Ramahnya Orang Jerman terhadap Pendatang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ramahnya Orang Jerman terhadap Pendatang

Ramahnya Orang Jerman terhadap Pendatang
Foto Ramahnya Orang Jerman terhadap Pendatang

OLEH TIARA FATIMAH, Wartawati Harian Serambi Indonesia, melaporkan dari Munster, Jerman

 Morgan, danke schön, ciao, halo, viel glück!

Sejak awal bulan September lalu, kuping saya akrab dengan kata-kata tersebut. Awalnya terasa aneh karena biasanya ada yang mengucapkan assalamualaikum, tapi kini berganti gutten morgan.

Gutten morgan dalam bahasa Jerman berarti selamat pagi. Jadi, setiap pagi, mulai dari rekan kerja hingga sopir bus akan mengucapkan kata tersebut untuk menyapa lawan bicaranya.

Hingga November 2017 mendatang, saya menetap di kota kecil di Westfalen bagian utara (Nordrhein-Westfalen) bernama Munster. Mungkin namanya tidak sepopuler Berlin, Hamburg, ataupun Leipzig. Namun, kota ini didiami 48.500 pelajar dari seluruh dunia.

Bukan tanpa alasan saya terbang dengan total penerbangan hampir 22 jam, berganti pesawat dua kali, lalu menunggu selama dua jam untuk kereta keberangkatan ke Munster.

Mewakili Harian Serambi Indonesia, saya merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia yang lulus mendapatkan fellowship dari IFA, program pertukaran antarbudaya dan penguatan jaringan antara Jerman dan dunia Islam sebagai mitra Kementerian Luar Negeri Federal.

Program ini memberi kesempatan belajar lewat magang bagi profesional muda dan sukarelawan dari Asia, negara-negara Islam, dan Jerman. Saya pun menjalani pelatihan multimedia selama tiga bulan di Bennohaus.

Bürgerhaus Bennohaus adalah sebuah institusi terbuka untuk semua warga negara di Eropa. Bennohaus bergerak di bidang media, budaya, dan pendidikan.

Saya berkesempatan belajar tentang jurnalistik multimedia di divisi media. Selama tiga bulan, para intern (peserta magang) diberi kesempatan untuk berbaur dengan tim, mengerjakan project, belajar menulis artikel, dan konten kreatif untuk platform online,  membuat video hingga terjun langsung dalam proses pengeditan.

Untuk memenuhi semua timetable  tersebut, pastinya saya harus bisa cepat menyesuaikan diri. Beradaptasi dengan lingkungan baru tidaklah mudah. Jika biasanya bisa tidur siang nyenyak dengan suhu di atas 25 derajat Celcius, kini saya harus menggigil di halte bus pulang dengan angin yang menusuk pada suhu 13 derajat Celcius. Jadilah, saya langganan masuk angin.

Selama ini, saya hanya mengetahui Jerman dari bacaan sejarah dan salinan film seperti karya Quentin Tarantino.

Kerap digambarkan, orang-orang di negara ini kaku, kasar, senang minum bir, gemar merokok, dan tidak ramah. Tapi faktanya? Tentu tidak semuanya benar. Orang Jerman sangatlah ramah bahkan lebih ramah dari yang saya bayangkan. Jika berpapasan, baik kenal ataupun tidak, mereka tetap saling menyapa, bahkan kepada yang bukan orang Jerman sekalipun.

Jika Anda merasa kesusahan atau terlihat kurang sehat, mereka akan bertanya dan menawarkan bantuan.

Suatu kali saat di kamar mandi sebuah kafe di dekat kantor, saya mengalami morning sickness. Hampir 15 menit di wastafel, saya mual tiada tara.

Lalu, ada seorang pengunjung yang menghampiri dan menawarkan bantuan. Dia menanyakan apakah saya butuh teh hangat, maka dia akan membantu memesankan. Dengan bahasa Jerman ala kadar, saya menolak halus dan mengatakan kalau saya akan baik-baik saja. Begitulah tipikal orang Jerman yang kerap menolong dan sangat peduli.

Meskipun kerap dilanda homesick, tapi tinggal di kota dengan mayoritas penduduk lansia ini memberikan banyak pelajaran berharga. Ah, rindu rasanya mendengar ucapan Assalamualaikum seperti di Aceh atau bahkan pue haba. (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id