Penghentian Operasional Bus Disesalkan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Penghentian Operasional Bus Disesalkan

Penghentian Operasional Bus Disesalkan
Foto Penghentian Operasional Bus Disesalkan

* Untuk Antar-Jemput Siswa di Tangse

SIGLI – Ketua Komisi C DPRK Pidie, Isa Alima, menyesalkan tindakan penarikan bus sekolah jurusan Blang Pandak-Tangse, Pidie, karena ada persoalan internal antara pengelola dan pemerintah setempat. “Seharusnya jika ada persoalan cepat diselesaikan. Bus sekolah harus tetap beroperasi mengangkut siswa, apa pun persoalan yang dihadapi. Kasihan anak sekolah di pedalaman,” ujar Isa Alima mengomentari bus sekolah di Tangse yang sudah dua bulan tak beroperasi.

Sebagaimana diketahui, puluhan anak sekolah Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Pidie, mengeluh lantaran bus sekolah antar-jemput sudah dua bulan tak beroperasi.

Akibatnya, mereka terpaksa menumpang RBT (ojek) ataupun kendaraan angkut sayuran. Namun, untuk naik RBT setiap hari jelas mereka tidak mampu. Sementara jika harus menumpang mobil pengangkut sayuran, jadwalnya tidak menentu. Itu sebabnya, dalam dua bulan terakhir, sebagian mereka kerap terlambat sampai di sekolah.

Camat Tangse Ir Jakfar kepada Serambi, Rabu (13/9), membenarkan adanya keluhan anak sekolah di Blang Pandak Tangse karena bus jurusan itu tak lagi beroperasi. Bus sekolah Nomor Polisi 7023 PB itu berkapasitas 27 penumpang dan dilengkapi Air Conditioner (AC). Bus tersebut merupakan bantuan PT Bank Aceh tahun 2016.

“Hadirnya bus tersebut selama ini sangat membantu transportasi bagi siswa dan masyarakat yang hidup jauh dari hiruk pikuk perkotaan, terutama bagi para orang tua. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk transportasi anak-anaknya bersekolah, karena bus itu memungut biaya Rp 2.000/siswa sekali jalan,” kata Jakfar

Akan tetapi, kata Jakfar, sejak bus sekolah itu dihentikan operasionalnya, siswa jadi kesulitan berangkat ke sekolah. “Jika pakai jasa RBT (ojek), ongkos dari Blang Pandak ke Tangse mencapai Rp 12.000/siswa, ditambah lagi uang jajan per anak Rp 10.000-Rp 15.000. Kalau ada anak tiga orang saja, kami harus mengeluarkan biaya per hari rata-rata Rp 80.000-Rp 100.000. Ini sangat memberatkan kami. Karena itu kami memohon kepada pemerintah supaya memperhatikan nasib kami yang hidup di pedalaman ini,” kata Muhammad, seorang warga Blang Pandak Tangse, Rabu (13/9). Jarak tempuh antara Gampong Blang Pandak dengan pusat kota Kecamatan Tangse sekira 12 Km.

Ketua Komisi C DPRK Pidie, Isa Alima menyarankan agar ke depan Pemkab lebih aktif menyelesaikan persoalan. Jangan sampai merugikan masyarakat lain, khususnya anak sekolah.

“Harusnya ada pergantian rute sementara ataupun dicari sopir cadangan. Jangan asal tarik bus sekolah lalu distop operasional. Ini sama saja seperti orang merajuk,” tukas Isa Alima.

Dia berharap ke depan adanya perhatian semua pihak untuk menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk dengan melibatkan aparatur gampong.

Bukan Kali Pertama
Penghentian beroperasi bus sekolah di Pidie bukan kali ini saja. Beberapa bulan lalu, operasional bus sekolah juga dihentikan berbulan-bulan untuk mengangkut siswa di Kecamatan Titeu, Pidie. Akibatnya, orangtua siswa mengeluh, karena mereka harus mengeluarkan biaya berkali lipat untuk memberangkatkan anaknya ke sekolah. Namun, setelah mendapat protes, termasuk melalui media ini, akhirnya Pemkab mengoperasikan kembali.

Kepala Dinas Perhubungan Ir Hasan Yahya yang ditanyai Serambi Rabu (13/9) mengatakan, pihaknya sudah komit untuk mengoperasionalkan kembali bus sekolah ke Tangse pada pekan depan. Beberapa persoalan internal, khususnya dengan sopir, akan dituntaskan. Namun, kata dia, sopirnya akan diganti dengan orang lain.(aya) (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id