Malam Diterangi Lampu Teplok, Tidur Berdesakan Bersama Anak dan Cucu | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Malam Diterangi Lampu Teplok, Tidur Berdesakan Bersama Anak dan Cucu

Malam Diterangi Lampu Teplok, Tidur Berdesakan Bersama Anak dan Cucu
Foto Malam Diterangi Lampu Teplok, Tidur Berdesakan Bersama Anak dan Cucu

* Melihat Potret Kemiskinan Muhidin dan Nek Mardhiah di Aceh Jaya

Muhidin (49) tampak lesu dengan wajah sedikit pucat. Ia baru menjalani operasi hernia di RSUD Teuku Umar. Saat ditemui Serambi, Jumat (8/9), lelaki ini ditemani istrinya Rusdini (42). “Mau tak mau kami harus menjalani hidup ini dengan kemampuan yang ada,” ujarnya.

Sejak menjalani operasi, Muhidin tidak bisa berbuat banyak karena masih harus melalui masa pemulihan. Kemiskinan dan kemelaratan hidup begitu terasa saat Serambi mengunjungi tempat tinggalnya di pedalaman Desa Ladang Baro, Kecamatan Panga, Aceh Jaya. Di desa itu terdapat dua unit rumah yang hampir roboh. Satu di antaranya milik Muhidin (49).

Rumah seluas sekitar 3×5 meter ini pada malam hari hanya diterangi lampu teplok. Di rumah yang sempit ini pula Muhidin tinggal bersama enam anggota keluarga. Yakni istrinya Rusdini (42) berserta anak mereka Rika Safitri (21), Ronika Saputra (18) dan Maulizar Ahmad (15) serta Rangga (26), menantunya dan Rizki Auliansyah (3), cucu Muhidin. Rumah tersebut beratap rumbia yang sebagiannya bocor hingga merembes air hujan.

Pemandangan ini bagi keluarga Muhidin sudah biasa. Menurut Muhidin kedua anaknya yakni Ronika Saputra sudah putus sekolah saat masih duduk di kelas II SMA, sedangkan Maulizar Ahmad yang bungsu masih melanjutkan sekolah SMP. Keseharian Muhidin bekerja sebagai buruh kasar. Namun ia berusaha tetap tersenyum di tengah himpitan dan kemelaratan hidup mereka.

“Kami berharap kepada pemerintah kiranya bisa membantu untuk membangun satu unit rumah, kami tak sanggup membangun sendiri,” tuturnya. Senasib dengan Muhidin, di Desa Ladang Baro juga ada janda Ainol Mardhiah (50) yang tinggal tidak jauh dari rumah Muhidin. Rumah itu terlihat sudah miring ditumpangi kayu dari arah belakang agar tidak ambruk. Bagian dinding rumah yang terbuat dari papan itu kini mulai lapuk akibat dimakan usia.

Nek Mardhiah sehari-hari bekerja sebagai petani di sawah. Ia hidup dari hasil panen. Sesekali ia mendapat kunjungan seorang anaknya yang sudah bekeluarga yang juga hidupnya miskin.

Keuchik Ladang Baro, Kecamatan Panga, Aceh Jaya Irfan kepada Serambi mengatakan sejauh ini pihaknya telah dua kali mengajukan permohonan bantuan rumah kepada Pemerintah Aceh Jaya. Namun sayangnya, nama mereka selalu hilang dalam prosesnya.

“Saat ini kita telah membuat proposal kembali untuk ketiga kalinya, semoga kedua warga kami itu bisa dikabulkan untuk mendapat bantuan rumah duafa,” ujar Irfan. Dia sebutkan dari 230 KK di Ladang Baro, Muhidin dan Nek Mardhiah masuk dalam keluarga miskin di desa itu.

“Mudah-mudahan pemerintah dapat mengabulkan permohonan ini. Oh ujeun bubong tireh lam ruhung binteh ditamong angen. (Saat hujan atap rumah bocoh dan dinding yang bolong ditembusin angin),” ujar Irfan yang ikut sedih memikirkan kondisi kedua warganya itu.(sa’dul bahri) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id