Sejarah Kepurbakalaan Mirip Limbah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Sejarah Kepurbakalaan Mirip Limbah

  • Reporter:
  • Rabu, September 13, 2017
Sejarah Kepurbakalaan Mirip Limbah
Foto Sejarah Kepurbakalaan Mirip Limbah

Oleh Teuku Kemal Fasya

SAAT sedang berolahraga pada Senin pagi (11/9/2017) di Banda Aceh, saya terpaku melihat baliho besar di Simpang Lima, yang mengumumkan kegiatan Hari Purbakala Aceh yang dilaksanakan pada 13-16 September 2017.

Batin saya, wah paten kali kegiatan ini. Jarang-jarang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh memiliki ide menerobos hal-hal pakem. Lembaga pemerintah cenderung copy paste dengan kegiatan seremonial yang sudah pernah dibuat dari tahun ke tahun. Acara kebudayaan mirip patung polisi. Dilihat dengan ujung mata, lalu dilupakan.

Kita kerap duduk mengikuti pembukaan acara kebudayaan, sehingga membuat kaki kesemutan dan telinga berdengung mendengar pidato pejabat yang lebih panjang dibandingkan pertunjukan kesenian atau eksposisi kebudayaannya. Isinya kerap kali hanya memuja-muji pejabat satu dengan pajabat lain. Giliran pejabat lain akan memuji lagi pejabat yang memujinya. Jadilah kegiatan kosong melompong, tanpa nilai kultural. Betul-betul acara seremonial yang bisa bikin pusing dan perut mual.

Ini tidak. Acara ini bagi saya agak genuine. Kalau punya waktu senggang di Banda Aceh, saya akan senang mengapresiasi acara kebudayaan seperti ini yang jarang terekspos, yaitu melihat dimensi kepurbakalaan Aceh; sisi arkeologis yang akan menunjukkan kualitas antropologis masyarakat sebuah tempat.

Di mana-mana di negara maju, dimensi arkeologis menjadi hal yang dipelihara dan dipromosikan hingga setinggi-tingginya, kalau bisa hingga Sidratul Muntaha. Mata kegiatannya pun menarik. Ada Pameran Kepurbakalaan, FGD di Gampong Pande, Seminar Sejarah, Lomba Bercerita tingkat SMA, dan lain-lain. Pokoknya fun and quite smart.

Namun selaksa ingatan saya bertemu dengan pemberitaan yang baru-baru saja dirilis. Gampong Pande dan Gampong Jawa, Banda Aceh, dua kampung tua bekas kerajaan dan peradaban Aceh, akan dijadikan tempat untuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) (aceh.URI.co.id, 28/8/2017).

Cagar budaya
Sebenarnya, beberapa gampong yang berada di ujung muara Krueng Aceh itu seperti Gampong Keudah, Gampong Peulanggahan, Gampong Jawa, dan Gampong Pande adalah daerah yang sudah seharusnya dimasukkan dalam wilayah cagar budaya dan moratorium pembangunan. Bukan hanya karena keberadaan situs-situs purbakala ada di situ, termasuk sejarah animis-hinduisme sebelum Islam, tetapi juga makam-makam kerajaan dan ulama-ulama besar Aceh.

Bisa dikatakan daerah itu arsip hidup dan jejak-jejak arkeologis peradaban Aceh. Seperti dikatakan oleh antropolog Amerika Serikat, Clyde Kluckhohn, kebudayaan bukan saja bicara tentang cara berpikir, merasa, dan mempercayai (a way of thinking, feeling, and believing) atau sejumlah pola yang berhubungan dengan problem kekinian (a set of standardized orientations to recurrent problems), tapi kebudayaan juga memerhatikan endapan sejarah yang dimiliki sebuah masyarakat (a precipitate of history).

Yang dimaksudkan dengan endapan adalah kerak atau lekatan yang memang betul-betul mengendap: protein yang lama tersimpan di dalam tubuh kebudayaan yang harusnya diolah dengan benar agar menjadi energi kegemilangan di era sekarang. Kebudayaan yang sehat biasanya diikuti banyak instrumen. Di antaranya, suburnya pusat pengkajian dan apresiasi atas lorong sejarah dan archaea kebudayaan yang mereka miliki. Salah satu yang simpel, masyarakat baru dikatakan sehat secara kebudayaan jika menghargai museum, pusat kepurbakalaan, dan narasi sejarah.

Masih dekat ingatan ketika publik menjarah koin emas peninggalan kerajaan Aceh di Gampong Pande. Aksi penjarahan itu terjadi besar-besaran bak memburu harta Karun saudara sepupu Musa (news.okezone.com, 12/11/2013).

Mereka melakukan secara brutal. Masyarakat saat itu tak ubahnya organisme phithecantropus erectus yang hanya melihat sejengkal di atas perut dan delapan sentimeter di bawahnya. Dengan mulut menganga bagai Ogoh-ogoh yang taringnya bertitisan liur, mereka terlihat kegirangan ketika mendapatkan mata uang emas Kerajaan Aceh abad 15-16 itu. Itu bisa dijual dan dibelikan pelbagai kesenangan.

Hal itu persis dilakukan tentara koalisi AS dan sekutu. Setelah menjatuhkan pemerintahan Saddam Hussein, mereka mulai menjarah istana dan keping-keping kekayaan negara dari sisa peradaban Mesopotamia itu. Persis juga ISIS yang menghancurkan Allepo, Suriah, dan menjadikan kota tua tiga agama Ibrahim hilang tanpa peninggalan arsitektur yang mahal. Atau yang dilakukan masyarakat Mesir yang menjarah museum-museum di Kairo setelah Hosni Mobarak tumbang. Budaya menjarah menjadi bagian dari tren publik!

Menyelamatkan benda sejarah
Untung ada orang seperti H Harun Keuchik Leumiek yang tak ingin tambang arkeologis Aceh itu dijual murah dan dilebur menjadi perhiasan. Ia menebus keping koin yang didapatkan masyarakat dengan harga lebih tinggi yang bisa dibeli toko emas. Tujuannya bukan komersil, tapi menyelamatkan benda sejarah itu di museum pribadinya di Simpang Surabaya, Gampong Lamseupeung, Banda Aceh. Pertanyaannya, berapa orang yang bernyali seperti Harun Keuchik Leumiek yang mau mempertahankan harga diri bangsa Aceh?

Kini, perusahaan pengolahan limbah sedang melakukan tindakan barbarian baru, menjadikan kampung-kampung tua di Aceh itu sebagai tempat pembuangan limbah. Tentu bukan salah perusahaan. Semua ‘libido’ perusahaan adalah pencari untung. Yang salah tentu saja si pemberi kontrak dan tak lain pemerintah daerah.

Kini, kita bisa melihat bagaimana masa lalu menjadi tinja, yang harus ditumpuk dengan semua barang busuk dan kecoak. Jika demikian, untuk apa seminar dan Hari Kepurbakalaan itu? Di mana ingatan masa lalu itu mau disangkutkan? Mari kita rayakan “amnesia sejarah” sambil diam-diam kepincut dengan “kebudayaan pop” ala Raffi Ahmad dan Ayu Ting Ting!

* Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh (Unimal) dan Dewan Pakar Dewan Kesenian Aceh (DKA). Email: [email protected] (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id