Rapa-i Tuha Lamreung di Bawah Pantulan Bulan Purnama TIM | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Rapa-i Tuha Lamreung di Bawah Pantulan Bulan Purnama TIM

  • Reporter:
  • Jumat, September 15, 2017
Rapa-i Tuha Lamreung di Bawah Pantulan Bulan Purnama TIM
Foto Rapa-i Tuha Lamreung di Bawah Pantulan Bulan Purnama TIM

BULAN bulat penuh. Malam purnama. Pantulan cahaya bulan bergerak-gerak di permukaan riak laut, yang impresif. Serombongan lelaki datang menenteng alat musik perkusi rapa-i. Lalu duduk membentuk kelompok-kelompok kecil. Seorang di antaranya duduk di tempat yang agak tinggi. Rapa-i pun ditabuh, serentak dalam tempo sedang.

Tak lama berselang, masuk seorang pria dengan ikat kepala merah. Tubuhnya bergerak mengikuti irama tabuhan, seraya membungkuk memberi salam. Bunyi rapa-i makin riuh, diselingi koor vokal bertenaga tapi tertata. Ada lagi pria lain, masuk menyodorkan sebelah rencong, senjata khas Aceh. Pria dengan ikat kepala merah menerimanya penuh khidmat.

Lalu, rencong itu, ditusuk-tusukkan ke tubuhnya sendiri. Mula-mula paha, lengan dan bagian-bagian tubuh lain. Ujung rencong yang tajam, sama sekali tak mampu mengonyak kulit sang penari.

Tabuhan rapa-i makin deras. Koor nyanyian makin meninggi. Si penari silih berganti memainkan alat-alat berbahaya lainnya, termasuk sebuah bor listrik yang sengaja dibawa serta. Mata bor yang runcing, berputar cepat, saat disambungkan ke panel listrik. Mula – mula mata bor diarahkan pada sebilah kayu kecil, untuk memperlihatkan bahwa bor tersebut berfungsi. Kayu kecil itu tembus oleh mata bor.

Si penari dengan ikat kepala merah, tak hanya berhenti pada kayu tadi. Ia lalu meletakkan mata bor yang berputar kencang itu, pada telapak tangan kirinya. Tak puas sampai di situ, si penari, lalu mengebor rongga mulutnya, pipi, hidung, dan kening.

Terdengar suara seorang perempuan, berteriak setengah histeris, di kursi penonton, saat menyaksikan adegan dramatis itu. Tapi si penari dengan ikat kepala merah, senyum saja. Mata bor seolah tumpul dan tak berarti apa-apa.

Adegan mendebarkan itu, merupakan bagian dari komposisi “rapa-i dabus” dimainkan Sanggar Rapa-i Tuha, Desa Lamreung, Aceh Besar, yang mengisi “Panggong Aceh” di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Rabu (6/9) malam.

Di awal pertunjukan, pria-pria Lamreung itu memainkan “Komposisi Petir Siang Bolong” dan diakhiri dengan “Komposisi Rapa-i Hajat.” Bulan purnama, dan pendaran cahayanya yang bergerak-gerak di riak laut ditampilkan melalui perangkat multimedia dengan layar lebar di bagian belakang panggung. Kekuatan multimedia itu juga mengisi “komposisi Rap-i Hajat” dengan tampilan video aneka budaya Aceh.

Kehadiran Sanggar Rapa-i Tuha di Jakarta merupakan bagian dari kegiatan apresiasi seni budaya Aceh yang disponsori Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh. Selain pertunjukan rapa-i, “Panggong Aceh” itu juga diisi dengan penampilan kelompok teater Ampon Yan Banda Aceh, meminkan komedi rumah tangga, berjudul “Tergoda Dara Muda.”

Rapa-i Tuha, adalah sanggar masyarakat yang didirikan dan dibina tokoh Aceh, Alm T. Nyak Arief, di Lamreung. Warisan leluhur Lamreung itu masih dijaga sampai sekarang. Syeh Wan, yang sudah berusia 60 tahun, menceritakan, dirinya mewarisi kemahiran memainkan rapa-i dari ayahnya, dan ayahnya mewarisi dari kakaknya. Syeh Wan, yang bernama lengkap, Marwan, lalu mewariskannya kepada anak-anaknya.

“Kami yang memainkan rapa-i ini adalah saudara dan kerabat semua. Dulu tiga kakek saya, adik beradik main dalam grup ini. Begitu juga kami sekarang, adalah saudara di grup rapa’i ini,” kata Syeh Wan yang tampak sangat bersemangat meski usia sudah berkepala enam. (fik) (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id