Tak Mudah Melupakan Pesona Alexandria | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tak Mudah Melupakan Pesona Alexandria

Tak Mudah Melupakan Pesona Alexandria
Foto Tak Mudah Melupakan Pesona Alexandria

HAYATUL RAHMI, alumnus Ruhul Islam Anak Bangsa, Aceh Besar, sedang menempuh jenjang S1 di Al-Azhar, melaporkan dari Kairo, Mesir

BISA berkunjung ke Alexandria merupakan sebuah kesempatan yang tidak mungkin saya lewatkan. Selain masih liburan musim panas, rasa penasaran saya terhadap kota tua ini belum tuntas sebelum saya menginjakkan kaki di sana.

Ya, beberapa hari lalu saya dan dua teman memutuskan berangkat dengan kereta ekonomi atau kereta kelas kambing. Ongkosnya hanya 6 pound atau kisaran 4.500 rupiah (bagi mahasiswa malah dapat setengah harga).

Perjalanan kami tempuh dalam waktu 3,5 jam, karena di beberapa stasiun kecil kereta harus singgah untuk mengangkut penumpang tambahan. Sistemnya pun masih manual, yaitu tanpa monitor yang menunjukkan nomor atau arah tujuan kereta serta tidak adanya imbauan dari pihak stasiun. Maka, mau tidak mau, kami harus lebih jeli. Berbeda dengan bus atau tremco seperti: L300 yang kenyamananya lebih terjamin. Harga tiketnya bisa mencapai 45 pound/orang dengan waktu tempuh dua sampai tiga jam.

Namun, kelelahan kami terbayar ketika mata Asia kami tersihir oleh pesona bangunannya yang mengangkasa bergaya arsitektur Romawi (Eropa) sekaligus penataan kota yang serbasimetris. Ini dipengaruhi oleh pendirinya yang membangun Alexandria 300 tahun Sebelum Masehi. Saya seakan sedang menyisir bangunan Yunani kuno dengan ukiran patung atau pahatan kecil yang begitu mendetail, ditambah lagi kehadiran taksi nyentrik berwarna kuning-hitam.

Belum puas dengan daratannya, kami bergegas ke bibir pantai yang konon merupakan lintas paling sibuk Afrika-Eropa. Memang sampai sekarang Alexandria adalah pelabuhan penting di Mesir. Anehnya, masyarakat sekitar tidak satu pun yang terlihat. Ternyata, mereka berekreasi ke pantai mulai sore sampai malam hari. Bukan pagi atau siang hari seperti kebiasaan kita.

Di sepanjang jalan persis seberang pantai berjejer restoran dengan menu khas Mesir dan kemudian terdapat hotel di lantai atasnya. Hal ini tentu untuk menarik bagi para pelancong yang memang setiap tahun bertambah jumlahnya.

Keesokan harinya, kami berziarah ke beberapa makam ulama, yaitu Abul Abbas Al-Mursi dan Imam Bushiri. Lalu berlanjut ke Benteng Qaitbay yang bisa dicapai dengan berjalan kaki. Di sini saya dibuat kagum oleh keperkasaan tekstur dan lorong nan apik serta beberapa meriam di halaman depan yang mengingatkan bahwa pernah terjadi pertempuran hebat antarsuku di sini. Tinggi meriam tersebut kurang lebih 20 meter, membuat bergidik siapa pun yang melihat. Masya Allah.

Selanjutnya, kami menyambangi perpustakaan Alexandria (tertua di dunia). Masuk dengan tiket seharga 3 pound sambil memperlihatkan kartu tanda mahasiswa. Lagi-lagi desain ruangan, hamparan buku, dan alat cetak kuno yang dipajang di tengah ruangan menyita perhatian saya. Di sini memang tidak diperbolehkan meminjam, tapi disediakan alat fotokopi jika sekiranya membutuhkan resensi. Adapun di lantai dasar terdapat museum dan pameran lukisan karya anak seumuran 8-17 tahun.

Berangkat dari sana, kami pun menuju Montazah Palace menggunakan moda transportasi lokal. Di sini, mata kami dimanjakan oleh hamparan hijau seluas 61 hektare lengkap dengan pohon kurma. Kita tak perlu khawatir tersesat di sini, sebab pamflet yang berisi peta tersedia di dekat gerbang masuk. Inti dari taman ini adalah istana megah yang dibangun oleh Khalifah Abbas II, konon sebagai tempat persitirahatannya dan keluarga.

Setelah berpetualang selama dua hari, saya tidak yakin rasa penasaran ini hilang karena begitu banyak pesona di sini dan belum semua saya kunjungi dan nikmati. Sungguh tak muda melupakan Alexandria. Suatu saat saya ingin ke sini lagi. Ayo ke Alexandria! (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id