Gampong Pande | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Gampong Pande

Gampong Pande
Foto Gampong Pande

Oleh Amir Husni

MEDIA sosial akhir-akhir ini dihebohkan dengan pemberitaan tentang pembangunan proyek instalasi pengolahan limbah (IPAL) di kawasan Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Wilayah ini diyakini sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Aceh pada masa lalu. Keadaan ini tentunya sangat ironis mengingat tinja dari seluruh wilayah Banda Aceh akan mengotori pusat peradaban Aceh, yang pernah bersinar ke penjuru dunia pada masa lampau (baca; Serambi, 30/8/2017).

Keberadaan Gampong Pande sebagai pusat pemerintahan kesultanan Aceh diperkuat dengan penemuan nisan Raja-raja Gampong Pande (Husaini, 2016). Hal ini diperkuat kembali dengan kajian Othman dan Perret tentang batu nisan Aceh. Keberadaan Gampong Pande sebagai pusat Kerajaan Aceh juga diperkuat dengan penemuan koin-koin emas sebagai mata uang Kerajaan Aceh pada 2013 lalu.

Di antara koin-koin tersebut juga dijumpai mata uang dari kerajaan Turki Utsmani. Bukti arkeologi juga meyakini adanya fondasi struktur bangunan dari masa Kerajaan Aceh di wilayah ini. Namun amat disayangkan keberadaan Gampong Pande saat ini seakan menjadi terabaikan.

Pemukiman khusus
Disebut Gampong Pande karena wilayah ini merupakan pemukiman khusus orang-orang pandai seperti ulama, ilmuwan, pekerja seni, birokrat dan kelompok orang pandai lainnya. Mereka ditempatkan secara khusus untuk keperluan dan kebutuhan kerajaan karena memudahkan raja untuk mengakses mereka kapan saja dibutuhkan oleh kerajaan. Wilayah mulai abad ke-15 Masehi di bawah Kesultanan Aceh, Gampong Pande menjadi tempat para ilmuwan, ulama, handcraftman, pusat transformasi ilmu pengetahuan dan ekonomi.

Keberadaan Gampong Pande sebagai pusat para ilmuan dari penjuru dunia disebutkan dalam kitab Bustanussalatin karya Nuruddin ar-Raniry (1636-1641 M). Berdasarkan kajian historis diketahui bahwa banyak ilmuwan dari penjuru dunia, seperti Turki datang ke Aceh pada masa Kesultanan Aceh. Mereka ditempatkan pada pemukiman khusus oleh raja-raja Aceh, yaitu di Gampong Pande. Para ilmuwan tersebut memberi sumbangan besar bagi jalannya pemerintahan dengan memberi pendapat, pemikiran hingga bantuan teknik khususnya dalam hal peperangan.

Di samping itu, Gampong Pande pada masa lalu sebagai pusat keagamaan. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fondasi yang diduga masjid dan makam ulama besar yang bernama Syeh Jamaluddin al-Samarkandi, Uzbekistan. Keberadaan makam Teungku di Anjong yang terletak di Gampong Pelanggahan saat ini juga memperkuat pernyataan ini bahwa Gampong Pande adalah pusat keagamaan Aceh pada masa lampau. Selain itu, Gampong Pande menjadi pusat konsentrasi prajurit sebelum berangkat perang yang diberikan pembekalan oleh para ulama.

Disamping itu, Gampong Pande juga merupakan pusat handcraftman ataupun segala perlengkapan kebutuhan kerajaan. Sebagai contoh, di sana sebagai tempat pembuatan mata uang, alat-alat berperang, baju-baju kerajaan, furniture kerajaan seperti singgasana, segala perlengkapan besi, batu nisan, dan segala kebutuhan rumah tangga kerajaan seperti piring, wajan-wajan, kendi-kendi penyimpanan air, kalung-kalung permaisuri dan cenderamata khas kerajaan Aceh. Perlu digarisbawahi bahwa Gampong Pande hanya memproduksi dan menghasilkan pernak-pernik kebutuhan sultan dan famili kerajaan saja, tidak untuk masyarakat umum.

Terakhir, Gampong Pande dikenal sebagai pusat transformasi ilmu pengetahuan dan ekonomi. Pada masa lalu, Gampong Pande menjadi pusat pertukaran ilmu pengetahuan baru tentang metode pembuatan pedang, meriam, dan alat-alat peperangan lainnya. Selain itu, wilayah ini juga dikenal sebagai pusat penghasil batu nisan, yang diekspor ke semenanjug Malaysia, Pattani di Thailand, Jawa, dan Sulawesi.

Mengingat keberadaan Gampong Pande yang sangat strategis pada masa lalu sebagai pusat pendidikan, keagamaan, kesenian, dan perekonomian, maka sudah selayaknya situs arkeologi tersebut diselamatkan dari pengrusakan.

Hal ini sesuai dengan UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang berbunyi “bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejaha, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesa-besarnya kemakmuran rakyat”.

Situs arkeologi
Ada beberapa solusi untuk menjaga situs arkeologi Gampong Pande sebagai satu pusat ilmu pengetahuan di Asia Tenggara, yaitu: Pertama, mendirikan museum peradaban Aceh yang berisi tentang artefak-artefak kerajaan Aceh serta penjelasan detail mengenai artefak-artefak tersebut. Pendirian museum ini juga akan menyelamatkan artefak-artefak dari kehilangan yang selama ini dimiliki oleh orang per orang;

Kedua, mendirikan Archaeological Park (taman arkeologi). Ini akan menjadi tempat kunjungan wisatawan baru di Gampong Pande dengan membuka Gampong Pande dengan menyediakan papan-papan informasi serta miniatur-miniatur gambaran Gampong Pande pada masa lalu. Sehingga ini akan menjadi tempat pendidikan bagi generasi muda untuk mempelajari arkeologi dan memahi sejarah Aceh.

Ketiga atau terakhir adalah memberikan beasiswa dan dana research untuk menganalisis bukti-bukti arkeologis kesultanan Aceh. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Dengan penelitian yang berkelanjutan terhadap situs-situs arkeologi di Aceh, akan memberikan kontribusi besar bagi pemahaman yang menyeluruh tentang Aceh masa lalu, serta menjadi rujukan dalam membangun Aceh masa yang akan datang.

Dengan tiga formasi solusi tersebut kita mengharapkan Gampong Pande pada masa lalu sebagai kampung intelektual, kampung keagamaan, kampung teknologi, dan kampung kesenian dapat kita rawat dan jaga dengan baik sebagaimana yang dimanatkan dalam undang-undang.

Konsep Gampong Pande pada saat ini ditiru oleh Amerika. Mereka mendirikan sillicon valley di California sebagai tempat para ilmuwan-ilmuwan dari seluruh dunia untuk mengembangkan penelitian yang berguna bagi pengembangan industri di Amerika. Beberapa perusahaan dunia lahir dari sillicon valley, yaitu Facebook, Google, Apple dan sederetan perusahaan internasional lainnya.

Akhirnya, kita mengharapkan pelaksanaan proyek pembuangan limbah ke Gampong Pande yang saat ini sedang dikerjakan, kiranya segera dihentikan, karena menodai makam para ulama, mengotori tanah para raja-raja, menghancurkan situs arkeologi, dan mengaburkan sejarah masa lalu. Ini hendaknya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan peninggalan masa lalu, sehingga kita menjadi bangsa yang beridentitas dan berkarakter. Amin.

* Amir Husni, mahasiswa program Master Arkeologi Universiti Sains Malaysia. Email: [email protected] (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id