Aceh Krisis Elpiji 3 Kg | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Aceh Krisis Elpiji 3 Kg

Aceh Krisis Elpiji 3 Kg
Foto Aceh Krisis Elpiji 3 Kg

BANDA ACEH – Gas elpiji 3 kg bersubsidi semakin sulit ditemukan di sebagian besar wilayah Aceh sejak beberapa hari terakhir. Kalau pun tersedia, harganya ada yang menembus Rp 30.000 per tabung atau jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp 18.000. Sepertinya hak-hak masyarakat kecil untuk mendapatkan keringanan harga dengan kebijakan subsidi semakin sulit di negeri ini.

Di Kabupaten Pidie, krisis gas elpiji 3 kg meluas di sembilan kecamatan yaitu Delima, Kota Sigli, Pidie, Sakti, Mutiara Timur, Glumpang Baro, Indrajaya, dan Simpang Tiga.

Pantauan Serambi, Rabu (6/9) sejumlah pangkalan elpiji di Pidie tutup sehingga tidak diketahui apakah gas 3 kg di pangkalan tersedia atau tidak.

Asisten Kesejahteraan Setdakab Pidie, Maddan MSi kepada Serambi mengakui kelangkaan gas 3 kg terjadi di hampir semua kecamatan di Pidie. Penyebabnya, kata Maddan, pengangkutan gas tidak sesuai jadwal dan terjadinya antrean saat pengisian gas di SPBE Indrapuri, Aceh Besar. “Juga kurangnya pasokan gas dari pangkalan akibat antrean pengisian dan jadwal pengangkutan tidak jelas,” ujar Maddan.

Selain itu, lanjut Maddan, jelang Idul Adha lalu tidak dilakukan operasi pasar oleh Pertamina. Seharusnya dengan operasi pasar bisa menutupi kekurangan gas. “Kita lupa meminta PT Pertamina untuk operasi pasar jelang Idul Adha. Padahal pada saat Idul Adha kebutuhan gas di masyarakat sangat tinggi,” katanya.

Kebutuhan gas 3 kg untuk Pidie mencapai 3.100.000 tabung per tahun. Pasokan dari Pertamina telah maksimal atau disesuaikan jumlah masyarakat miskin di Pidie.

Singkil
Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Aceh Singkil, pekan lalu melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pangkalan elpiji bersubsidi dan menemukan fakta elpiji melon tersebut langka dengan harga mencapai Rp 30.000 per tabung dari HET di daerah tersebut Rp 19.000.

Kabid Pengawasan dan Metrologi Disperindagkop dan UKM Aceh Singkil, Iskandar Kenedi Padang kepada Serambi, Rabu (6/9) mengatakan sudah membuat rekomendasi hasil sidak. “Tinggal menindaklanjutinya tapi Pak Kadis keburu ada tugas ke luar daerah,” kata Iskandar.

Menurut Iskandar, pihaknya bersama Polres Singkil melakukan sidak ke pangkalan elpiji 3 kg di Gunung Meriah. Persoalan yang ditemukan di lapangan antara lain elpiji subsidi dijual di atas HET dan pangkalan menjual ke pengecer padahal tidak dibenarkan.

Pangkalan juga tidak memiliki kartu kendali pelanggan sehingga tidak jelas sasaran penerima gas elpiji. Akibatnya elpiji subsidi kerap langka lantaran disinyalir salah sasaran. Selain itu pangkalan ada yang tidak memegang surat izin serta tidak mendapat rekomendasi dari Disperindagkop dan UKM Aceh Singkil. “Agen elpiji subsidi hanya ada satu sehingga tidak terjadi persaingan usaha,” kata Iskandar.

Stok habis
Kesulitan mendapatkan gas 3 kg bersubsidi juga dirasakan warga miskin di Kota Lhokseumawe. “Saya berkeliling dengan sepeda mencari gas 3kg ke pangkalan di desa saya dan pangkalan desa lain. Semua mengatakan stok habis,” kata Syahrut (68), warga Banda Masen, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe kepada Serambi, Rabu (6/9).

Penelusuran Serambi ke sejumlah pangkalan di Lhokseumawe terlihat tutup, seperti di kawasan Cunda. Sedangkan di kawasan Simpang Kuta Blang tepatnya di SPBU terlihat buka namun gas tidak ada.

Pengawas Pangkalan Alu Purba Raya Simpang Kuta Blang, Lhokseumawe, Umar mengatakan, di pangkalan mereka gas nyaris tiap hari dipasok Pertamina. Seperti halnya Rabu siang kemarin, pihaknya mendapatkan pasokan 150 tabung. “Setelah dibagikan kepada masyarakat yang berhak (pemegang kartu) langsung habis. Sekarang memang kosong, tapi besok sudah dipasok lagi. Tidak langka gas di pangkalan kami,” pungkasnya.

Sementara di sejumlah kecamatan di Aceh Utara, sejak Idul Adha hingga kemarin elpiji 3 kg masih langka. “Masih langka stok elpiji di kawasan Geudong. Kemarin saya menemukan elpiji di pedagang pengecer di kawasan Syamtalira Bayu, tapi harganya Rp 25.000 per tabung,” kata Burhan, warga Kecamatan Samudera. Permasalahan serupa juga disampaikan Abdul Rafar, warga Kecamatan Tanah Jambo Aye.

Murdani, pedagang pengecer di Syamtalira Bayu menyebutkan, terakhir masuk elpiji pada 31 Agustus sehingga stok di kiosnya sudah habis. “Di pangkalan juga tidak ada,” kata Murdani dengan menambahkan kemungkinan pada Rabu malam pasokan elpiji masuk lagi.

Antre di Meulaboh
Di Meulaboh, hingga Rabu kemarin masih terjadi antrean membeli elpiji 3 kg. Selain stok sering kosong, harganya juga mencapai Rp 25.000 per tabung.

Amatan Serambi Rabu kemarin, beberapa pangkalan elpiji 3 kg masih sering diserbu pembeli terutama ketika elpiji baru masuk. “Sebentar saja elpiji 3 kg habis,” kata Mariani, seorang warga Meulaboh.

Beberapa pemilik pangkalan mengakui elpiji 3 kg diserbu warga. Berbeda dengan elpiji 12 kg (nonsubsidi) persediaan mencukupi. “Setiap pangkalan sehari dipasok elpiji 3 kg. Warga tetap antrean. Kami menjual sesuai dengan HET yaitu Rp 18 ribu per tabung,” ujar pemilik pangkalan elpiji di Meulaboh.

Kabid Perdagangan dari Dinas Perdagangan Aceh Barat, Idrus kepada Serambi pekan lalu mengatakan elpiji 3 kg masih belum merata. Selama ini banyak beredar di kota dan masih dinikmati oleh yang tidak berhak seperti pengusaha warung.

Abdya
Sejak sepekan terakhir, gas melon atau gas 3 kg di Abdya diserbu masyarakat di Abdya sehingga stok habis dalam sekejab. “Tidak langka, tapi lebih cepat habis. Kalau biasanya, dua atau tiga hari, tapi ini dalam hitungan jam langsung habis,” kata seorang penjual gas di Blangpidie.

Informasi yang diperoleh Serambi, sejumlah pangkalan di Abdya menjual gas melon itu berkisar Rp 23.000 hingga Rp 25.000 per tabung.

Di Abdya memiliki dua agen gas 3 kg yaitu CV Gah Lhee Kilo dan CV Surya Minyeuk Tanoh.

Takengon aman
Di Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah hingga tadi malam stok elpiji 3 kg terlihat masih tersedia di kios-kios pengecer di kota dingin tersebut.

Sejumlah pedagang di Takengon mengaku baru menerima pasokan elpiji 3 kg dari agen penyalur pada Rabu sore sebanyak 50 tabung. “Memang kemarin sempat hampir habis,” kata Taufik, seorang pedagang pengecer di Jalan Lintang, Takengon.(naz/de/bah/jaf/riz/c50/my) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id