Kasus Pembunuhan Anak Pejabat Abdya Disidangkan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kasus Pembunuhan Anak Pejabat Abdya Disidangkan

Kasus Pembunuhan Anak Pejabat Abdya Disidangkan
Foto Kasus Pembunuhan Anak Pejabat Abdya Disidangkan

TAPAKTUAN – Kasus pembunuhan dua anak dan ibu mertua pejabat Aceh Barat Dayah (Abdya), Selasa (12/9), disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tapaktuan, Aceh Selatan. Sidang dengan terdakwa Edi Syahputra (25), warga Desa Lemah Burbana, Kecamatan Bebesan, Aceh Tengah, itu dikawal ketat polisi.

Sidang perdana yang berlangsung sekitar pukul 11.30 hingga 12.00 WIB itu dipimpin Zulkarnain MH didampingi dua Hakim anggota, Armansyah Siregar MH, dan Muammar Maulis Kadafi MH, serta Panitera Bulkhaini SHI MH. Sementara terdakwa didampingi penasihat hukumnya, Muhammad Nasir SH.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Abdya, Firmansyah Siregar SH saat membacakan surat dakwaan menjelaskan kronologis kejadian pada Senin, 15 Mei 2017 tersebut.

Pada hari itu sekitar pukul 16.00 WIB, sebut JPU, terdakwa ke luar dari rumah kakaknya Hasratika di Desa Blangraja, Kecamatan Bahbahrot, dengan membawa sebilah pisau bergagang kayu berukuran kurang lebih 33 centimeter (cm) dan satu obeng tanpa gagang dengan tujuan ke rumah korban Hj Winarlis.

“Terdakwa merasa dendam dan sakit hati kepada korban Hj Winarlis yang tak merestui hubungan terdakwa dengan keponakannya,” ungkap JPU sembari menambahkan, saat itu terdakwa pergi ke Blangpidie menggunakan angkutan umum.

Setelah turun di Simpang Sinaloh, Kecamatan Blangpidie, terdakwa selanjutnya singgah di rumah temannya. “Sekitar pukul 20.30 WIB, terdakwa meninggalkan rumah temannya dan langsung menuju rumah Hj Winarlis dengan berjalan kaki,” beber Firmansyah.

Ketika sampai di rumah korban, lanjut JPU, terdakwa melihat di seputaran rumah Hj Winarlis masih banyak warga duduk di depan rumahnya masing-masing. Karena itu, terdakwa melintasi kawasan itu dan menuju ke Desa Geulumpang Payong, Kecamatan Blangpidie.

Sekitar pukul 22.00 WIB, terdakwa berjumpa dengan saksi Muhammad Azis alias Bos bin Ismail dan kemudian mereka duduk di depan Puskesmas Desa Meudang Ara. Tak lama kemudian, datang Saksi Muhammad Nasir menggunakan sepeda motor menghampiri terdakwa dan saksi Muhammad Azis.

“Lalu, terdakwa meminta tolong kepada Muhammad Nasir untuk mengantarnya ke Desa Seunaloh. Tapi, Nasir minta Muhammaf Azis saja yang mengantar terdakwa. Setelah menurunkan terdakwa di depan Masjid Agung sekitar pukul 22.30 WIB, Azis langsung meninggalkan tempat tersebut. Kemudian terdakwa kembali ke Rumah Hj Wirnalis dengan berjalan kaki,” ceritanya.

Setiba di rumah korban, lanjut Jaksa, terdakwa langsung masuk ke pekarangan melalui pagar samping. Melihat di dalam rumah Hj Winarlis masih hidup TV, terdakwa pun menuju ke belakang rumah menunggu korban tertidur. Pada pukul 23.30 WIB, terdakwa mulai mencongkel jendela belakang rumah korban menggunakan obeng. Tapi, jendela tersebut tidak bisa dibuka karena ada terali besi.

Singkat cerita, pembantaian itu dilakukan terdakwa karena aksinya kepergok Hj Winarlis yang pada saat itu langsung meneriaki maling. Terdakwa yang sudah dalam rumah mengejar Hj Winarlis sambil mengeluarkan pisau yang diselipkan di pinggangnya dan kemudian langsung menusuk ke dada dan perut Hj Winarlis hingga korban terjatuh ke lantai dengan posisi telentang.

“Setelah menusuk Hj Winarlis, terdakwa melihat Fachrul Razy terbangun dari tidur dan meneriaki maling. Lalu, terdakwa pun mengejar korban (Fachrul -red) dan menusuk tubuhnya beberapa kali,” ungkap Jaksa.

Kemudian, korban ketiga yaitu Habibi Askar juga terbangun dari tidur dan “berteriak mak oii.” Karena itu, terdakwa langsung menghampiri korban yang duduk setelah terbangun dari tidur dan kemudian menusuk tubuhnya empat kali menggunakan pisau yang sama. “Walau sadar yang dihadapinya anak kecil, tapi terdakwa tetap menusuk korban Habibi,” ungkap JPU.

Setelah melihat ketiga korban sudah tak bernyawa lagi, lanjut JPU, terdakwa menyelipkan kembali pisau yang digunakan untuk membunuh itu di pinggangnya. Selanjutnya, terdakwa membuka pintu samping rumah tersebut dan kemudian mengeluarkan sepeda motor Honda Supra X 125 warna hitam merah. Sesampai di luar rumah, terdakwa berusaha menghidupkan sepeda motor tersebut, namun tidak berhasil.

“Setelah ke kamar mandi, terdakwa mengunci pintu rumah tersebut dengan membawa serta kuncinya dan kemudian ia pulang ke rumah kakaknya di Blangraja, Kecamatan Babahrot,” pungkas Jaksa. Akibat perbuatannya, JPU menilai, terdakwa melanggar Pasal 76 huruf C juncto Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Terdakwa tak membantah semua dakwaan jaksa. Setelah mendengar pembacaan materi dakwaan, majelis hakim menutup sidang tersebut dan akan dilanjutkan kembali Selasa (26/9) mendatang dengan agenda mendengar keterangan saksi. (tz) (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id