Bila Bulan Bundar Benar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bila Bulan Bundar Benar

Foto Bila Bulan Bundar Benar

Karya Nazar Djeumpa

NYAKNI hanya mematung. Menopang tubuhnya dengan menggenggam erat langkan berkisi padamulut tangga depan rumah panggung itu. Matanya sembab, ia tahan airmata agar tiada yang tercucur. Mengatup erat kedua belah bibirnya agar tak berisak. Tubuh kurus tergetar menahan sesak yang mengamuk dari rongga dadanya. Sekuatnya ia simpan raung pilu. “Tiada boleh lagi. Tiada boleh lagi mengumbar air mata.” Suara hatinya mengiang.

Bulan lima belas tersempal, hilang timbul di antara keriut julangan atang-batang bambu serumpun besar, seberang depan pekarangan. Kedua mata elah berbulir itu menatap lekat ke arah pinto roet. Ayah dari sepasang tangkai hatinya kini di sana, tapi dia sendiri, hanya terpakumenunduk.

Bahu Nyakni terguncang. Sayupsayup isaknya mengalun perlahan. Hatinya mengutuk lelaki itu. Bukan karena murka, namun kutuk sebab nestapa. Karena Manyak tidak juga membawa pulang serta sepasang buah hati mereka. “Mengapa hanya dirimu seorang, Cutbang, yang selalu datang saweu Dinda? Di mana sepasang anak kita?” Ujar Nyakni lirih di antara pecahan tangis. uruh sudah harapan kala purnama lalu. Berharap purnama bulan ini kedua buah hatinya ikut serta.

Ternyata tidak. Manyak masih pulang sendiri. Namun, asa tidak boleh pernah terpasung. Selama bulan penuh masih akan tiba, selama itu pula harapan masih ada. Nyakni menarik nafas dalam-dalam. Mengusir lara yang sekian kejap lalu meraungraung. Bulan sepiring sudah meninggi. Tiada tampak lagi. Telah merangkak ke atas atap. Nyakni menutup pintu. Gegas menuju buaian. Menyusui bayi itu, buah cintanya dengan Toke Kaoy, sebelum tangis laparnya membangunkan Sodah, yang tergeletak pulas di bawah ayunan.

***

Malam jahanam itu. Awan berarak mengaburkan separuh purnama. Nyakni menutup pintu rumoh santeut, yang digunakan sebagai dapur. Menuangkan sejinjing timba air ke dalam guci untuk cuci muka esok agi. Lalu bersegera menuju meja di sudut. Meletakkan secawan air hangat. Manyak hendak makan. Sodah bergegas menuruni tangga yang menghubungkan dengan rumah panggung, “Ramai orang di depan, menuju kemari.” Ujar Sodah ketakutan.

Belum sempat Manyak dan Nyakni berpaling, beberapa pria telah memaksa masuk. Menyeret Manyak keluar. Sodah dan Nyakni tiadamampu menahan. Beberapa yang lain menurunkan sepasang anak mereka melalui tangga depan. “Mengapa membawa anak-anak itu malam-malam begini?” Jerit Sodah. “Sekalian kami ajar, agar tiada yang mendendam.” Ujar salah satu dari pendobrak. Kawanan itu menerobos semak rumpun bambu membawa ketiga buruannya, menuju persawahankerontang.

Hingga hilang entah ke mana ditelan keremangan malam.Nyakni meraung sekerasnya. Namun tiada warga yang berdatangan.Entah mereka tidak mengetahui,ataupun tidak berani mencampuri.Apalagi di musim pungo seperti ini. Setiap pembantah merupakan musuh.Patut untuk dibungkam. ebih baik agi warga berdiam saja di rumah.

Sien lahien lahee, hai adoe sien lahien lahee.” Ujar Manyak tadipetang mengutip syair para pemain seudati. “Apa artinya, Cutbang?” Sergah Nyakni. “Kalau seorang abang terbawa arus sungai yang deras, sang adik tidak bijak jika ikut terjun untuk menyelamatkan. Karena keduanya akan mati tergulung.” Ujar Manyak tersenyum menamsilkan prahara musim pungo sekarang, bersebab gaung sorak-sorai kebebasan dari eberang lautan.

***

Petang itu, sekelompok orang menyambangi rumah Nyakni. Termasuk tetua kampung. Beberapa pria menjinjing banyak bawaan dalam nampan terbalut selempang kuning. Nyakni dilamar. Tepat pada hari jatuh iddah. yakni hanya terisak. Tiada tempat berkeluh-kesah. Dalam huruhara tiga bulan lalu, seluruh karoeng dan walinya telah mati dan sebagian yang tersisa kini pergi, entah ke mana. Besok akan ijab kabul. Tanpa wali nikah, atanya sah jika kadi yang menangani.

Yang melamar Nyak Ni adalah oke Kaoy, juragan dari kampungseberang bukit. Setelah huru-hara tiga purnama lalu, usahanya berkembang pesat. auh berbeda dengan masa sebelum musim pungo itu. Sebelumnya Kaoy hanya pria morat-marit yang tidak dikenal selain di kampungnya.

Namun ini, ia pesohor. Telah kaya. Dengan kebunpinang melebihi sepandangan mata. Belum lagi kebun pisang juga tanah sawah. Dan Nyakni, kini dikawini sbagai bini ketiganya. “Lumrah saja lelaki berbini sampai empat. Selama dia adil dan mampu. Apalagi jika hendak menolong rangoranglemah. Sungguh mulia,” kata sang kadi yang ikut dalam rombongan pelamar kala memberi sepatah dua kata nasehat untuk Nyakni kala meminang.Sedari lepas rombongan pulang sampai malam menjelang, Nyakni hanya duduk bersimpuh. Menangis saja. Sodah menuntun Nyakni ke kamar. Sodah dapat memahami betapa batin tuannya itu menderita.

Sodah bertekad, untuk tidak akan meninggalkannya, seperti ibunya yang melayani orangtua Nyakni. Bukan demi mengharap imbalan seperempat petak tanah sawah lagi di ujung kampung seperti yang kini diwarisi dari ibunya, sebagai imbalan elayani orangtua Nyakni. Bukan semata sebab tu.Nyakni terbaring dengan sesekali masih tersedu. Sodah duduk menyandarkan kepala pada dipan. Mencoba menghibur.

Mengajaknya berbicara. Sodah hendak berkisah perihal Dekgam yang akan mengawininya. Tadi petang kala mencuci di sungai, Dekgam diam-diam keluar dari elukar. Membisikinya dengan mesra. Ia dilamar. Sodah masih berbungabunga sampai sekarang.

Namunperihal tersebut urung iceritakannya. Ia menunggu waktu yang tepat untuk meminta restu Nyakni. Tapi tidak malam ini, tidak saat tuannya sedang bersusah hati.

***

Toke Kaoy tidak pulang-pulang lagi. Katanya pada orang-orang, Nyakni gila. Namun Sodah mengetahui karena Dekgam memberi tahu, sebenarnya Toke Kaoy naik gunung. Suatu kali diceritakan pada Nyakni perihal bisikan itu, “Usai perang pura-pura itu, kalau tidak mati ya akan ambah bini lagi.” Nyakni menjawab singkat. Pun begitu, hati Nyakni begitu enggelora. Lebih baik Toke Kaoy tidak pulang-pulang lagi. Selama purnama masih akan merangkak naik, selama itu pula dadanya akan membara oleh api cinta. Ia tetap menanti Manyak kembali. Dari bagian teratas tangga depan rumah ini Nyakni setia menanti saban purnama.

Tersenyum melihat Manyak yang mengendap-endap menepis duri-duri tajam perdu bambu. Untuk berdiri di into roet halaman rumah mereka. Itu sudah cukup. Nanti mereka sepuasnya bercengkerama dalam mimpi. Tetapi, kali ini Manyak harus menepati janji. Membawa pulang sepasang angkai hatinya. Untuk sekejap saja. Andai tidak, maka purnama depan, sebelum bulan epiring itu merangkak ke atas atap, Nyakni bertekad akan enyusul Manyak. Kemana pun. Termasuk menjumpai Tuhan untuk menanyai sesiapa yang tega menyeret-nyeret ketiga mereka. “Bayi itu sebaiknya titipkan saja pada bini pertama. Kedua juga boleh.” Ucap Nyakni pada Sodah bak erwasiat.

Perihal tidak perlu menanti Manyak lagi, itu yang tidak pernah isarankan oleh Sodah pada Nyakni. Seperti Dekgam utarakan, dia dan kawan-kawan dipaksa menggali lobang besar, mereka menanam berbelas jasad besar dan kecil di bukit seberang sungai. Dan Sodah pun yakin, apabila Nyakni ahu, Toke Kaoy tak sempat lagi gagah-gagahan memanggul bedil memberontak lagi. asti rencong bermata setengah jengkal yang saban waktu terselip di sela kisi-kisi langkan, bakal menghujam jantung, tepat pada malam pertama ia pulang sebagai suami kedua Nyakni. Sebab, dialah yang menggelimpangkan satu per satu orang-orang di bukit seberang sungai itu. Termasuk Manyak. ireuen, Februari 2016

* Nazar Djeumpa, kelahiran Bireuen 26 Februari 1981. Bekerja sebagai tukang jagal di rumah potong hewan di kota kelahirannya. (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id