Memperkenalkan Ludo di Kancah Internasional | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Memperkenalkan Ludo di Kancah Internasional

Memperkenalkan Ludo di Kancah Internasional
Foto Memperkenalkan Ludo di Kancah Internasional

OLEH MULKAN KAUTSAR SOFYAN, mahasiswa S1 Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Bangkok, Thailand

MENGIKUTI Agri-Relationship of ASEAN Universities Network di Thaksin University Thailand memberikan pengalaman yang sangat seru bagi saya. Kegiatan selama 15 hari ini diikuti oleh beberapa peserta dari Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Thailand selaku tuan rumah.

Kegiatan utama Agri-Relationship of ASEAN Universities Network adalah sebagai ajang study tour di beberapa fasilitas pertanian, peternakan, perikanan, dan industri di Provinsi Phattalung dan Songkhla. Namun, di sela-sela kegiatan peserta juga saling bertukar informasi mengenai budaya, pendidikan, bahkan wisata dari negara masing-masing.

Sebagai peserta asal Indonesia, saya lebih banyak menceritakan tentang Aceh. Hal ini karena apabila bercerita tentang Indonesia, maka sangat luas cakupannya. Seperti kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat majemuk dengan perbedaan suku, budaya, dan agama dibanding beberapa negara lainnya.

Selain itu Indonesia tidak hanya diwakili oleh Universitas Syiah Kuala, tetapi juga Universitas Muria Kudus dari Jawa Tengah. Dalam kegiatan ini saya banyak bercerita tentang tsunami dan keindahan Aceh, terutama Sabang yang terkenal dengan keindahan pantainya.

Banyak peserta asal Malaysia yang kagum mendengar tentang Aceh dan tidak sedikit pula dari mereka yang merencanakan untuk datang berwisata ke Aceh.

Tidak hanya melalui cerita, saya juga mengajarkan peserta dari Thailand untuk mempraktikkan tari rateb meuseukat yang saya ketahui. Ternyata tari tradisional Aceh itu sangat menarik perhatian mereka dikarenakan butuh kecepatan dan kekompakan untuk dapat menarikannya. Ini tentu sangat jauh berbeda dengan tari tradisional Thailand.

Di Thailand bagian selatan, tari yang terkenal yaitu Manora ditarikan oleh wanita dan lebih banyak menonjolkan keluwesan tangan, kaki, dan kepala.

Satu hal yang sangat menarik yaitu ketika saya mengajak peserta asal negara lain untuk ikut bermain ludo. Permainan yang kini dapat diunduh di Google Play Store ini ternyata tidak populer di Malaysia, Thailand, dan Jepang. Bahkan peserta asal Jawa Tengah juga tidak ada yang tahu permainan ini. Berbeda sekali dengan masyarakat Aceh yang sangat familiar dengan permainan ludo.

Dalam sejarahnya, ludo berasal dari permainan papan tradisional asal India yang bernama pachisi dan memiliki kemiripan dengan parchis, permainan dari Spanyol. Permainan ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru bahkan sampai ke Aceh.

Saking antusiasnya mahasiswa dari Malaysia dan Thailand bermain ludo, setiap hari saya selalu diajak bermain bersama. Bahkan kamar kami setiap malam dikunjungi oleh peserta asal Thailand yang ingin bermain ludo. Walaupun kini banyak permainan online dengan berbagai pilihan dapat diunduh secara bebas, namun ludo masih menjadi pilihan saya untuk mengisi waktu luang dan bahkan bisa mengakrabkan diri dengan peserta dari negara lain. Walaupun kegiatan ini telah selesai pada akhir juli lalu, namun ternyata banyak teman saya dari negara sahabat yang merindukan permainan ini bahkan ikut mengunduhnya.

Banyak cara untuk menjalin sebuah pertemanan bahkan dengan perbedaan negara, suku, budaya dan agama. Mungkin ini juga yang menyebabkan saya diberikan sebuah penghargaan sebagai top 10 friendly participate pada malam perpisahan.

Pendeknya, Agri-Relationship of ASEAN Universities Network telah memberikan saya pelajaran, tidak hanya terhadap tujuan utama untuk belajar mengenai kemajuan Thailand dalam bidang pertanian, peternakan, dan perikanan, tapi juga pelajaran hidup.    (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id