Penyelamatan Lingkungan Tetap Harus Diutamakan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Penyelamatan Lingkungan Tetap Harus Diutamakan

Penyelamatan Lingkungan Tetap Harus Diutamakan
Foto Penyelamatan Lingkungan Tetap Harus Diutamakan

Para pedagang pasir mengaku sulit memenuhi permintaan pasar untuk wilayah Banda Aceh dan sekitarnya. Bahkan, harga pasir yang sebelumnya berkisar Rp 125.000/kubik, kini sudah melonjak ke angka Rp 200.000/kubik. Ini merupakan efek dari kebjikan tegas Bupati Aceh Besar yang melarang pengambilan pasir dengan alat berat secara illegal di sekitar 20 lokasi sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Krueng Aceh. Sebab, pengerukan galian C dengan alat berat yang tak terkendali itu sudah terbukti sangat mempercepat kerusakan lingkungan.

Selama ini, galian C untuk kebutuhan sebagian besar Banda Aceh dan Aceh Besar diambil dari DAS Krueng Aceh mulai jembatan Lambaro sampai bendungan irigasi Seulimuem. Menyusul pelarangan itu,

pasir sungai untuk plaster dan cor yang dipasok ke Banda Aceh kini diambil dari ke Jantho. “Karena permintaan sangat tinggi, penambang di Jantho juga menaikkan harga,” kata seorang sopir truk pengangkut pasir.

Memang ada keluhan dan efek ekonomi akibat kebijakan penyelamatan lingkungan oleh Bupati Aceh Besar, Ir Mawardi Ali. Namun, sang bupati punya alasan yang sangt kuat. “Usaha galian C berupa pasir dan krikil di DAS Krueng Aceh yang menggunakan alat berat atau beko itu memang harus ditertibkan karena aktivitasnya ilegal dan sangat merusak lingkungan,” kata Mawardi.

Ia mencontohkan, dua jembatan beton sudah roboh, termasuk di Lamsie, Kecamatan Indrapuri saat banjir bandang tahun 2013 dan sampai kini belum bisa dibangun kembali. “Biaya membangun jembatan mencapai Rp 10 miliar lebih sementara hasil dari kutipan pajak/ritribusi galian C yang kita peroleh belum mencapai seharga biaya pembangunan jembatan yang telah roboh di Lamsie,” keluh Mawardi.

Larangan penambangan pasir itu hanya ditujukan kepada yang menggunakan alat berat. “Untuk masyarakat yang menambang secara tradisional silakan saja.”

Menyusul pelarangan galian C dengan alat berat secara illegal di DAS Krueng Aceh, Bupati Aceh Besar sudah menunjuk dua lokasi baru tempat pengambilan pasir dan batu kerikil yaitu di kawasan Jantho.

“Di Jantho, ada sungai besar yang mengalir ke DAS Krueng Aceh. Deposit pasir dan batu kerikilnya cukup banyak dan kawasannya boleh digunakan untuk penggalian pasir dan batu kerikil,” katanya.

Tentu untuk itu harus dilakukan secara resmi dan terkendali. Tak boleh dilakukan secara illegal lagi.

Aktivitas galian C, terutama yang dilakukan secara illegal, di mana-mana menimbulkan protes masyarakat. Efek yang ditimbulkan mulai dari kerusakan jalan desa, kebisingan, hingga ke kecelakaan. Lalu, di dalam sungai, air yang harusnya jernih menjadi keruh, ikan-ikan dan kerang yang biasanya menjadi pendapatan masyarakat juga menghilang. Dan, yang paling parah adalah tebing-tebing sungai banyak yang rusak, termasuk jembatan.

Bahkan, kalangan aktivis lingkungan juga mengatakan akibat galian C liar itu, intrusi air laut ke sungai semakin meningkat. Ini juga bisa berdampak pada kualitas air baku bagi perusahaan daerah air minum di Banda Aceh dan Aceh Besar. Oleh sebab itulah, kita ingin menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan tetap harus menjadi prioritas! (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id