Pendidikan Berbasis Humanisasi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pendidikan Berbasis Humanisasi

Pendidikan Berbasis Humanisasi
Foto Pendidikan Berbasis Humanisasi

Oleh Masrur Salamuddin

INDONESIA memiliki aturan khusus yang mengatur masalah pendidikan, yaitu UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam Pasal 1 UU Sisdiknas ini disebutkan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dewasa ini realita yang sering terjadi di dunia pendidikan. Tujuan pendidikan itu hanya sebagai transfer of knowledge (mentransfer ilmu). Padahal tujuan pendidikan tidak hanya sekadar transfer of knowledge seorang mu’allim (guru) kepada student (pelajar), tetapi bahkan lebih dari hal tersebut, yakni dengan mengintegralkan antara transfer of knowledge dengan transfer of value (mentransfer nilai), sehingga generasi yang dilahirkan bukan hanya intelektual semata, tetapi juga ber-akhalaqul karimah.

Selain itu, pendidikan juga merupakan kerja budaya yang menuntut peserta didik untuk selalu mengembangkan potensi dan daya kreativitas yang dimilikinya agar tetap survive dalam hidupnya. Karena itu, daya kritis dan partisipatif harus selalu muncul dalam jiwa peserta didik. Anehnya, pendidikan yang telah lama berjalan tidak menunjukkan hal yang diinginkan. Justru pendidikan hanya dijadikan alat indoktrinasi berbagai kepentingan. Hal inilah yang sebenarnya merupakan akar dehumanisasi (Khilmi Arif, Humanisasi Pendidikan dalam Perspektif Islam: Telaah atas Pemikiran Abdul Munir Mulkhan, 2002).

Realita di dunia pendidikan saat ini dalam mengemas sebuah pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran sekarang ini belum optimal seperti yang diharapkan. Hal ini terlihat dengan kekacauan-kekacauan yang muncul di masyarakat bangsa ini, diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikan yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi atas kekacauan ini.

Humanisme pendidikan
Tantangan dunia pendidikan ke depan adalah mewujudkan proses demokratisasi belajar atau humanisme pendidikan. Pembelajaran yang mengakui hak anak untuk melakukan tindakan belajar sesuai karakteristiknya. Hal penting yang perlu ada dalam lingkungan belajar yang dibutuhkan anak didik adalah kenyataan. Sadar bahwa anak memiliki kekuatan disamping kelemahan, memiliki keberanian di samping rasa takut dan kecemasan, bisa marah di samping juga bisa gembira. Education as sosial fungcional menekankan bahwa pendidikan sebagai alat untuk memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sosio-kultural bangsa.

Pendidikan seringkali juga digunakan sebagai alat hegemoni kekuasaan dan alat untuk melestarikan kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Sementara itu pengaruh dunia industri terhadap dunia pendidikan adalah penyamaan antara proses pendidikan dan proses produksi dengan pola input-proses-output. Murid diibaratkan sebagai raw input, sementara komponen pendidikan yang lain seperti guru, kurikulum dan fasilitas pendidikan diibaratkan sebagai komponen proses produksi dalam suatu pabrik.

Model paradigma seperti ini memandang manusia secara parsial, yaitu sebagai makhluk jasmani dengan kebutuhan materiil yang sangat dominan dan tentu saja kurang memperhatikan hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi dan paling sempurna, terutama dilihat dari dimensi spiritualitasnya. Dampak dari pendidikan yang terlalu material oriented ini dapat berakibat pada pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh humanisme (Tobroni, 2008).

Makhluk yang sangat sempurna diciptakan oleh Allah adalah manusia.
Di samping itu sosok manusia juga merupakan makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak lepas dari individu yang lainnya. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antarmanusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi atau komunikasi, baik interaksi dengan alam lingkungan, interaksi dengan sesama, maupun interaksi dengan tuhannya, baik itu sengaja maupun tidak disengaja.

Abdurrahman Mas’ud menyebutkan dalam satu karyanya bahwa Allah telah mengangkat manusia sebagai seorang khalifah (pemimpin) atau sebagai wakilnya di bumi. Allah Swt juga telah menganugerahkan kepada manusia kemampuan spiritual, intelektual serta kebebasan baik dalam kebebasan berfikir atau bertindak. Akan tetapi kebebasan di sini dibatasi oleh niai atau norma. Dengan potensinya manusia dapat mengetahui mana perilaku yang baik dan mana yang buruk, untuk itu potensi manusia harus dibimbing dan dikembangkan lewat pendidikan agar tidak mengarah ke arah negatif.

Proyeksi kemanusiaan
Humanisme dimaknai sebagai potensi (kekuatan) individu untuk mengukur dan mencapai ranah ketuhanan (transendensi) serta mampu menyelesaikan persoalan-persoalan sosial. Humanisme dalam pendidikan Islam adalah proses pendidikan yang lebih memperhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk berketuhanan dan berkemanusiaan, serta individu yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mengembangkan potensi-potensinya. Di sinilah urgensi pendidikan Islam sebagai proyeksi kemanusiaan (humanisasi).

Berangkat dari itu, dunia pendidikan harus mendapat sorotan lebih agar dapat berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi, perkembangan anak didik serta kebutuhan-kebutuhannya. Sebab sejauh ini, sebagian lembaga pendidikan di Indonesia, khususnya di pedesaan, masih menggunakan konsep atau metode klasik yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan. Melihat kenyataan ini, para pemikir pendidikan berusaha menggagas pemikiran tentang pendidikan bagi harkat kemanusiaan. Di antaranya tokoh yang menyuarakan humanisasi pendidikan, yaitu Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara, mereka adalah tokoh yang menyuarakan dan memperjuangkan semangat tersebut dalam dunia pendidikan.

Hakikat utama yang diperjuangkan Paulo Freire dalam pendidikan adalah membangkitkan kesadaran kritis sebagai prasyarat proses humanisasi atau memanusiakan manusia. Kunci pokoknya adalah konsientisasi atau pembangkitan kesadaran kritis. Sebuah corak pendidikan yang diusung oleh Freire, yaitu pendidikan kaum yang dijalankan dengan kemurah-hatian otentik, kedermawanan, humanis (bukan humanitarian), menampilkan diri sebagai pendidikan manusia. Begitulah proses pendidikan humanis yang seharusnya dijalankan (Paulo Freire, Ivan Illich dkk, 2001).

Akhirnya, kita berharap dengan pendidikan berbasis karakter berupa humanisme, mampu mengubah dunia pendidikan yang akan melahirkan generasi bukan hanya di bidang kecerdasaan intelektual bahkan kecerdasaan spritual. Sehingga pada akhirnya di bawah pendidikan berkarakter itu akan tercipta insan yang handal berilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta dibarengi iman dan takwa (imtak) dalam memanusiakan manusia menuju negeri impian yang diridhai Ilahi. Semoga!

* Masrur Salamuddin, MA., alumnus UIN Ar-Raniry Banda Aceh, saat ini sebagai Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga. Email: [email protected] (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id