Waspadai, Senpi Sisa Konflik di Tangan Narkobais | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Waspadai, Senpi Sisa Konflik di Tangan Narkobais

Waspadai, Senpi Sisa Konflik di Tangan Narkobais
Foto Waspadai, Senpi Sisa Konflik di Tangan Narkobais

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu (10/9) kemarin menurunkan berita utama di halaman Pase berjudul: Pemilik Dua Senpi Ternyata Eks Napi. Pada anak judul berita tersebut diterakan pula bahwa menurut pelaku senjata api yang ada padanya itu berasal dari sisa konflik Aceh.

Pemilik senpi itu adalah Jai, usianya 35 tahun, merupakan warga Desa Pulou U, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Jai sudah lama menjadi target penangkapan polisi untuk kasus narkoba. Apalagi statusnya sebagai mantan narapidana narkoba yang pernah menjalani hukuman penjara di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta Medan. Ia akhirnya ditangkap polisi di rumahnya, Kamis (7/9) pagi, atas dugaan kepemilikan narkotika jenis sabu-sabu.

Tapi berdasarkan tes urine, Jai tak positif mengonsumsi narkoba. Ada kemungkinan dia hanya pengedar. Atas dasar itulah polisi mencari di mana ia menyembunyikan sabu-sabu. Dalam rangka pengembangan penyelidikan kasus itulah polisi sampai ke rumah saudara Jai di Desa Rambot, kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

Temuan polisi di tempat ini cukup mengagetkan. Bukan sabusabu yang didapat, tapi dua pucuk senjata api (senpi) ilegal. Keduanya disimpan Jai di kandang kambing milik saudaranya yang tinggal di Desa Rambot, Kecamatan Lhoksukon itu. Senjata tersebut sama-sama pistol, tapi berbeda pesifikasinya. Yang satu jenis FN Colt MK series VI kaliber 9 milimeter Arcansan Siracus buatan Amerika Serikat. Sepucuk lagi adalah Revolver dengan nomor registrasi 796117. Kedua pistol yang masih aktif itu, menurut Jai, merupakan sisa konflik Aceh yang sudah dia simpan sekian lama.

Pengakuan Jai ini patut menjadi catatan khusus pihak kepolisian dan Badan Nasional Narkotika (BNN) Provinsi Aceh.Terutama karena bukanlah al yang biasa dan tanpa akibat jika senjata ilegal bekas konflik Aceh berada di tangan eks napi narkoba. Apalagi jika orang yang bersangkutan masih aktif berbisnis narkoba. Fenomena ini tentunya akan sangat membahayakan bagi Aceh, provinsi bergolak yang baru mereguk nikmat perdamaian dalam 12 tahun terakhir.

Banyak pihak di Aceh mengeluhkan masih banyaknya senpi ilegal yang beredar. Sebagiannya merupakan sisa konflik. Senjata-senjata itu justru digunakan untuk aneka kejahatan. Misalnya, merampok bank dan toko emas, menculik orang- orang berduit, bahkan membunuh korban tertentu.

Nah, sekarang kondisinya tentu lebih runyam, jika senpi ilegal berada dalam penguasaan jaringan bisnis narkoba. Maka, lengkaplah derita Aceh yang sejak dua tahun lalu dinyatakan Wagub Muzakir Manaf berada dalam kondisi darurat narkoba.

Jangan sampai kondisi ini semakin memburuk karena para gembong dan pelaku bisnis narkoba lainnya justru mengandalkan senjata api ilegal untuk menopang kerajaan bisnis haramnya. Untuk itu, pihak kepolisian harus lebih gencar mengimbau warga yang masih menyimpan senpi sisa konflik ntuk menyerahkannya kepada aparat keamanan.

Jika perlu dengan memberikan kepadanya insentif atau bonus sebagai rasa terima kasih. Ini bentuk apresiasi terhadap warga yang dengan sukarela menyerahkan senpi ilegal yang masih dia simpan atau dia ketahui keberadaannya. Langkah strategis berikutnya adalah pihak BNN dan kepolisian harus semakin gencar memburu para narkobais di Aceh dengan memperbanyak informan di lapangan. Jika diketahui mereka menggunakan senpi dalam melakukan aksinya, maka harus ditelusuri apakah senpi itu merupakan sisa konflik Aceh atau bukan.

Pemiliknya harus dihukum berat. Sudah seharusnya keamanan dan perdamaian Aceh taklagi terusik oleh senpi-senpi masa konflik. Masa depan Aceh pun jangan sampai hancur dan tergadai karena generasi mudanya ramai yang kecanduan narkoba. (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id