UIN Gelar Konferensi Internasional Terkait Rohingya | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

UIN Gelar Konferensi Internasional Terkait Rohingya

UIN Gelar Konferensi Internasional Terkait Rohingya
Foto UIN Gelar Konferensi Internasional Terkait Rohingya

BANDA ACEH – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry bersama Youth Forum of Aceh dan Mediators Beyond Borders International menggelar konferensi internasional bertajuk ‘Peran Pemuda Aceh dalam Memahami dan Menanggulangi Krisis Kemanusiaan Minoritas Muslim Myanmar’ di Aula Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (12/9). Kegiatan tersebut diikuti oleh pemuda dan mahasiswa Aceh.

Kegiatan yang dibuka Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry, Prof Dr Syamsul Rizal MAg menghadirkan empat pembicara yaitu, Kyaw Win (London -UK/Yangon – Myanmar), Lilianne Fan (Yayasan Geutanjoe), Joanne Lauterjung Kelly (Karuna Center for Peacebuilding), Daniel Awigra (Program Manager Advokasi ASEAN HRWG), dan Shadia Marhaban (Mediators Beyond Borders International).

Syamsul Rizal dalam sambutannya menyampaikan, dalam menyelesaikan konflik di Myanmar terhadap muslim Rohingya tidak bisa dilakukan dengan emosional tapi harus diplomasi. Menyelesaikan masalah dengan emosional tidak akan selesai tanpa menyelesaikan dahulu sebabnya. “Saya berharap forum konferensi betul-betul melahirkan kesadaran dan membuahkan pikiran jernih,” katanya.

Salah satu pembicara, Kyaw Win dalam paparannya menyampaikan bahwa penyebab terjadinya konflik di Burma (Myanmar) lebih disebabkan oleh adanya kesalahan kebijakan dari pemimpin negara. Selama ini ada kebijakan yang sama dari setiap pemimpin negara terhadap kaum minoritas walaupun rezim kepemimpinannya berganti-ganti. Kebijakan ini juga disebabkan oleh pengaruh militer yang berkuasa.

“Persekusi puluhan tahun yang telah dialami oleh muslim minoritas di Myanmar tidak bisa berubah walaupun orangnya sudah mundur tapi kebijakannya tetap sama. Tidak hanya muslim yang diperkusi, tapi juga Kristen dan kaum Budha, bahkan telah lama mereka daripada muslim karena bukan suku dari mayoritas. Bedanya, pembunuhan Rohingya sangat sistematis,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh Shadia Marhaban.

Kyaw Win mengungkapkan ada berbagai strategi yang digunakan militer Myanmar dalam melakukan persekusi terhadap suku-suku yang ada di Myanmar. Pada 1963 ada strategi objektif di mana orang muslim tidak boleh menjadi militer, polisi, politisi, anggota parlemen, mempunyai pendidikan tinggi, dan tidak boleh menjadi pembisnis. Orang Rohingya hanya dianggap sebagai warga Burma hingga 1978.

Pemerintah Myanmar juga menciptakan sejarah baru dan membuat undang-undang tentang kewarganegaraan yang kontroversial di mana setiap orang yang ingin menjadi warga Burma harus membuktikan identitasnya dari tahun 1824. “Sejarah yang ditulis secara salah dengan menyatakan bahwa Rohingya adalah buruh migran yang dibawa oleh Inggris untuk diperkajakan di perkebunan. Itu sejarah yang diketahui oleh mayoritas sekarang,” ungkapnya.

Yang paling mengerikan adalah, tambahnya, militer Myanmar dengan sengaja memanaskan muslim di dunia untuk mendeklarasikan jihad ke Myanmar. Setelah itu umat muslim datang ke Myanmar, maka mereka akan mengatakan di negaranya sudah ada ISIS. “Ini menjadi kesempatan emas bagi mereka, karena mereka akan mendapat bantuan militer dari negara besar seperti Amrika, Inggris, dan Uni Eropa untuk menumpah ISIS,” pungkasnya.

Dia mengajak semua umat muslim agar tidak perlu melakukan jihad ke Myanmar. “Yang kita mau dari umat muslim dunia bukan ribut, tapi menerima murid-murid Rohingya di universitas-universitas Anda. Bantulah semampua Anda yang berguna untuk Anda dan semua. Karena kekerasan tidak bisa dibalas dengan kekeerasan,” pungkasnya.(mas) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id