Aceh Kecam Myanmar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Aceh Kecam Myanmar

Aceh Kecam Myanmar
Foto Aceh Kecam Myanmar

BANDA ACEH – Krisis kemanusiaan yang menimpa muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar saat ini telah menuai simpati dan memancing kemarahan masyarakat dari seluruh dunia. Keprihatinan mendalam juga datang dari Aceh, bahkan masyarakat Aceh mengecam dan mengutuk aksi kejahatan yang dilakukan rezim militer dan sipil Myanmar kepada muslim Rohingya tersebut.

Kecaman itu disuarakan oleh Masyarakat Aceh Peduli Rohingya dalam aksi mereka di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Senin (4/9). Selain mengecam, dalam aksi itu, massa juga menyampaikan tujuh pernyataan sikap masyarakat Aceh terhadap kondisi umat muslim Rohingya yang saat ini terus dibantai dan diusir oleh Pemerintah Myanmar.

“Mana rasa kemanusiaan kita, melihat anak-anak dibunuh bahkan dibakar hidup-hidup, mana rasa keprihatinan kita. Kita mengecam dan mengutuk tindakan militer Myanmar terhadap muslim Rohingya ini,” teriak seorang orator perempuan dalam aksi tersebut.

Aksi yang diikuti sekitar 20 orang tersebut hanya berlangsung sesaat di Bundaran Simpang Lima. Mereka kemudian melanjutkan aksi di Vihara Dharma Bhakti, Jalan T Panglima Polem, kawasan Peunayong, Banda Aceh. Di depan vihara, para demonstran tidak melakukan aksi, mereka hanya memegang karton bertuliskan kecaman terhadap militer Myanmar dan meminta PBB mencabut nobel perdamaian dari Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar.

Koordinator Aksi, Michael Octaviano SSTP kepada wartawan mengatakan, aksi yang dilakukan tersebut sebagai bentuk kecaman masyarakat Aceh terhadap kebiadaban yang dilakukan Myanmar terhadap etnis Rohingya. “Dengan aksi ini, kita juga ingin memberi tekanan kepada Pemerintah Myanmar agar dapat menghentikan aksi pembasmian, pembunuhan secara biadab terhadap suadara-saudara kita muslim Rohingya,” katanya.

Michael juga menyebutkan, dengan aksi itu, mereka mengajak seluruh elemen agama dan masyarakat, untuk melakukan aksi yang sama, mengecam dan mengutuk kejahatan Myanmar itu. “Ini sudah berulang kali dilakukan oleh Myanmar dan dunia seperti tidak bisa mencegahnya. Makanya aksi ini kita lakukan agar semua pemuka agama, elemen masyarakat, dan pemerintah meneriakkan hal yang sama, mendesak ini segera dihentikan,” katanya.

Dalam aksi tersebut, demonstran juga menyampaikan tujuh pernyataan sikap. Pertama, mengutuk keras rezim militer dan sipil Myanmar atas tindakan brutal terhadap etnis Rohingya. Massa mendesak aksi kejahatan genosida itu untuk dihentikan. “Kami juga mendesak panitia nobel penghargaan kepada Aung San Suu Kyi agar mencabut penghargaan tersebut, karena tidak pantas,” kata Michael.

Kedua, menuntut negara-negara ASEAN untuk menekan rezim militer Myanmar agar menghentikan praktik genosida terhadap etnis Rohingya. Massa juga mendesak agar status keanggotaan Myanmar di ASEAN dibekukan. Ketiga, mendesak PBB untuk ikut menangani secara sungguh-sungguh dan mengambil alih tragedi kemanusiaan di Myanmar itu.

Keempat, mengajak para aktivis HAM dan kemanusiaan di seluruh dunia untuk memberikan perhatian serius tehadap kejahatan kamanusiaan tersebut. “Kelima kita mendesak mahkamah kejahatan internasional untuk mengadili pihak-pihak yang bertanggung jawab atas praktik genosida terhadap etnis Rohingya,” tandas pernyataan itu.

Keenam, mendorong Pemerintah Indonesia untuk menerima para pengungsi Rohingya untuk sementara waktu sambil melakukan langkah-langkah diplomatik yang lebih tegas terhadap Myanmar. “Yang terakhir, usir Duta Besar Myanmar dan jangan lagi berada di Indonesia,” pungkas Michale Octaviano. (dan) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id