Tabuhan Rapa-i Tuha Lamreung di Bawah Pantulan Bulan Purnama Taman Ismail Marzuki Jakarta | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tabuhan Rapa-i Tuha Lamreung di Bawah Pantulan Bulan Purnama Taman Ismail Marzuki Jakarta

Tabuhan Rapa-i Tuha Lamreung di Bawah Pantulan Bulan Purnama Taman Ismail Marzuki Jakarta
Foto Tabuhan Rapa-i Tuha Lamreung di Bawah Pantulan Bulan Purnama Taman Ismail Marzuki Jakarta

URI.co.id, JAKARTA – Bulan bulat penuh. Malam purnama. Pantulan cahaya bulan bergerak-gerak di permukaan riak laut, yang sangat impresif.

Serombongan lelaki datang menenteng alat musik perkusi rapa-i. Lalu duduk membentuk kelompok-kelompok kecil. Salah seorang diantaranya duduki di tempat yang agak tinggi. Seperti sebuah pematang. Rapa-i pun ditabuh, serentak dalam tempo sedang.

Tak lama berselang, masuk seorang pria dengan ikat kepala merah. Tubuhnya bergerak mengikuti irama tabuhan, seraya membungkuk memberi salam. Bunyi rapa-i makin riuh, diselingi koor vokal bertenaga tapi tertata.

Ada lagi pria lain, masuk menyodorkan sebelah rencong, senjata khas Aceh. Pria dengan ikat kepala merah menerimanya penuh khidmat.

Lalu, rencong itu, ditusuk-tusukkan ke tubuhnya sendiri. Mula-mula paha, lengan dan bagian-bagian tubuh lain. Ujung rencong yang tajam, sama sekali tak mampu mengonyak kulit sang penari.

Tabuhan rapa-i makin deras. Koor nyanyian makin meninggi. Si penari silih berganti memainkan alat-alat berbahaya lainnya, termasuk sebuah bor listrik yang sengaja dibawa serta.

(Baca: Jadi Bagian Festival Seni Internasional, Saman Gayo Keliling Eropa)

Mata bor yang runcing, berputar cepat, saat disambung am ke panel listrik. Mula-mula mata bor diarahkan pada sebelah kayu kecil, untuk memperlihatkan bahwa bor tersebut berfungsi. Kayu kecil itu tampak tembus oleh mata bor.

Si penari dengan ikat kepala merah, tak hanya berhenti pada kayu tadi. Ia lalu meletakkan mata bor yang berputar kencang itu, pada telapak tangan kirinya. Tak puas sampai di situ, si pensri, lalu mengebor rongga mulutnya, pipi, hidung, dan kening.

(Baca: Seniman Aceh Ramaikan Pentas Seni di Medan)

Terdengar suara seorang perempuan, berteriak setengah histeris, di kursi penonton, saat menyaksikan adegan dramatis itu. Tapi si penari dengan ikat kepala merah, senyum saja. Mata bor seolah tumpul dan tak berarti apa-apa.

Adegan mendebarkan itu, merupakan bagian dari komposisi “rapai dabus” dimainkan Sanggar Rapa-i Tuha, Desa Lamreung, Aceh Besar, yang mengisi “Panggong Aceh” di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Rabu (6/9/2017) malam.

Sanggara Rapa-i Tuha di Jakarta

Rapa-i Tuha tampil di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Rabu (6/9/2017) malam. (Sanggar Rapa-i Tuha)

Di awal pertunjukan, pria-pria Lamreung itu memainkan “Komposisi Petir Siang Bolong” dan diakhiri dengan “Komposisi Rapa-i Hajat.”

Bulan purnama, dan pendaran cahayanya yang bergerak-gerak di riak laut ditampilkan melalui perangkat multimedia dengan layar lebar di bagian belakang panggung. Kekuatan multimedia itu juga mengisi “Komposisi Rapa-i Hajat” dengan tampilan video aneka budaya Aceh.

Kehadiran Sanggar Rapa-i Tuha di Jakarta merupakan bagian dari kegiatan apresiasi seni budaya Aceh yang diseponsori Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Selain pertunjukan rapa-i, “Panggong Aceh” itu juga diisi dengan penampilan kelompok teater Ampon Yan Banda Aceh, meminkan komedi rumah tangga, berjudul “Gara-gara Dara Muda.”

Sanggara Rapa-i Tuha di Jakarta

Rapa-i Tuha tampil di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Rabu (6/9/2017) malam. (Sanggar Rapa-i Tuha)

Teater Ampon Yan merupakan salah satu kelompok teater penting di Banda Aceh, dimotori T Januarsyah dan kawan-kawan.

Rapa-i Tuha, adalah sanggar masyarakat yang didirikan dan dibina tokoh Aceh, Alm T Nyak Arief, di Lamreung.

Warisan leluhur Lamreung itu masih dijaga sampai sekarang.

(Baca: Dua Seniman Aceh Gelar Silaturahmi Budaya di Jakarta)

Syeh Wan, yang sudah berusia 60 tahun, menceritakan, dirinya mewarisi kemahiran memainkan rapa-i dari ayahnya, dan ayahnya mewarisi dari kakaknya. Syeh Wan, yang bernama lengkap, Marwan, lalu mewariskannya kepada anak-anaknya.

“Kami yang memainkan rapa’i ini adalah saudara dan kerabat semua. Dulu tiga kakek saya, adik beradik main dalam grup ini. Begitu juga kami sekarang, adalah saudara di grup rapa’i ini,” kata Syeh Wan yang tampak sangat bersemangat meski usia sudah berkepala enam.

(Baca: Cukup Bayar Rp 100 Ribu, Bisa Nonton Teater Komedi Tergoda Dara Muda di Panggong Aceh)

Desa Lamreung merupakan salah satu desa di Aceh Besar yang masih merawat tradisi ber-rapa-i itu. Mereka rutin menjalani latihan tiap malam Kamis.

Grup ini juga acap pentas di sejumlah acara seni di Banda Aceh. “Main di Jakarta, baru ini yang pertama,” kata Syeh Wan.

Hanya saja, pertunjukan malam pertama –dari empat malam yang dijadwalkan untuk Panggong Aceh– tidak banyak dihadiri penonton. Kursi penonton Teater Kecil hanya terisi kurang dari 40 kursi.

“Tak apa-apa. Yang penting kita memainkan pertunjukan ini tetap dengan semangat dan sungguh-sungguh,” ujar Syeh Wan. (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id