Membumikan Statistik | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Membumikan Statistik

Membumikan Statistik
Foto Membumikan Statistik

Oleh Tasdik Ilhamudin

BAGI orang awam, barangkali statistik dilihat sebagai sesuatu yang asing, sesuatu yang unik, atau sesuatu yang keren. Bagi kalangan mahasiswa, bisa jadi statistik adalah mata kuliah yang dibenci dan dijauhi, kecuali segelintir rekan ‘aneh’ mereka yang justru menyukainya. Sementara dalam ranah penelitian dan pembangunan, statistik merupakan sesuatu yang diagungkan. Akan tetapi, di sisi sebaliknya, statistik justru digunakan untuk sesuatu yang kurang baik, membenarkan pendapat atau pandangan sendiri atau bahkan menjatuhkan lawan.

Jika kita bicara statistik, mungkin banyak lawan bicara yang bertanya; apa itu? Tetapi jika kita katakan data, maka orang lebih banyak yang tahu. Bahkan orang yang tidak tahu data pun, secara tidak sadar telah menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang ibu rumah tangga, misalnya, tahu persis berapa kali ia perlu membuat teh hangat untuk suami dan keluarganya per hari dan per minggu. Ia juga tahu berapa gram gula yang dibutuhkan untuk membuatnya dan berapa gram atau bungkus teh celup yang dikonsumsinya.

Demikian pula seorang buruh serabutan yang perokok, misalnya, ia tahu persis berapa batang rokok yang ia habiskan setiap hari. Mungkin ia juga tahu mayoritas jenis atau merk rokok yang diisapnya, bahkan rokok gratis yang biasa ia konsumsi. Seorang anak kecil pun tahu berapa uang jajan yang biasa ia terima dari ibu atau ayahnya.

Andaikan kita bertanya kepada ibu rumah tangga; Bagaimana data konsumsi keluarga Ibu? Atau, bertanya kepada buruh serabutan; Bagaimana statistik merokok Bapak? Atau, Nak, bagaimana statistik jajanmu?” Tentu, ketiganya mungkin hanya akan terbengong-bengong. Tidak mengerti atau tahu harus menjawab apa.

Sangat berguna
Apakah data ataupun statistik ketiga orang tersebut berguna? Tentu saja sangat berguna, baik bagi mereka sendiri maupun bagi orang lain, sekalipun mereka tidak menyadarinya. Seseorang ibu rumah tangga akan dapat merencanakan berapa gula dan teh yang mesti ia sediakan selama sebulan, sehingga ia pun dapat mengalokasikan berapa anggaran untuk kebutuhan itu dan kebutuhan lainnya. Bagaimana jika suatu waktu suaminya memberikan uang yang lebih sedikit? Mungkin dengan pintar ia akan mengurangi kadar gulanya, atau mengurangi airnya, atau kadar tehnya, ataupun kombinasi dari ketiganya.

Bagi peneliti atau mahasiswa misalnya, ia dapat meneliti kecenderungan masyarakat akibat berkurangnya alokasi anggaran yang digunakan untuk menyediakan minuman teh. Mereka dapat melakukan pendugaan awal atau sementara berdasar referensi atau penelitian terdahulu. Apakah masyarakat cenderung mengurangi volume atau frekuensi atau kualitas, ataupun menggantikannya dengan minuman lain yang lebih terjangkau, atau barangkali mereka menemukan fenomena baru dalam penelitian tersebut.

Beranjak ke hal yang lebih serius, kali ini kita membahas rokok. Menurut Kepala Bappeda Aceh, Azhari Hasan, rokok menjadi satu faktor penyebab terus meningkatnya angka kemiskinan di Aceh. “Karena tingkat konsumsi rokok pada masyarakat Aceh sangat besar, termasuk pada masyarakat yang penghasilan rendah,” katanya seusai acara talkshow bersama Kompas TV Aceh. (Serambi, 8/8/2017).

Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Wahyudin, yang menyebutkan bahwa di wilayah perkotaan dan pedesaan harga rokok kretek filter sama-sama menyumbang garis kemiskinan. “Rokok yang masuk di komponen garis kemiskinan makanan telah memberi andil 13,19% di kota, sedangkan di desa 14,28%,” ujarnya. (Republika, 9/8/2017).

Bahkan Wali Kota Banda Aceh telah menetapkan Qanun Kota Banda Aceh Nomor 5 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Dalam bab II (Kawasan Tanpa Rokok), Pasal 4 disebutkan bahwa (1) Kawasan Tanpa Rokok meliputi: perkantoran pemerintahan; perkantoran swasta; sarana pelayanan kesehatan; sarana pendidikan formal dan informal; arena permainan anak; tempat ibadah; tempat kerja yang tertutup; sarana olahraga yang sifatnya tertutup; tempat pengisian bahan bakar (SPBU); halte; angkutan umum; tempat umum yang tertutup lainnya.

Ayat (2) Kawasan Tanpa Rokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f dan huruf i merupakan kawasan yang bebas dari asap rokok hingga batas pagar terluar. Qanun ini telah diundangkan per 21 Januari 2016.

Alih-alih konsumsi merokok menurun, bahkan qanun tersebut pun masih banyak dilanggar atau diabaikan. Mungkinkah masyarakat perokok khususnya akan berusaha mengurangi konsumsi rokoknya jika informasi kerugian akibat merokok diterima dan dapat dipahami? Jawabnya sangat mungkin, dan peran data statistiklah yang dapat menjelaskannya. Tentu saja diseminasi atau pemaparan yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami menjadi faktor penting keberhasilan ini.

Misalkan seseorang dari kalangan bawah yang biasa menghabiskan satu setengah bungkus rokok setiap hari. Harga sebungkus rokok katakanlah Rp 16.000, maka setiap hari ia menghabiskan Rp 24.000. Dalam sebulan ia menghabiskan uang Rp 720.000. Bayangkan jika uangnya dialihkan untuk membeli daging atau susu misalnya, tentu gizi keluarganya lebih terjaga.

Apalagi jika uang rokok itu ia tabung, dalam setahun bisa terkumpul 8,64 juta rupiah dan digunakan untuk berqurban. Subhanallah, ia bisa mengikutsertakan 3-4 anggota keluarganya untuk berkurban. Tentu akan lebih bermanfaat bagi diri, keluarga, dan sesamanya.

Di sinilah peran semua pihak yang bertugas dan berminat pada statistik, bagaimana data statistik menjadi kunci utama dalam perikehidupan masyarakat. Bagaimana strategi dalam membumikan statistik agar masyarakat awam pun mengetahui, memahami, dan melek terhadap data, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan menjadi lebih baik.

Membohongi data
Berbohong dengan data dan membohongi data, keduanya mempunyai dua kata dasar yang sama, yakni bohong dan data. Apakah kedua kalimat tersebut bermakna berbeda?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online (https://kbbi.web.id/bohong), kata bohong bermakna tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya atau dusta. Bohong juga berarti bukan yang sebenarnya atau palsu. Berbohong bermakna menyatakan sesuatu yang tidak benar; berbuat bohong; berdusta. Sementara kata membohongi bermakna berbohong kepada; mendustai.

Berbohong dengan data, maka kalimat ini menyatakan sesuatu yang tidak benar dengan menggunakan atau menyertakan data. Biasanya hal itu dilakukan dengan menyertakan sebagian data atau fakta yang mendukung pernyataannya.

Membohongi data bisa berarti bahwa ia berbohong kepada data atau mendustai data. Data kok dibohongi, data kok didustai? Iya, karena data tidak diinformasikan, data tidak disampaikan, atau data tidak didiseminasikan secara menyeluruh dan apa adanya. Jika ada data sedemikian lengkap dan informative, tapi kita hanya mengambil sebagian yang mendukung tujuan kita, maka kita telah membohongi data tersebut.

Perhatikan ilustrasi berikut; Misalnya data kemiskinan di suatu daerah A secara nominal bertambah (pada 2015 sebanyak 23.150 orang menjadi 23.280 orang pada 2016). Namun dalam persentase justru menurun (dari 12,16% menjadi 11,98%), ini terjadi karena ada angka pembanding jumlah penduduk keseluruhan.

Kemiskinan di daerah A meningkat ratusan orang, atau ratusan orang menjadi miskin di daerah A. Sebaliknya ada pula yang menuliskan, kemiskinan di daerah A menurun. Apakah kedua pendapat itu salah? Ataukah benar? Jawabnya bisa salah dan juga bisa benar, tergantung dari sisi pandangan sebelah mana. Perilaku kurang baik semacam ini barangkali lazim terjadi saat perebutan panggung politik daerah maupun nasional.

Bagaimanakah agar penyampaian informasi atau data sesuai dengan keadaan sebenarnya? Tentu saja, data atau fakta tersebut disampaikan secara menyeluruh, tidak sebagian-sebagian yang hanya sesuai dengan tujuan pemberi informasi. Jika data atau fakta hanya diambil sebagian yang sesuai dengan tujuan atau keinginan pemberi informasi, maka bisa jadi ia telah berbohong dengan data atau membohongi data. Buku How to Lie with Statistics karya Darrell Huff dapat menjadi referensi mengenai hal ini.

Oleh karenanya tindakan berbohong dengan data ataupun membohongi data adalah perilaku yang tidak elok dan harus dihindari. Perilaku tersebut sudah selayaknya kita tinggalkan demi mencapai kebaikan dan kemajuan bersama. Menyambut Hari Statistik Nasional 2017 yang jatuh pada 26 September mendatang, marilah kita semua berusaha untuk jujur dan adil terhadap data.

Tasdik Ilhamudin, PNS di BPS Kota Subulussalam. Email: [email protected] (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id