Dewan Desak LCI Awasi Semen | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dewan Desak LCI Awasi Semen

Dewan Desak LCI Awasi Semen
Foto Dewan Desak LCI Awasi Semen

* Terkait Kelangkaan dan Kenaikan Harga

BANDA ACEH – Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar mendesak PT Lafarge Cement Indonesia (LCI) Lhoknga, sebagai produsen semen di Aceh untuk mengawasi distribusi semen di Aceh Besar. Hal itu terkait kelangkaan sekaligus kenaikan harga semen yang terjadi beberapa minggu terakhir.

Permintaan itu disampaikan Wakil Ketua DPRK Aceh Besar, Zulfikar SH saat melakukan sidak di pabrik semen tersebut, Senin (11/9) siang. Zulfikar yang datang bersama seorang stafnya disambut Stakeholder Relations Management PT LCI Aceh, Amiruddin Latief, di Kantor perusahaan itu.

Dalam diskusi tersebut, Zulfikar SH menyampaikan keresahan masyarakat terkait kelangkaan dan kenaikan harga semen. Dari Rp 54 ribu, katanya, semen LCI dalam beberapa minggu terakhir menyentuh angka Rp 60 ribu per sak. “Kondisi ini menyebabkan pembangunan terganggu. Anehnya lagi, kenapa setiap Juli hingga Desember semen selalu langka?”

Menanggapi sejumlah pertanyaan itu, Amiruddin Latief mewakili PT LCI Aceh mengatakan bahwa kenaikan harga semen di pasaran bukan wewenang pihaknya. “Harga semen dari pabrik ke distributor tidak ada kenaikan sama sekali. Hal ini sudah kami jelaskan ke Disperindag dan Polda Aceh beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Amiruddin mengaku, pada akhir Juli hingga pertengahan Agustus pihaknya melakukan pemeliharaan mesin utama, yaitu servis berkala. Menurutnya, semestinya servis itu dilakukan pada Juni, namun tertunda karena sparepart terlambat datang. “Servis berkala itu tidak menyebabkan semen langka, karena kami sudah cukupkan stok,” katanya, dan menyebut pada masa itu produksi semen yang biasanya 1.800 ton menurun jadi 1.400 ton per hari.

Selain itu, lanjutnya, permintaan semen pada Agustus lalu membeludak karena pembangunan di gampong-gampong serentak. “Kenapa proyek pemerintah yang seharusnya April sudah mulai, malah ramainya pada Juli dan Agustus? Kami gak bisa tingkatkan produksi lagi, sudah mentok 1.800 ton per hari,” jelasnya.

Pada bagian lain, Wakil Ketua DPRK Aceh Besar, Zulfikar SH menduga kelangkaan semen yang terjadi erat kaitannya dengan kelangkaan pasir. Bahkan, katanya, sejumlah produsen pasir di Aceh Besar berhenti operasi akibat kebijakan pemkab melarang galian C ilegal. Momen itu diduga dimanfaatkan oknum tertentu untuk menimbun semen dan ‘memainkan’ harganya.

“Bayangkan saja, saat ini harga satu truk pasir mencapai Rp 1,5 juta. Sebelumnya cuma Rp 700 ribu,” ujar Zulfikar. Dia mengatakan, masyarakat terpaksa membayar mahal untuk membeli pasir yang diangkut dari Krueng Daya, Lamno, Aceh Jaya itu. (fit) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id