Narit Maja Dalam Kehidupan Orang Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Narit Maja Dalam Kehidupan Orang Aceh

Narit Maja Dalam Kehidupan Orang Aceh
Foto Narit Maja Dalam Kehidupan Orang Aceh

Narit maja adalah sebuah tradisi sastra lisan yang sudah lama hidup dan berkembang ditengah tengah masyarakat Aceh. Tradisi sastra lisan ini tentu saja mempunyai berbagai fungsi tertentu dalam masyarakat penuturnya sehingga tradisi ini terus ada dan dipergunakan.

Terdapat banyak nilai-nilai positif yang dapat diwariskan pada generasi penerus melalui narit maja. Narit maja mencakup semua aspek-aspek dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya dan kehidupan individu pada khususnya.

Narit maja dijadikan pedoman dalam kehidupan orang aceh setelah Alquran dan hadis. 1.Tuntunan dalam Beragama Masyrakat Aceh dikenal sebagai pemeluk agama islam yang taat. Terdapat banyak narit maja yang dapat dpergunakan sebagai tuntunan dalam beragama.

a. Umu geutanyo hanya siuro simalam, oleh sebabnyan taubat teu bakna (umur kita tidak ada sehari semalam, oleh sebab itu, bertaubatlah). Umur manusia itu pendek sekali (sehari semalam). Untuk itu dianjurkan kepada manusia, supaya selalu bertaubat kepada Tuhan (Allah).

b. La ila haillallah, kalimah taibah payongpagee. Sou nyang afai kalimah nyan, seulamat iman dalam hatee (La ila haillallah, kalimah taubah payung dan pagar.

Siapa yang dapat menghafal kalimat itu, selamat iman dalam hati). Seorang hamba Allah yang taat pada perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, akan diberikan balasan yang setimpal di hari kiamat sesuai dengan amal perbuatannya.

c. Abeh nyawong Tuhan tung, abeh areuta hukom pajoh (Habis nyawa, Tuhan yang ambil. Habis harta, hukum yang makan). Apapun yang kita lakukan, siapapun kita, dimanapun kita berada, pada akhirnya, kita akan dipanggil menghadap Tuhan.

d. Kullu nafsin geubeuet bak ulèe, nyan barô tathèe tatinggai dônya ketika mendengar Kullu nafsin dibacakan di kepala, sadarlah kita bahwa kita telah meninggalkan dunia. Narit maja di atas lazimnya digunakan untuk menyindir seseorang yang semasa hidupnya sangat pongah, sombong, sehingga bertingkah seakan-akan ia akan hidup selamanya, ia berkuasa di atas dunia ini. Narit maja ini juga diharapkan dapat menjadi pengingat akan datangnya kematian sehingga dapat mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi sakaratul maut.

e. ujob teumeu’a ria teukabo, di sinan nyang le ureueng binasa, ujub, ria, dan takabur, akan membawa manuasia pada kebinasaan. Narit maja ini menyiratkan bahwa ada kekuasaan lain yang mengatur kehidupan manusia, yaitu Allah. Karena itu, jangan sombong, jangan takabur karena hal itu akan membuat seseorang celaka.

f. Allah bri, Allah boh Allah yang beri, Allah yang ambil (buang)Narit maja ini digunakan untuk menyadarkan, mengingatkan seseorang bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Manusia hanya diwajibkan berusaha dan memasrahkan hasilnya hanya pada Allah semata. Hal ini senada dengan narit maja ”meunyo meugrak jaroe ngon gaki, na raseuki bak Allah Ta’ala”, kalau mau menggerakkan tangan an kaki, akan ada saja ezki dari Allah taala’.

2. Tuntunan dalam Memilih Pemimpin Dikarenakan banyak dan beratnya tugas seseorang pemimpin, masyarakat Aceh mempunyai panduan tersendiri dalam memilih pemimpin, seperti yang tersebut dalam narit maja berikut ini. a. Meuri-ri urot taikat beunteueng, meuri-ri ureueng tabôh keu raja (Hanya jenis akar tertentu yang dapat dipakai untuk mengikat, hanya orang-orang tertentu yang dapat diangkat sebagai raja.) Dalam memilih raja atau pemimpin harus hati-hati, benar-benar memperhatikan segala sesuatu yang berkaitan sang pemimpin tersebut, baik sifatnya, cerdas sebagai faktor genetis, beragama, beradat, dan beradab watak, sikap, perilaku, bahkan garis keturunannya pun harus diperhatikan juga.

Peribahasa ini berpesan untuk tidak gegabah dan asal-asalan dalam memilih seseorang untuk menjadi pemimpin. Narit maja ini menganjurkan untuk benar-benar mengenal seseorang yang akan dipilih menjadi pemimpin, bukan memilih pemimpin karena ada keuntunganb. Tayue jak di keue jitôh geuntôt, tayue jak di likôt jisipak tumèt, tayue jak bak teungoh jimeusingkèe, pane patôt jeuet keu pangulèe (disuruh jalan di depan, dia kentut, disuruh jalan dibelakng, dia akan menendang tumit, disuruh jalan di tengah dia akan menyikut, tidak pantas dipilih jadi pemimpin)

Peribahasa di atas menggambarkan sifat-sifat yang tidak pantas dimiliki oleh seorang pemimpin. Seseorang yang mempunyai karakter atau sifat seperti yang disebutkan dalam peribahasa tersebut tidak pantas untuk dipilih sebagai pemimpin. Dibutuhkan seseorang yang mempunyai karakter dan perilaku yang baik untuk menjadi seorang pemimpin.

c. Paléh raja jideungo haba baranggasoe (buruklah raja yang mempercayai ucapan sembarang orang) Seorang raja atau pemimpin diharapkan harus bijaksana dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan. Seorang pemimpin yang baik tidak akan mempercayai semua kabar yang didengarnya sebelum iamengetahui dengan pasti kejadian yang sebenarnya.

d. Kong titi sebab na meuneumat, kong adat meung ade raja(kuat jembatan karena pegangan, kuat adat karena keadilan seorang raja) Narit maja ini menekankan pentingnya memilih pemimpin yang adil. Keadilan seorang pemimpin akan menentukan kesejahteraan rakyat dan kemakmuran negeri. Hal ini senada dengan narit maja, Teupat peuraho kareuna keumudoe, makmu nangroe ade raja. (lurus perahu karena kemudi, makmur negeri karena raja adil).

e. Lampoh mupageue, umong mupitak Nanggroemeusyarak maseng na raja (Kebun berpagar, sawah berpetak, Negeri berhukum semua ada raja) Sebuah negeri, wilayah, bahkan kampong sekalipun harus mempunyai pemimpin yang diatur dengan peraturan dan hukum. Bila ini tidak diterapkan, kehidupan bermasyarakat menjadi kacau balau.

Pada akhirnya dapat disebut sebagai kehidupan yang tidak berbudaya bahkan dapat juga disebut sebagai sebuah bentuk kehidupan yang tidak beradab. (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id