Menjadi Tamu Terhormat di India | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menjadi Tamu Terhormat di India

Foto Menjadi Tamu Terhormat di India

KAMALUDDIN, Mahasiswa Master Hubungan Internasional di Jawaharlal Nehru University, India, melaporkan dari New Delhi

KETIKA saya belajar di Pondok Arraudhatul Hasanah Medan, Sumatera Utara, teman-teman seangkatan saya sibuk dengan persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN. Sedangkan saya sibuk menghadiri berbagai pameran pendidikan tinggi luar negeri di Medan.

Setelah melihat sebuah pameran mengenai pendidikan tinggi di India, terus terang saya tertarik. Pertimbangan saya melanjutkan studi ke India, antara lain, karena perekonomian India makin membaik sejak perubahan kebijakan ekonomi dilakukan Perdana Menteri Naransimha Rao tahun 1992. Inilah awal ketertarikan saya untuk belajar ke India, ditambah dengan film-film aktor ganteng berinisial SRK yang saya gemari sejak SD.

Saya akhirnya kuliah S1 di Fakultas Ilmu Sosial Aligarh Muslim University India. Universitas ini merupakan universitas muslim tertua di India. Pendirinya Sir Sayed Ahmad Khan. Misinya untuk mengubah kehidupan muslim India dari keterbelakangan pendidikan agar menjadi pemimpin masa depan.

Di sisi lain, hubungan India-Indonesia bukanlah hubungan yang baru. Indonesia merdeka tahun 1945 dan India merdeka tahun 1947. Hubungan Soekarno dengan Pandit Jawaharlal Nehru sangatlah baik. Soekarno merupakan tamu kehormatan pertama yang diundang Perdana Menteri India Jawaharalal Nehru untuk menghadiri acara Republic Day yang jatuh tiap tahunnya pada 26 Januari. Persahabatan Soekarno-Nehru sangat patut dikenang rakyat Indonesia dan India karena baiknya hubungan tersebut. Kedutaan Indonesia pun lokasinya persis di depan rumah kediaman Nehru.

Namun, hubungan ini sempat renggang pada masa pemerintahan Soeharto. Membaik lagi setelah Presiden Megawati Soekarnoputri mengunjungi India.

Baru-baru ini saya diundang menjadi tamu kehormatan sekaligus menjadi pembicara di internasional seminar yang diselenggarakan Swamishukdevanand College Faculty of Commerce di Sahjehanpur. Dihadiri delegasi dari Amerika Serikat, Eropa, Afrika, Asia Barat, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Indonesia dan Irak menjadi tamu kehormatan. Program ini disponsori Kementerian Luar Negeri India dan Kementerian Human Resource Development.

Topik pembahasannya sangat menarik, yaitu “Tourism, Merchantalism, and Human Happiness”. Karena acara ini sangat besar, saya lakukan persiapan yang sangat matang. Bahkan berkonsultasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk memberikan masukan dan saran.

Pada akhirnya, acara pun sukses luar biasa. Isi presentasi saya sempat masuk di media India dua kali. Sengaja saya persiapkan pidato berbahasa India agar pesan yang saya sampaikan lebih mudah diserap audiens yang mayoritas warga India.

Ada lima poin penting yang saya sampaikan saat itu.
1)    Kedua negara mempunyai tradisi yang sama, di mana tamu adalah orang yang paling agung. Persamaan lainnya: tradisi budaya dan masakannya nyaris sama. Penduduknya sama-sama plural, tapi bisa hidup berdampingan dengan damai.

2) Mengenal India tanpa mengenal Indonesia tak akan sempurna. Demikian pula sebaliknya.

3) Saatnya India dan Indonesia mempererat hubungan seperti yang telah dilakukan Nehru-Soekarno. Caranya adalah dengan membuka penerbangan langsung dari Delhi-Jakarta atau dengan membuka hubungan laut dari Pulau Andaman, Nikobar, ke Sabang, Aceh.

4) Salah satu provinsi di Indonesia letaknya di Sumatera bernama Aceh. Ini bukan sekadar nama, tapi punya makna, di mana leluhur orang Aceh berasal dari empat negara: Arab, Cina, Eropa, dan Hindia.

5) Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia. Akan tetapi, Indonesia juga punya Bali di mana pemeluk Hindu nomor dua terbanyak di Indonesia. Jadi, India dan Indonesia punya persamaan dan alangkah baiknya kita sama-sama belajar dari  persamaan ini dengan cara saling mengunjungi melalui wisata.

Dari strategi geopolitical approach, India dan Indonesia sudah saatnya mendekatkan diri dan menjalin bilaterial, khususnya dalam sektor parawisata. Ini akan menguntungkan perekonomian kedua negara. Melalui wisata secara tidak langsung akan terbentuk soft diplomacy for the long run term (untuk masa panjang) tanpa harus mengedepankan kekuatan militer jika terjadi perselisihan di masa mendatang.

Setelah seminar berlangsung, banyak dari kalangan birokrat, NGO, dan akademisi menghamipiri saya. Mereka menanyakan kondisi Aceh setelah dilanda tsunami tahun 2004. Mereka sangat mendukung kerja sama bilaterial kedua negara ini segera diwujudkan. Salah satunya melalui penerbangan langsung New Delhi menuju Jakarta atau Kualanamu Medan. Seperti diketahui, Indonesia adalah salah negara penggemar film Bolliwood. Akan lebih afdal, jika setelah menonton filmnya, dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi syutingnya di India.

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id