Warga Kulee Blokir Jalan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Warga Kulee Blokir Jalan

Warga Kulee Blokir Jalan
Foto Warga Kulee Blokir Jalan

* Menuju Lokasi Pabrik Semen Indonesia Aceh

SIGLI – Warga Gampong Kulee, Kecamatan Batee, Pidie, Sabtu (16/9) pagi memblokir jalan menuju lokasi pembangunan pabrik Semen Indonesia Aceh (SIA), untuk menyuarakan tuntutan ganti rugi lahan seluas 250 hektare kepada PT Samana Citra Agung.

Amatan Serambi, pemblokiran jalan itu dilakukan dengan membentangkan kayu di ruas jalan depan Meunasah Gampong Kulee. Akibatnya, kendaraan operasional dan truk pembawa material pembangunan pabrik, termasuk kendaraan warga tidak bisa melintas. Sehingga harus memutar mengambil jalan lain.

Tokoh masyarakat setempat yang juga mantan Keuchik Kulee, Muhammad Salabi (58), mengatakan bahwa aksi tersebut dilakukan karena sejumlah warga pemilik lahan di lokasi pembangunan pabrik semen, belum menerima rugi oleh PT Samana yang bertanggung jawab terhadap pembebasan lahan pabrik tersebut.

Muhamad Salabi mengungkapkan, status kepemilikan lahan dimaksud sebelumnya sudah pernah dibahas dalam rapat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh pada tahun 1996. Wakil Gubernur Aceh saat itu, Brigjen TNI (Purn) Zainuddin AG mengeluarkan kebijakan membagi lahan negara itu untuk petani Laweung seluas 312 hektare, Kulee 250 hektare, Pemkab Pidie 100 hektare, dan untuk PT Samana 1.000 hektare. Lahan 250 hektare untuk warga Kulee ini berada dalam lahan 1.000 hektare yang diberikan untuk PT Samana. Kare

“Karena itu, Wagub Aceh meminta PT Samana menyelesaikan ganti rugi terhadap lahan warga Kulee yang masuk dalam 1.000 hektare lahan PT Samana,” kata M Salabi.

Saat itu, PT Samana justru mengklaim semua lahan tersebut miliknya. Sementara lahan milik warga Kulee seluas 250 hektare yang telah diberikan kepada warga, tidak dikeluarkan dari kawasan yang dikuasai PT Samana. “Sebagian warga diberikan ganti rugi Rp 200 ribu hingga 500 ribu per orang. Tapi, ada sebagian warga yang tidak mengambil uang ganti rugi tersebut, karena dinilai terlalu murah,” ujarnya.

Kini, warga yang tidak menerima ganti rugi pada tahun 1996 itu pun menuntut lahan kebun seluas 250 hektare itu diganti rugi jika hendak diperuntukkan bagi pembangunan pabrik semen. “Ganti rugi lahan ini harus dituntaskan. Karena pabrik semen harus tetap berdiri tanpa menganiaya warga Kulee,” jelasnya.

Keuchik Kulee yagn menjabat saat ini, Mahdi, berharap Pemkab dan DPRK Pidie bertindak cepat untuk menyelesaikan permasalahan lahan warga seluas 250 hektare yang belum diganti rugi ini. Sehingga persoalan lahan tersebut tidak berlarut-larut.

“Jika masalah lahan ini selesai, maka pemblokiran jalan tidak akan terjadi lagi di Kulee. Untuk itu, Pemkab bersama DPRK Pidie harus bisa menjembatani persoalan lahan antara warga Kulee dengan PT Samana,” tegas Mahdi, didampingi mantan Imum Mukim Tungkop, Tarmizi Ishak.

Staf Humas PT Semen Indonesia Aceh (SIA), Marjoni, Sabtu (16/9) mengatakan, aksi pemblokiran jalan oleh warga Kulee di lintasan menuju lokasi pabrik semen ini tidak sampai mengganggu aktivitas pembangunan pabrik semen yang saat ini sedang digenjot. “Sejauh ini belum adanya laporan dari pekerja pabrik semen jika aktivitas mereka terganggu,” ujarnya.

Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, melalui Waka Polres Pidie, Kompol Tirta Nur Alam SE, kemarin mengatakan, pihak Polres Pidie telah menyiapkan personelnya di Polsek Batee untuk mengantisipasi jika warga bertindak anarkis atau menghambat aktivitas pembangunan pabrik semen tersebut. “Saat ini kami masih mengedepankan tindakan persuasif, dengan memberi ruang kepada warga untuk menyampaikan tuntutan atas hak mereka,” kata Kompol Tirta.(naz) (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id