Proyek IPAL Masih Berlanjut | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Proyek IPAL Masih Berlanjut

Proyek IPAL Masih Berlanjut
Foto Proyek IPAL Masih Berlanjut

BANDA ACEH – Meskipun sudah menuai kontroversi dari berbagai kalangan, pengerjaan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berada di antara Gampong Jawa dan Gampong Pande, Banda Aceh, masih berlanjut. Pekerja masih hilir mudik di sekitar lokasi proyek.

Pang Ulee Komandan Al Asyi, Tuanku Warul Walidin mengatakan, hingga Selasa (5/9) pengerjaan proyek IPAL masih berlangsung. Hal itu terlihat dari beberapa pekerja yang sedang beraktivitas di lokasi proyek yang sudah berpagar beton itu. Sedangkan sejumlah batu nisan kuno yang ditemukan saat penggalian, kata Tuanku, saat ini masih berada di lokasi tersebut dan masih diberi garis polisi. Sumber serambi yang lain juga mengaku pekerja masih beraktivitas di lokasi proyek hingga Kamis kemarin.

Tuanku Warul mengatakan, selama ini Lembaga Komandan Al Asyi yang beranggotakan keturunan sultan Aceh dan aktivis Islam, terus mengawasi jalannya proyek itu. Hal itu untuk menjaga keberlangsungan situs sejarah dalam kawasan tersebut, yang menjadi bukti kejayaan masa lalu Aceh.

Tuanku berharap Pemko Banda Aceh dapat mengambil tindakan untuk menghentikan proyek itu. Karena pembangunan proyek pembuangan tinja di situs sejarah, yang terdiri atas makam ulama dan bangsawan, dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap sejarah Aceh.

Dijelaskan, saat ini terdapat lima desa yang masuk dalam kawasan kediaman sultan di masa lalu yaitu Gampong Pande, Gampong Jawa, Peulanggahan, Keudah, dan Gampong Merduati. Sehingga dalam area itu diperkirakan terdapat banyak situs sejarah.

“Kelima kampung itu dulunya merupakan kampungnya sultan, sehingga siapapun yang menjadi wali kota harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan, agar kasus IPAL ini tidak terulang lagi,” ujarnya.

Para aktivis Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) sebetulnya telah lama melakukan aksi penolakan terhadap proyek yang dianggap menggerus bukti-bukti sejarah Kerajaan Aceh Darussalam ini.

Pada Februari 2017 Mapesa melakukan survei terhadap batu nisan yang ditemukan dalam galian kolam IPAL. Meskipun sudah dipasang tali pembatas, namun beberapa bulan kemudian nisan itu dibongkar dan dipindahkan ke lokasi yang lain. Proyek kolam limbah ini dibiaya oleh APBK Banda Aceh dan APBN Kementerian PUPR senilai Rp 107,3 miliar.

Ketua DPRK Banda Aceh, Arief Fadillah S.Ikom mengatakan, terkait kisruh proyek IPAL di kompleks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) itu harus segera disikapi oleh Pemko Banda Aceh. Sehingga masalah itu tidak berlarut-larut dan segera mendapatkan solusinya.

Menurutnya, Pemko harus segera membuat kajian atau riset bersama, yang melibatkan pemerintah, arkeolog, hingga pegiat lingkungan, agar dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Sehingga hasil kajian bersama itu akan dijadikan jalan keluar untuk masalah itu.

Arief mengaku dirinya mengapresiasi upaya pemerintah membangun IPAL, yang merupakan sistem pembuangan limbah modern. Namun, lanjutnya, di sisi lain penyelamatan situs sejarah harus menjadi prioritas, karena itu menjadi sejarah kejayaan Aceh dan merupakan titik nol Banda Aceh.

“Kita mau kalau sudah ada langkah konkrit dan di situ memang sentral situs sejarah, makanya memang harus dipindahkan. Jangan kita paksakan lagi,” ujar Arief, Kamis malam.(mun) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id