Kedubes: AS Jamin Kehidupan Muslim | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kedubes: AS Jamin Kehidupan Muslim

Kedubes: AS Jamin Kehidupan Muslim
Foto Kedubes: AS Jamin Kehidupan Muslim

BANDA ACEH – Sama seperti penganut agama minoritas lainnya, masyarakat muslim di Amerika Serikat (AS) diberikan kebebasan dalam melaksanakan ajaran agamanya di negara itu. Meskipun mayoritas penduduk AS nonmuslim, Pemerintah AS tetap menjamin hak masyarakat muslim untuk bekerja dan belajar dengan damai tanpa diskriminasi apapun.

Asisten Atase Bidang Budaya Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta, Maxwell S Harrington menyampaikan hal ini dalam diskusi publikdi sebuah kafe di Gampong Baru, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, Senin (4/9). Kegiatan itu kerja sama Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dengan Aceh Fulbright Association.

Menurut pria yang akrab disapa Max ini, muslim di AS tersebar hampir di semua kalangan mulai dari pekerja restoran, tentara, profesor, bahkan anggota kongres. “Islam adalah agama yang berkembang sangat cepat di AS bahkan dunia. Di AS, pemeluk Islam saat ini mencapai 1 persen dari populasi penduduk,” ujar Max, dan menyebut jumlah itu diprediksi meningkat dua kali lipat pada tahun 2050.

Dalam bekerja, katanya, setiap perusahaan di AS harus mengizinkan karyawannya untuk bebas melaksanakan ibadah, selama tidak berdampak bagi perusahaan tersebut. “Diberikan kebebasan kepada pekerja muslim untuk shalat lima kali sehari. Orang Amerika sangat mengerti itu,” jelas dia.

Begitu pula di bidang pendidikan, pemerintah menjamin tidak ada diskriminasi terhadap penganut agama tertentu. Max mencontohkan dalam pemberian beasiswa, tidak ada syarat yang menyulitkan pelamar dari agama tertentu untuk mendapat beasiswa. “Agama tidak memiliki dampak apapun dalam beasiswa, pengurusan visa, atau urusan administrasi lainnya selama masa pendidikan di AS,” katanya.

Maka dari itu, lanjut Max, Pemerintah AS mengajak masyarakat Indonesia terutama Aceh untuk memanfaatkan peluang belajar di negara tersebut. Apalagi saat ini segala informasi terkait pendidikan di sana dapat diakses melalui Education USA yang terletak di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. “Disana anda akan dibimbing untuk mendapatkan beasiswa ke AS,” ujar Max di hadapan dosen dan mahasiswa yang hadir dalam diskusi itu.

Sementara itu, peneliti dari Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Unsyiah, Saiful Mahdi SSi MSc PhD saat dikonfirmasi mengatakan, sebagai akademisi dan alumni beasiswa Fulbright AS, pihaknya ingin selalu membuka wawasan mahasiswa dan masyarakat umum tentang AS. Menurutnya, banyak persoalan yang timbul saat ini akibat informasi yang keliru.

“Amerika Serikat sangat welcome terhadap muslim. Saya sekolah di AS dan tahu betul bagaimana kehidupan di sana,” ujar Saiful. Dia juga mengatakan, Aceh memiliki alumni fulbright terbesar di Indonesia yang jumlahnya mencapai 150 orang. Sedangkan alumni beasiswa AS lainnya di angka 200an.

Ditanya bagaimana sikap AS terhadap tragedi yang menimpa etnis Rohingya di Rakhine, negara bagian Myanmar, Maxwell S Harrington mengaku bahwa Kedubes AS mengutuk serangan tersebut. Hal itu berdasarkan pernyataan resmi Kedubes AS di Myanmar pada 25 Agustus lalu.

“Kami mengutuk serangan tersebut dan berbelasungkawa kepada korban dan keluarga mereka,” kata Max. Menurutnya, aparat keamanan harus bertanggung jawab untuk menangkap pelaku dan mencegah kekerasan lebih lanjut. Pemerintah harus melindungi semua warga sipil yang tidak bersalah. (fit) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id