Polres Selidiki Asal Senjata Penculik Warga Peudada | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Polres Selidiki Asal Senjata Penculik Warga Peudada

Polres Selidiki Asal Senjata Penculik Warga Peudada
Foto Polres Selidiki Asal Senjata Penculik Warga Peudada

BIREUEN – Terkait kasus penculikan Harmaili (30), warga Desa Bungo, Kecamatan Peudada, Bireuen, penyidik Kepolisian Resor (Polres) Bireuen kini fokus pada dua hal. Selain memburu dua lagi penculik yang buron, penyidik juga berupaya mencari asal-usul senjata api yang digunakan pelaku dalam aksi penculikan Harmaili beberapa waktu lalu.

Sejauh ini sudah tiga dari lima tersangka penculik diamankan, dua mobil, satu senjata api (senpi) jenis AK-47 bersama 55 butir peluru, dan satu magasin. “Tinggal dua tersangka lagi yang masih diburu dan asal-muasal senjata terus ditelusuri,” kata Kapolres Bireuen, AKBP Riza Yulianto SE SH kepada Serambi di ruang kerjanya kemarin.

Kapolres menargetkan dua tersangka lainnya harus segera tertangkap untuk mendapatkan informasi yang lebih konkret tentang asal-usul senpi tersebut.

Sejauh ini belum diketahui persis asal muasal senjata api, karena dua pelaku utama belum tertangkap.

Menurut pengakuan ketiga tersangka yang sudah ditangkap, senjata itu milik dua pelaku lainnya yang kini buron. Mereka yang buron itu adalah Baron, warga Desa Geulanggang Teungoh, Bireuen dan Ham yang bermukim di Aceh Timur.

Adapun senjata tersebut jenis AK-47 bersama 55 butir peluru dan satu magasinnya. “Senjata itu akan kita bawa ke laboratorium di Medan untuk diperiksa,” ujar Kapolres sembari menambahkan, senpi itu kemungkinan sisa konflik Aceh yang tak diserahkan pada fase decommissioning senjata GAM tahun 2005 kepada Aceh Monitoring Mission (AMM).

Pihaknya juga masih mendalami apakah senpi tersebut sudah pernah digunakan untuk melakukan kejahatan atau belum. “Perkiraan sementara senjata itu dari sisa konflik dan terus kita telusuri asalnya,” ujar Kapolres.

Ia tambahkan bahwa tim penyidik sedang merampungkan pemeriksaan terhadap tiga tersangka dan memeriksa sejumlah saksi di Mapolres Bireuen.

Walaupun dua tersangka belum tertangkap, tapi berkas perkara mereka terus dilengkapi. Pemeriksaan saksi juga terus dilanjutkan.

Menurut Kapolres, para tersangka dijerat dengan Pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan Pasal 328 juncto Pasal 368 KUHPidana dengan ancaman hukuman minimal 20 tahun penjara. (yus) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id