Megah dan Sejuknya Nurul Makmur Singkil | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Megah dan Sejuknya Nurul Makmur Singkil

Megah dan Sejuknya Nurul Makmur Singkil
Foto Megah dan Sejuknya Nurul Makmur Singkil

HAWA sejuk langsung merambati ke seluruh raga kita, tatkala menjejakkan kaki ke bagian dalam Masjid Agung Nurul Makmur, Kabupaten Aceh Singkil.

Setelah beribadah, ternyata duduk beberapa saat di dalam masjid bisa juga menjadi penawar letih akibat seharian bergelut pekerjaan, apalagi terpapar terik mentari.

Bangunan Masjid Agung Nurul Makmur yang keberadaan langit-langitnya didesain tinggi plus belasan kipas angin, agaknya sumber kesejukan itu. Apalagi beberapa jendela dibiarkan terbuka, sehingga sirkulasi udara bergerak leluasa.

Masjid Nurul Makmur, menjulang tinggi dengan satu kubah besar terbuat dari alumunium tersebut, terlihat menonjol diantara puluhan perkantoran yang berderet di pusat pemerintahan kabupaten berjuluk Bumi Syekh Abdurrauf itu.

Tiang-tiang bulat berdiameter sekira 50 centi meter yang menjadi penyangga bangunan, tampak mendominasi interior masjid. Lantainya terbuat dari marmar berkualitas tinggi. Mimbar berwarna coklat berbahan kayu ukiran menambah keindahan.

Jika memerhatikan sosok luar masjid, tampaklah rumah ibadah di kabupaten yang memiliki 99 pulau indah itu, dalam wujud masjid dominan warna kuning dengan kubah silvernya. Di bagian interior didominasi warna putih diselipi cat warna emas. Langit-langit kubah yang dicat biru tampak kontras dengan tambahan sapuan berupa awan berwarna putih. Ini menjadi pemanis dan melengkapi pesona lampu kristal yang menggantung di tengah-tengah bagian dalam kubah.

Di lantai II masjid dipasang pagar berbahan alumunium, yaitu sebagai pengaman sekaligus tempat pengaman bagi para jemaah.

Tidak ada tulisan kaligrafi yang lazimnya menghiasi dinding masjid. Ihwal itu tak lain lantaran pembangunan masjid belum tuntas, sehingga masih banyak yang harus dibenahi. “Pembangunanya belum selesai masih butuh banyak dana lagi,” ujar Ketua Badan Kemakmuran Masjid Nurul Makmur, H Syamsul Bahri, SH.

Sebenarnya bentuk masjid Nurul Makmur terbilang megah dibanding dengan masjid lain di daerah Singkil. “Namun harus diakui jika dibandingkan dengan masjid agung kabupaten/kota tetangga, masih kalah,” kata Syamsul Bahri.

Cahaya
Masjid Agung Nurul Makmur Singkil, diresmikan penggunaanya tahun 2004. Ditandai dengan pelaksanaan shalat jumat pertama dengan khatib Muadz Vohry, selaku Wakil Bupati Aceh Singkil kala itu.

Awalnya masjid yang terletak di jantung ibu kota kabupaten di Jalan Bahari, Pulau Sarok, Singkil, bernama An Nur yang berarti cahaya. Nama itu ditabalkan sang perintis pendirian masjid, H Makmur Syahputra, SH, semasa menjadi Bupati Aceh Singkil periode pertama, tahun 2000-2005.

Belakangan ketika Makmur Syahputra, kembali terpilih menjadi bupati untuk periode kedua tahun 2007-2011, nama masjid diganti menjadi Nurul Makmur. Nama tersebut bermakna cahaya kemakmuran.

Kini H Makmur Syahputra SH sudah tiada. Harapan almarhum, juga harapan masyarakat, bahwa melalui syiar keagamaan yang dilakukan di masjid agung kabupaten yang berkapasitas 3.000 jemaah ini, dapat meningkatkan fungsinya sebagai pusat kegiatan keagamaan level kabupaten.

Namun sejak didirikan 13 tahun lalu, hingga tulisan ini diturunkan, pembangunannya belum tuntas. Tak heran bila ada sudut-sudut yang mulai rusak akibat tak selesai pembangunannya.

“Jika dibandingan dengan kabupaten tetatangga seperti Aceh Selatan dan Aceh Tenggara, kondisi bangunan masjid agung kita masih kalah,” kata Syamsul, yang posisinya sebagai Ketua BKM berkahir 2018 mendatang.

Menurut dia, dibutuhkan paling tidak Rp30 miliar lagi untuk menyempurnakan pembangunan masjid. “Alhamdulillah Pak Wakil Bupati, memang sudah memerintahkan supaya mencari arsitek yang dapat menyempurnakan pembangunan masjid,” ujar Syamsul Bahri.

Satu hal yang membuat masjid ini tampil beda adalah lantai dasarnya sengaja dibangun tinggi dari tanah. Kolong masjid dimaksudkan sebagai antibanjir dan pada keadaan normal difungikan sebagai tempat perparkiran. Nah, mari menanti Masjid Agung Nurul Makmur memancrakan sinarnya. Baik sinar ketawqaan masyarakatnya maupun sinar keemasan keindahanya.(dede rosadi) (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id