Lem Faisal: Tak Mungkin Jihad ke Rohingya | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Lem Faisal: Tak Mungkin Jihad ke Rohingya

Lem Faisal: Tak Mungkin Jihad ke Rohingya
Foto Lem Faisal: Tak Mungkin Jihad ke Rohingya

BANDA ACEH – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk Faisal Ali tidak sependapat jika sebagai muslim di Aceh membuka posko jihad untuk membantu Rohingya. Tindakan itu, menurut Lem Faisal, sapaan akrab Tgk Faisal Ali, hanya menghabiskan energi untuk satu hal yang tidak mungkin dilakukan.

“Tidak memungkinkan itu, maka jangan habiskan energi untuk hal-hal yang tidak mungkin. Kita alihkan saja ke posko kemanusiaan. Itu menurut saya,” katanya dalam Program Cakrawala Radio Serambi FM 90,2 MHz, Senin (4/9).

Hal itu ia sampaikan terkait amaran membuka posko jihad oleh Ketua Front Pembela Islam (FPI) Aceh, Tgk Muslim Atthahiri seperti diberitakan URI.co.id, Minggu (3/9).

Menurut Lem Faisal, kasus Rohingya bukan terjadi di Indonesia maka menurutnya sangat tidak mungkin lembaga masyarakat atau ormas menekan Myanmar. “Usaha itu tidak mungkin oleh ormas tetapi oleh pemerintah (negara). Kalau saya tidak sependapat membuka posko jihad, karena tidak mungkin kita datang ke sana. Tidak mungkin,” ujarnya.

Ia menegaskan, yang mungkin dilakukan masyarakat Aceh saat ini adalah membuka posko penggalangan dana dan disalurkan pada lembaga resmi. “Jadi itu saya rasa alihkan saja pada posko kemanusiaan, bukan posko jihad. Karena gak mungkin jihad ke sana,” katanya.

Qunut nazilah
Tgk Faisal Ali atas nama Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh juga menyeru kaum muslimin untuk membaca qunut nazilah bagi keselamatan warga Rohingya.

Doa dan solidaritas kemanusiaan merupakan langkah kongkrit yang saat ini bisa dilakukan untuk meringankan beban mereka. “Di dayah-dayah sudah dilakukan qunut nazilah, mari kita juga berdoa dan mohon para imam shalat bisa melakukannya setiap shalat lima waktu di masjid-masjid,” imbaunya.

Untuk itu, setiap pengurus masjid atau meunasah di mana digelar shalat berjamaah setiap waktu perlu memberikan arahan kepada para jamaah untuk sama-sama berdoa qunut nazilah.

Ia juga mendorong pemerintah melakukan langkah konkrit menekan Pemerintah Myanmar agar segera menghentikan kekerasan terhadap muslim Rohingya yang telah berlangsung selama 75 tahun.

Hal ini perlu segera dilakukan agar tidak muncul tindakan dari masyarakat karena melihat pemerintah tidak mengambil peran. “Ketegasan pemerintah sangat diperlukan. Jika tidak maka akan ada aksi balas dendam atas nama unsur agama. Kita berharap pemerintah berdiri di depan. Salah satunya mengusir dubes Myanmar. Nanti kalau sudah normal, ya kita kembalikan lagi,” ujarnya.

Ketegasan Pemerintah menurut Lem Faisal sangat diperlukan, untuk meredam amarah warga. “Kalau pemerintah tak tegas, masyarakat akan menganggap tak peduli. Masyarakat akan buat aksi balasan yang mengganggu harmonis kerukunan beragama,” ujarnya.

Mustahil
Senada dengan Lem Faisal, Dosen Hukum dan FISIP Unsyiah, Saifuddin Bantasyam menilai jihad ke Rohingya (Myanmar) sebagai sesuatu yang mustahil dilakukan. Alasannya, karena harus melewati batas negara, serta kondisi Myanmar yang bukanlah negera terbuka.

Menurutnya, untuk masuk ke negara Myanmar dengan tujuan berjihad bukanlah hal mudah. Bahkan saat ini wartawan internasional saja, sangat sulit masuk ke Myanmar untuk mengakses kondisi konflik Rohingya.

Namun, lanjut Saifuddin, pandangannya bukanlah untuk melemahkan niat orang yang ingin membantu. Dunia maupun Aceh memang harus mengutuk aksi Myanmar terhadap Rohingya, tapi kalau aksi yang lebih dari itu sangat sulit dilakukan dengan kondisi globalisasi seperti saat ini.

Bahkan, lanjutnya, PBB, Asean hingga negara berpengaruh di Eropa tidak akan mampu memberi pengaruh kepada Myanmar untuk mengubah kebijakan terhadap Rohingya.

Bedah Salam Serambi di Program Cakrawala bertajuk ‘Selamatkan Etnis Rohingya’ menghadirkan narasumber Redaktur Serambi Indonesia, Arif Ramdan dipandu Tia Andalusia. (ari/mun) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id