Tarim, Kota Berakidah Aswaja | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tarim, Kota Berakidah Aswaja

Foto Tarim, Kota Berakidah Aswaja

OLEH EZI AZWAR ANZARUDDIN, Ketua Informasi dan Komunikasi PPI-H dan Sekretaris FLP-H, alumnus Ummul Ayman Samalanga asal Pidie, melaporkan dari Tarim, Yaman

INI tahun keempat saya tinggal di Saba’, negeri tempat berdirinya kerajaan yang dipimpin seorang ratu jelita bernama Balqis. Tepat di kota kecil bernama Tarim, saya tinggal untuk menimba ilmu agama. Kota yang dinobatkan oleh Unesco pada tahun 2011 sebagai pusat peradaban budaya Islam ini sudah menjadi bagian dalam hidup saya.

Lama tak pulang ke kampung halaman bukan berarti saya sudah lupa dengan tradisi dan khas daerah. Ketika ada waktu luang, kami yang berasal dari Aceh sering mengadakan acara yang khas Tanah Rencong. Misalnya, memperingati musibah tsunami, menampilkan tari saman dalam berbagai acara, atau memperingati maulid Nabi Muhammad. Pendeknya, banyak kegiatan lainnya yang kami laksanakan untuk memperlihatkan potensi dan kearifan daerah kita yang dijuluki Seuramoe Mekkah.

Saya belajar di sebuah universitas bernama Al-Ahgaff. Sebuah universitas yang berasaskan akidah Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) di bawah asuhan Abuya Prof Abdullah bin Muhammad Baharun. Di universitas ini saya sedang mengambil program S1 di Fakultas Syar’iah wal Qanun. Saat ini sedang duduk di tingkat empat (semester delapan).

Universitas Al-Ahgaff yang didirikan tahun 1994 berpusat di Kota Mukalla, ibu kota Provinsi Hadhramaut. Hanya saja Fakultas Syari’ah wal Qanun didirikan di Kota Tarim Al-Ghanna’, karena jurusan syariah dan qanun sangat cocok dengan kota yang sangat islami ini.

Selain Fakultas Syarai’ah wal Qanun, di Tarim juga terdapat banyak lembaga pendidikanIslam lainnya, seperti Ribat Tarim yang diasuh Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri, Darul Mustafa diasuh oleh Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh, Darul Ghuraba’ yang diasuh Habib Abu Bakar Al-Adani, dan banyak lembaga pendidikanIslam lainnya yang berasaskan akidah Ahlussunnah wal jama’ah.

Di semua lembaga Islam yang ada di Tarim terdapat pelajar yang berasal dari Indonesia. Jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al-Ahgaff saat ini tersisa 207 orang, sebagaimana data yang saya dapat dari Asosiasi Mahasiawa Indonesia (AMI) Al-Ahgaff. Angka ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa asal Indonesia sebelum adanya evakuasi gara-gara pergolakan politik di negeri ini.

Saat ini, Rektor Universitas Al-Ahgaff yang akrab disapa mahasiswa “Abuya” sedang berada di Indonesia. Tepatnya di Kota Gersik, Jawa Timur, untuk melanjutkan perkuliahan mahasiswa Al-Ahgaff yang sempat terputus karena evakuasi tahun lalu.

Putra Aceh yang sedang belajar di Tarim berjumlah 13 orang. Sebelas orang tercatat sebagai mahasiswa syari’ah di Universitas Al-Ahgaff, yaitu: Muhammad Aidil Adhaa, M Fadhil Syamsuddin, Ezi Azwar Anzaruddin, dan M Iqbal Abu Bakar, semuanya dari Pidie. Selain itu, Husni Mubarrak dari Pidie Jaya, Ansharuddin Sofyan, Yunalis Abdul Ghani, dan M Nazir (ketiganya dari Bireuen), M Saidi dan M Caesar Mu’arrif dari Aceh Utara,, serta Suarto dari Aceh Singkil. Dua orang lagi, yaitu Abdurrahman Al-’Athas dari Aceh Timur dan Fakhrurrahman dari Aceh Barat Daya tercatat sebagi pelajar di Darul Musthafa.

Saat konflik politik Yaman memuncak, banyak lembaga pendidikan di Yaman yang harus berhenti beraktivitas. Alhamdulillah, aktivitas penduduk Tarim sampai sekarang masih berjalan seperti biasa. Tidak seperti kebanyakan daerah Yaman lainnya, konflik politik negara belum menjamah Kota “Beribu Wali” ini (Tarim). Penduduk Kota Tarim hidup dalam keadaan damai dan tenteram.

Kegiatan sehari-hari ahlu Tarim dipenuhi dengan belajar, mengajar, dan beribadah kepada Allah. Jauh dari keterlibatan politik. Hidup warganya sangat sederhana, tapi terlihat sangat bahagia dan mulia, karena kota asal-muasalnya Wali Songo ini jauh dari kisruh dan intrik politik.

Dampak konflik politik Yaman bagi Kota Tarim hanya terlihat pada harga di pasaran. Sebagian harga barang di Tarim sedikit lebih mahal dibandingkan harga barang sebelum konflik terjadi. Bagi masyarakat Tarim sendiri ini bukanlah permasalahan besar. Meskipun harga barang naik, tapi mata uang negara (rial Yaman) masih stabil.

Sedangkan pelajar luar negeri seperti saya yang uangnya dikirim dari Indonesia, hal ini lebih terasa. Apalagi melihat mata uang kita (rupiah) yang sedang melemah.

Selain masalah perekonomian, Kota Tarim masih kondusif. Keadaannya masih terlihat seperti dulu, kota yang tenteram dan damai di bawah panji Ahlussunnah wal jama’ah.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id