan skill atau keahlian praktis, tetapi juga terjadi penyiapan konsep dan filosofi.

Keberadaan lembaga pendidikan tinggi seperti yang kita kenal hari ini, bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah pendidikan Aceh. Institusi pendidikan yang dimulai dari balee semeubeut, rangkang/dayah dan dayah manyang merupakan tradisi pendidikan yang pernah hidup dalam masyarakat Aceh. Dayah manyang ditengarai merupakan level pendidikan tertinggi, sama dengan sekolah tinggi, akademi, institut atau universitas untuk konteks masa sekarang.

Ruh dan spirit yang dimiliki oleh lembaga pendidikan lokal tersebut menekankan pada aspek keilmuan Islam, moral dan memiliki dimensi lokal yang cukup kental. Konsentrasi ulama dan santri pada masa penjajahan terpecah, tidak hanya pada pengembangan ilmu, tapi juga perjuangan fisik melawan penjajahan. Saat itu tokoh dan lembaga pendidikan Islam menjadi satu garda terdepan dalam jihad melawan penjajahan yang merupakan representasi dari sebuah penindasan dan ketidakadilan. Jika kita mundur sedikit ke abad sebelumnya (abad XVII dan XVIII), Aceh merupakan pusat keilmuan yang melahirkan tokoh-tokoh ulama terkemuka.

Inisiasi ‘baru’
Sementara itu, sejarah perguruan tinggi dan universitas keagamaan yang ada di Aceh saat ini bukanlah perpanjangan atau keberlanjutan dari tradisi pendidikan yang ada sebelumnya di daerah ini, namun sebuah inisiasi ‘baru’ yang muncul setelah Indonesia merdeka melalui Kementerian Agama. Sejarah awal perguruan tinggi keagamaan Islam yang sering disingkat istilah PTKI adalah bagian dari sejarah pendidikan Nasional dalam konteks keindonesiaan.

Sejarah PTKI yang dulunya disebut PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) berawal dari didirikannya sebuah Perguruan Tinggi Islam di Yogyakarta pada 1950. Di antara ide yang melatarbelakangi didirikannya lembaga pendidikan tinggi tersebut adalah sebagai sebuah strategi akselerasi atau percepatan dalam mengejar ketertinggalan kajian ilmu Islam dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Secara Nasional, sebelum adanya lembaga pendidikan tinggi agama Islam dan madrasah, pengembangan keilmuan Islam didominasi oleh model pendidikan seperti pesantren, surau (di Minagkabau), dan dayah (di Aceh).

Pesantren memiliki ciri khas metodologi tersendiri, dan sudah memiliki beberapa tradisi yang dipelihara dari waktu ke waktu. Di samping keunggulan, lembaga pesantren juga memiliki keterbatasan untuk pengembangan keilmuan Islam seiring dengan perubahan sosial politik dan ekonomi yang berkembang begitu cepat dan pesat dalam masyarakat. Keberadaan lembaga pendidikan tinggi agama Islam menjadi satu pengisi gap ini, dalam rangka menawarkan dialektika keilmuan keagamaan yang lebih dinamis dan berkembang secara cepat. Perkembangan dunia riset atau penelitian yang terus berkembang juga diadopsi oleh lembaga pendidikan tinggi agama Islam.

Sebagaimana lazimnya di lembaga pendidikan tinggi lainnya, PTKI juga mendapat tantangan dalam berbagai aspek dalam hal filosofi, kualitas, relevansi, maupun sumber daya, dan aspek manajerial. Bagi lembaga pendidikan tinggi, seperti UIN yang beralih status atau bertransformasi dari IAIN, satu tantangannya adalah hal mengonstruksi epistemologi keilmuan, sebagai wujud integrasi dari pengetahuan agama dengan pengetahuan umum yang mulai ditawarkan di PTKI-PTKI lewat prodi-prodi umum. Sehingga kekhasan (distinctiveness) dari keilmuan yang ditawarkan akan kelihatan dan memberi warna pada Tridarma Perguruan Tinggi.

Tantangan lainnya yang secara umum dirasakan oleh kebanyakan PTKI adalah keterbatasan sumber daya manusia terutama dalam bidang-bidang keahlian tertentu, belum lagi persoalan kurikulum yang belum memperlihatkan sebuah fokus dari visi misi kelembagaan, begitu juga mismatch dunia pendidikan dengan dunia kerja. Untuk PTKI, isu mismatch ini sangat penting dikelola dan diselesaikan termasuk sampai ke aspek tekhnis mengingat ada semacam asumsi yang juga nyata adanya bahwa alumni dari PTKI memiliki kesempatan (kerja) lebih ‘terbatas’ dibandingkan alumni perguruan tinggi umum. Dalam beberapa kasus, terkadang alumni dari PTKI mendapat kesulitan atau kendala administratif dalam keikusertaan mereka dalam tes untuk formasi pegawai negeri sipil (PNS).

Bagi PTKI tertentu, terutama yang di daerah, daftar persoalan juga bertambah yang bersumber dari faktor keterbatasan sumber daya manusia (SDM), dan minat pendaftar yang terbatas. Input yang rendah secara kuantitas, kemudian membuat pilihan kelulusan menjadi tidak banyak, dan dengan sendirinya peluang memilih input-input yang berkualitas menjadi lebih terbatas.

Beberapa strategi reformasi dan akselerasi dalam beberapa aspek perlu dilakukan dalam rangka peningkatan profesionalisme penyelenggaraan pendidikan tinggi. Di samping itu, peran dan fungsi penelitian dan pengabdian masyarakat juga harus lebih ditingkatkan, sehingga eksistensinya sebagai sebuah perguruan tinggi agama memiliki implikasi perubahan sosial keagamaan yang lebih baik dalam masyarakat setempat. PTKI mau tidak mau juga harus catch up dengan konsep WCU (World Class University) yang sering dijadikan motto di Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

Romantisme sejarah
Untuk Aceh, melihat sejarah panjang pendidikan Islam di kawasan Indo-Malay world (Nusantara) beberapa abad yang lalu, maka ilustrasi romantisme sejarahnya seperti proses reclaiming (meraih kembali) kejayaan pendidikan masa lalu ketika Aceh menjadi tempat produksi ilmu pengetahuan agama Islam terkemuka di Asia Tenggara, yang masih bisa kita identifikasi lewat kekayaan khazanah manuskrip-manuskrip klasik yang ditulis dalam berbagai bahasa, baik Arab, Melayu maupun Bahasa Aceh.

Di Aceh, saat ini ada sejumlah PTKI baik yang berstatus negeri maupun swasta, untuk yang negeri sebut saja Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry yang dulunya adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, IAIN Malikussaleh Lhokseumawe, STAIN Gajah Puteh Takengon, dan STAIN Teungku Di Rundeng Meulaboh, dan sejumlah PTKI lainnya yang berstatus swasta di berbagai kabupaten/kota. Tentu ini menjadi potensi awal yang cukup untuk terus dikembangkan, sehingga menjadi pusat keilmuan yang berpengaruh di level Nasional maupun internasional.

Untuk menuju ke sana, tentu saja masih banyak tahapan persiapan, perubahan dan pembenahan yang perlu dilakukan. Semua ini akan terwujud dengan kerja keras dan kerja cerdas dari pihak-pihak terkait, sinergi yang terbangun antarlembaga, lembaga dengan para stakeholder, dalam sebuah semangat optimisme yang terbangun untuk terus melakukan up-grade yang dibutuhkan, sehingga dapat menyelaraskan diri dengan perubahan sosial yang ada, dan dapat bersaing secara berimbang dalam ranah kompetisi global. Semoga!

* Prof. Eka Srimulyani, S.Ag, MA, Ph.D., Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id