Filosofi Iqra’; Membudayakan Literasi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Filosofi Iqra’; Membudayakan Literasi

Filosofi Iqra’; Membudayakan Literasi
Foto Filosofi Iqra’; Membudayakan Literasi

Oleh Adnan

LITERASI merupakan satu kata yang familiar di telinga kita. Meskipun terkadang banyak orang tidak paham konsep utuh tentang literasi. Literasi diartikan sebagai kemampuan membaca, menulis, dan menangkap ide-ide dan gagasan-gagasan secara visual. Untuk itu, budaya literasi harus terus digelorakan dan dibumikan di Indonesia. Sebab, data-data mutakhir masih menunjukkan bahwa literasi di Indonesia sangat-sangat rendah, jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

Semisal, menurut data UNESCO yang dirilis pada 2012, minat membaca (literasi) masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari setiap 1.000 orang penduduk Indonesia, hanya 1 orang yang minat membaca tinggi. Ini bermakna bahwa dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 250 ribu yang rajin membaca. Bahkan, dari 65 negara yang diteliti tentang literasi, Finlandia berada posisi pertama sebagai negara yang memiliki minat baca tinggi, sedangkan Indonesia berada pada urutan 64, satu tingkat di atas Bostwana.

Selain itu, data mutakhir juga menunjukkan bahwa, para pelajar di Australia menghabiskan waktu 150 menit (2,5 jam) untuk menonton televisi setiap hari. Pelajar di Amerika dalam sehari menghabiskan waktu 100 menit (1,6 jam) untuk menonton televisi. Pun, pelajar di Kanada dalam sehari menghabiskan waktu 60 menit (1 jam) untuk menonton televisi. Tapi, para pelajar di Indonesia mampu menghabiskan waktu dalam sehari 300 menit (5 jam) hanya untuk menonton televisi.

Data-data di atas menunjukkan bahwa, budaya literasi di Indonesia berada pada titik nadir yang mengkhawatirkan. Sehingga diperlukan upaya semua pihak, baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan (Ormas), dan seluruh masyarakat (civil society) dalam menggelorakan dan membumikan literasi di Indonesia. Hanya dengan literasi akan melahirkan generasi-generasi cerdas Indonesia di masa mendatang. Sudah seharusnya literasi menjadi gaya hidup (lifestyle) dan jalan hidup (the way of life) serta kebutuhan hidup (needs of life) masyarakat Indonesia.

Filosofi iqra’
Iqra’ merupakan satu istilah yang dipopulerkan Alquran (QS. al-‘Alaq: 1-5). Dalam kajian Ulumul Quran, ayat ini merupakan ayat pertama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw. Secara sosiologis, ayat ini diturunkan pertama kali disebabkan oleh kondisi sosio-kultural masyarakat Arab ketika itu yang buta huruf (ummi), termasuk baginda Nabi saw. Kemampuan (skill) andalan masyarakat Arab saat itu yakni hafalan. Bahkan, hingga saat ini kemampuan hafalan masyarakat Arab tidak dapat diragukan lagi.

Bayangkan, Alquran yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw pada periode awal hanya disimpan dengan menggunakan metode hafalan. Padahal, Alquran terdiri dari 30 Juz, 114 surat, 6.236 (pendapat ulama Kufah) ayat, dan 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) huruf. Keseluruhannya mampu dihafal oleh para penghafal Alquran (huffadz). Sebab itu, iqra’ merupakan visi ilahiyah untuk mencerdaskan umat manusia dengan membaca. Dengan membaca akan melahirkan ide dan gagasan-gagasan baru yang kreatif dan inovatif.

Bahkan, pengetahuan diperoleh sekitar 80-90 persen dari membaca. Ungkapan Tilaar, membaca adalah proses memberikan arti kepada dunia. Maka, dengan gemar membaca akan melahirkan generasi yang belajar. Membaca adalah kaki kita. Bahkan, menurut Sindhunata, makin gemar membaca maka makin kita memperoleh kaki yang kokoh dan kuat. Makin kita membaca makin hidup kita berkaki (Elly Damaiwati, 1/1/1970). Sebab itu, membaca adalah kebutuhan hidup (needs of life).

Dalam sejarah diturunkannya Alquran disebutkan, bahwa ketika Jibril as mendatangi Nabi Muhammad saw untuk membawa wahyu pertama. Saat itu, Jibril berkata kepada Nabi saw; iqra’ (bacalah). Nabi pun menjawab, “Ma ana bi qarik (Saya tidak bisa membaca)”. Berkali-kali kalimat yang sama diucapkan baginda Nabi, “Saya tidak bisa membaca”. Akhirnya, Jibril memeluk baginda Nabi dengan erat hingga ia mampu membaca dan melanjutkan ayat tersebut, “Iqra’ bismirabbikal ladzi khalaq (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan)” hingga ayat kelima.

Sebab itu, ayat tersebut layak menjadi filosofi dan landasan untuk mengembangkan budaya literasi pada masyarakat Indonesia. Tanpa literasi masyarakat Indonesia akan terus tertinggal dari negara-negara lain di dunia. Hanya dengan budaya literasi Indonesia mampu mengepakkan sayap untuk menjadi bangsa yang cerdas dan disegeni oleh dunia. Membaca adalah jendela dunia. Bermakna dengan membaca terbukalah wawasan dan pola pikir yang mendunia. Semakin banyak buku yang dibaca, maka semakin banyak jendela yang dimiliki.

Bonus demografi
Apalagi saat ini Indonesia memiliki bonus demografis. Bonus demografi adalah di mana penduduk produktif lebih banyak dibandingkan penduduk nonproduktif. Demografi ini diprediksi terjadi antara 2020-2030, dengan penduduk usia produktif sebanyak 180 juta dan nonproduktif hanya 60 juta. Maka bonus demografi tersebut harus dimanfaatkan dan menjadi momentum untuk membudayakan dan membumikan literasi di Indonesia. Ini perlu di jaga dan dikawal oleh semua pihak agar generasi demografis tersebut tercedaskan supaya dapat mengisi pembangunan.

Sebab, usia produktif merupakan usia yang masih memiliki banyak energi yang harus termanfaatkan. Berapa banyak para pelajar Indonesia yang terjebak pada perilaku amoral dan destruktif, semisal pacaran dini, kriminalitas, perzinahan dan pelecehan seksual, vandalisme, clubbing, bullying, dan beragam problematika lainnya. Ini disebabkan karena energi besar yang mereka miliki tidak tersalurkan pada tempat-tempat positif, semisal membaca dan menulis. Akhirnya, mereka menyalurkan pada tempat-tempat yang keliru yang bertentangan dengan nilai-nilai (values) kebangsaan dan agama.

Karena itu, energi para pelajar Indonesia harus diarahkan untuk membaca dan menulis. Dengan membaca dan menulis mereka akan menjadi generasi cerdas dan unggul untuk mengisi pembangunan. Meskipun demikian, pemerintah memiliki tanggungjawab moral untuk menyiapkan berbagai fasilitas bacaan baik perpustakaan tertutup maupun terbuka, serta menyediakan beragam buku lintas keilmuaan, agar para pelajar tertarik untuk membaca. Sebab, berapa banyak perpustakaan, bahkan terkadang di lembaga perguruan tinggi, buku-buku yang tersedia tidak di-update, sehingga membuat para mahasiswa enggan dan tidak tertarik untuk membaca.

Artinya, untuk menumbuhkan minat membaca di kalangan pelajar diperlukan sarana dan prasarana, fasilitas yang mendukung, dan bahan bacaan yang lengkap dan terbaru (update). Tanpa bahan bacaan yang lengkap, jangan pernah berharap perpustakaan terisi penuh, apalagi disertai dengan pelayanan di perpustakaan yang tidak nyaman. Karena itu, konstitusi memberikan amanah kepada pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa. Bangsa ini berdosa kalau tidak menyediakan perpustakaan yang lengkap kepada generasinya.

Untuk itu, ketika perpustakaan serba lengkap dengan fasilitas dan bahan bacaan, maka terwujudlah usaha membudayakan dan membumikan literasi di Indonesia. Dengan itu, maka bonus demografi di Indonesia tidak akan sia-sia begitu saja. Bahkan, perlu dibangun filosofi bahwa membaca dan menulis (literasi) bukan hanya mencerdaskan, tapi juga mendapatkan pahala dari sisi-Nya. Sebab itu, iqra’ (bacalah). Dengan membaca akan dapat membuka “jendela dunia”. Semoga!

Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: [email protected] (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id