Pakai Baju Kerajaan, Bawa Pedang dan Tombak, Pewaris Kerajaan Aceh Ziarahi Makam Indatu | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pakai Baju Kerajaan, Bawa Pedang dan Tombak, Pewaris Kerajaan Aceh Ziarahi Makam Indatu

Pakai Baju Kerajaan, Bawa Pedang dan Tombak, Pewaris Kerajaan Aceh Ziarahi Makam Indatu
Foto Pakai Baju Kerajaan, Bawa Pedang dan Tombak, Pewaris Kerajaan Aceh Ziarahi Makam Indatu

URI.co.id, BANDA ACEH – Sejumlah keturunan raja, sultan, dan ulee balang Aceh melakukan ziarah ke Titik Nol Kota Banda Aceh di Gampong Jawa dan makam di kompleks proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Minggu (10/9/2017).

Kegiatan ziarah itu juga dihadiri politisi, sejarawan, masyarakat dan sejumlah mahasiswa Unsyiah.

Beberapa yang hadir tampak Pewaris Raja Meurehom Daya Teuku Saifullah, Pewaris Raja Mukim 26 Kutaraja Raja Meurah, Pewaris Raja Pase Teuku Raja Nasruddin, Pewaris Raja Jeumpa Teuku Safrizal, serta beberapa keturunan raja dan ulee balang lainnya.

Juga hadir Sejarawan A Raman Kaoy dan Dr Husaini Ibrahim, kolektor naskah kuno Tarmizi A Hamid, serta Anggota DPR RI Nasir Jamil.

Para pewaris raja ini mengunjungi langsung sejumlah batu nisan ulama dan bangsawan Aceh yang telah dibongkar di area proyek IPAL. Saat ini makam indatu mereka telah dipindah ke lokasi yang baru, masih dalam area tersebut.

(Baca: Kontraktor Proyek IPAL: Berhenti Atau Lanjut, Tergantung Pemerintah)

Bahkan mereka juga sempat turun ke kolam pembuangan limbah, titik ditemukan makam tersebut. Mereka sempat mengusap beberapa bongkahan tanah di dalam kolam tersebut.

Para pewaris raja itu hadir dengan pakian khas Aceh dan dilengkapi dengan atribut pedang dan tombak.

(Baca: FOTO-FOTO: Pewaris Kerajaan Aceh Ziarahi Indatu yang Terkubur di Area Pengolahan Tinja)

Teuku Saifullah dari Meureuhom Daya menyampaikan, bahwa Gampong Pande hingga area radius 5 km dari lokasi tersebut merupakan kawasan Kerajaan Islam Aceh zaman dahulu.

Sehingga dengan ziarah makam ini mereka ingin melestarikan makam leluhur raja dan ulama Aceh.

Ia mengatakan bahwa pembangunan IPAL itu sangat bermanfaat bagi masyarakat.

(Baca: Miris, Makam Ulama di Banda Aceh Jadi Tempat Pembuangan Limbah)

Namun yang menjadi masalahnya, yaitu lokasi pembangunan yang tidak sesuai, karena berada di bekas berdirinya kerajaan Aceh. Serta dalam area tersebut banyak terdapat makam para raja, ulama, hingga bangsawan.

“Bayangkan ini kotoran manusia akan kita timbun di atas makam para indatu kita, sangat memalukan Bangsa Aceh dan Indonesia,” tandasnya. (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id