Gambar Cut Meutia Bisa Lemahkan Syariat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Gambar Cut Meutia Bisa Lemahkan Syariat

Gambar Cut Meutia Bisa Lemahkan Syariat
Foto Gambar Cut Meutia Bisa Lemahkan Syariat

BANDA ACEH – Majelis hakim Pengadilan Jakarta Pusat, Kamis (7/9), kembali menggelar sidang lanjutan perkara gugatan Anggota DPRA, Asrizal H Asnawi terhadap Bank Indonesia (BI) yang menerbitkan gambar pahlawan wanita asal Aceh, Cut Meutia tanpa penutup kepala di uang kertas pecahan Rp 1.000. Dalam sidang kemarin, penggugat menghadirkan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr Munawar A Djalil sebagai saksi fakta.

Kuasa hukum penggugat, Safaruddin SH melalui pesan tertulis kepada Serambi kemarin, mengatakan dalam persidangan tersebut, Munawar menerangkan penempatan gambar Cut Meutia tanpa mengenakan tutup kepala adalah upaya yang akan melemahkan Syariat Islam di Aceh. “Gambar Cut Meutia di uang Rp 1.000 telah memengaruhi masyarakat Aceh secara psikologis dan ini akan melemahkan penerapan syariat Islam yang berlaku di Aceh,” terang Munawar.

Munawar menerangkan, Syariat Islam dideklarasikan di Aceh pada tahun 2001 didasarkan pada UU Nomor 44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Aceh. Secara kultur, katanya, kehidupan masyarakat Aceh yang Islami, maka tentu para perempuannya selalu menutup kepala, minimal memakai kain selendang di kepalanya.

Bahkan, kata Munawar, ketika pejabat negara hadir ke Aceh, seperti Presiden Megawati, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani baru-baru ini, juga menggunakan kain penutup kepala. “Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Syariat Islam di Aceh, sebuah kekhususan yang diberikan secara konstitusional dan harus dihormati oleh semua pihak,” papar Munawar sebagaimana dikutip Safaruddin SH.

Safaruddin menambahkan, atas kesaksian Kadis Syariat Islam itu, Tim pengacara Bank Indonesia kemudian mempertanyakan ukuran dampak psikologis yang dialami masyarakat Aceh akibat dari beredarnya uang Rp 1000.

Menanggapi itu, Munawar menjelaskan bahwa syariat Islam itu salah satu hal yang mewarnai kehidupan masyarakat Aceh dan ini menjadi salah satu program Dinas Syariat Islam. “Kami menginginkan para pemimpin di Aceh, tokoh-tokoh maupun pahlawannya menjadi suri tauladan bagi masyarakat Aceh. Saya juga tidak yakin jika Cut Meutia tidak berkerudung, karena tradisi masyarakat Aceh menutup kepala itu sudah menjadi fashion dalam masyarakat,” ungkap Munawar.

Ketua Majelis Hakim, Tafsir Meliala Sembiring didampingi hakim anggota, Abdul Kohar dan Desbenneri Sinaga mempertanyakan kehadiran Munawar apakah seizin dari pimpinan, karena memberikan kesaksian atas jabatan Kepala Dinas Syariat Islam. Majelis kemudian meminta Munawar memperlihatkan surat tugasnya.

Terhadap hal ini, Munawar menjelaskan bahwa dirinya diperintahkan langsung oleh Wakil Gubernur (Wagub) Aceh, Nova Iriansyah untuk menghadiri persidangan kemarin. Surat tugas akan disusul pada persidangan mendatang melalui Safaruddin selaku pengacara penggugat.

Dalam sidang kemarin, pihak BI diwakili Hery Afrianto, Ratih Indriastuti dan Satrio Pramono. Sedangkan penggugat, Asrizal H Asnawi juga hadir didampingi pengacaranya, Safaruddin dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA). Sidang akan dilanjutkan, Senin (19/9) dengan agenda saksi ahli dari penggugat. (nal) (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id