Hutan Konservasi Jadi Pemukiman | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Hutan Konservasi Jadi Pemukiman

Hutan Konservasi Jadi Pemukiman
Foto Hutan Konservasi Jadi Pemukiman

* Dirjen Kemen LHK Tinjau Lokasi

KUTACANE – Hutan konservasi seluas 30 hektare yang berada di kaki Gunung Leuser, Aceh Tenggara (Agara) telah berubah menjadi lahan pemukiman penduduk sejak puluhan tahun lalu. Direktur Jendral (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) Ir Wiratno MSc akan meninjau lokasi itu.

Wiratno mengatakan area yang masih masuk daftar hutan konservasi telah dikuasai masyarakat, terutama di Desa Alur Baning, Kecamatan Babul Rahmah, Agara. “Kami sudah lakukan identifikasi dan pemetaan terhadap hutan konservasi 30 hektare telah berubah jadi area pemukiman,” kata Wiratno.

Dia menyampaikan hal itu saat bersilaturrahmi dengan Muspida Plus, termasuk para kepala SKPK dan camat di aula Pendopo Bupati Agara, Sabtu (16/9). Wiratno menjelaskan kedatangan dirinya bersama rombongan untuk melihat secara langsung kondisi di lapangan, terutama masyarakat yang telah mendiami kawasan itu.

“Kami mau lihat, apakah bisa dikelola oleh masyarakat, karena hutan harus tetap dijaga, tetapi masyarakat juga mendapat manfaat secara berkelanjutan,” jelasnya. Dia mengakui konservasi Gunung Leuser harus sama-sama dilakukan, antara masyarakat, Pemkab Agara dan Gubernur Aceh.

Kedatangan Wiratno didampingi Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Misran dan bidang lainnya, Arif, Suyatno Sukandar yang membidangi kawasan Konservasi dari Jakarta, Etik, Satok dan Kepala BKSDA Aceh.

Dilansir sebelumnya, Persatuan Petani Kawasan Kaki Gunung Leuser (PPKK-GL) Aceh Tenggara meminta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memberi izin mengelola hutan, sekaligus memanfaatkannya, terutama yang telah ditanami petani.

Ketua PPKK-GL, Muslim kepada Serambi, Jumat (31/3/2017) mengatakan pemerintah pusat harus merubah kawasan Leuser dekat pemukiman penduduk sebagai zonasi pemanfaatan secara tradisional. Dikatakan, hal itu untuk mempermudah petani mengambil hasil dari pohon yang telah ditanam di kawasan tersebut.

“Hutan sebagai sumber kehidupan harus dikelola dengan baik dan seimbang, artinya masyarakat dapat menjaga dan mengelola hutan, tanpa merusak lingkungan,” katanya. Disebutkan, sejumlah petani telah menanam tanaman  keras di area hutan yang telah gundul akibat pembalakan liar yang juga masih marak sampai saat ini, akibat lemahnya pengawasan.

Muslim mencontohkan, tanaman buah yang ditanami petani juga sebagai kegiatan penghijauan, sekaligus memberi nilai tambah bagi masyarakat dalam rangka meningkatkan perekonomian keluarga. Menurut dia, konflik berkepanjangan antara petani kaki Gunung Leuser dengan pihak Balai Taman Nasional Gunung Leuser (BTNGL) harus diakhiri.

“Kami berharap, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat berubah zona inti jadi zona tradisional, sehingga petani dapat menanami dan mengelola hasil hutan dengan berimbang, “pinta Muslim. Dia mengungkapkan, perambahan hutan masih marak, bahkan seperti adanya pembiaran.

“Dengan adanya izin pemanfaatan hutan oleh masyarakat, maka petani tidak lagi berkonflik dengan petugas TNGL, bahkan ikut menjaga hutan lindung dari upaya perusakan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab,” harapnya.

Sekda Agara, Drs Gani Suhud MAP dalam pertemuan itu menegaskan drama yang telah terjadi selama ini, antara masyarakat dengan BBTNGL harus segera diakhiri. Dia menjelaskan pemerintah harus mengutamakan masyarakat yang telah bermukim di kawasan hutan konservasi, karena selain menjaga, juga ikut menghijaukan kembali area yang sudah gundul.

Dia menjelaskan wilayah Aceh Tenggara, sebagian besar masuk hutan konservasi dan hutan lindung dan sekitar 60.000 hektare dapat diolah masyarakat menjadi area pertanian atau perkebunan dan juga peternakan. “Pemerintah pusat harus menyelamatkan hutan lindung dan konservasi, tapi menyelamatkan petani harus lebih diutamakan,” jelasnya.

Dia mencontohkan, para petani yang sudah membuka lahan di kaki Gunung Leuser, seharusnya didukung, sehingga berbagai persoalan yang terjadi selama ini dapat dihentikan. “Mari kita selesaikan persoalan yang terjadi selama ini, sehingga tidak berlarut-larut,” katanya.(as) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id