Dosen Hukum Unsyiah Sebut Berjihad Ke Myanmar Mustahil, Ini Alasannya | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dosen Hukum Unsyiah Sebut Berjihad Ke Myanmar Mustahil, Ini Alasannya

Dosen Hukum Unsyiah Sebut Berjihad Ke Myanmar Mustahil, Ini Alasannya
Foto Dosen Hukum Unsyiah Sebut Berjihad Ke Myanmar Mustahil, Ini Alasannya

URI.co.id, BANDA ACEH – Terkait adanya pembukaan posko jihad ke Myanmar, Dosen Hukum dan FISIP Unsyiah, Saifuddin Bantasyam menilai upaya itu mustahil dilakukan.

Alasannya, karena harus melewati batas negera, serta kondisi Myanmar yang bukanlah negera terbuka.

Meskipun saat ini Myanmar berada di bawah pimpinan Aung San Suu Kyi, yang juga peraih nobel perdamaian internasional.

Hal itu disampaikan Saifuddin Bantasyam dalam Talkshow Cakrawala Serambi 90,2 FM, Senin (4/9/2017).

Talkshow itu membedah Salam Harian Serambi Indoensia ‘Selamatkan Etnis Rohingya’, yang juga menghadirkan narasumber internal, Redaktur Serambi Indonesia, Arief Ramdhan dan dipandu oleh Tia Andalusia.

(Baca: Ke Kolam Mata Ie Bayar Tiket Rp 4 Ribu, Pas Udah Masuk Ternyata Airnya Cuma Segini)

Menurutnya, untuk masuk ke negara Myanmar dengan tujuan berjihad bukanlah hal mudah.

Bahkan saat ini wartawan internasional saja, sangat sulit masuk ke Myanmar untuk mengakses kondisi konflik Rohingya.

(Baca: Biksu Ashin Wirathu, Teroris Pembantai Muslim Rohingya, Kenali Enam Fakta Mengejutkan Si Botak Ini)

Namun, lanjut Saifuddin, pandangannya bukanlah untuk melemahkan niat orang yang ingin membantu.

Dunia maupun Aceh memang harus mengutuk aksi Myanmar terhadap Rohingya, tapi kalau aksi yang lebih dari itu sangat sulit dilakukan dengan kondisi globalisasi seperti saat ini.

Bahkan, lanjutnya, PBB, ASEAN hingga negara berpengaruh eropa tidak akan mampu memberi pengaruh kepada Myanmar untuk mengubah kebijakan terhadap Rohingya.

(Baca: Anggota DPRA Ini Siap Dipotong Gajinya 10 Persen untuk Muslim Rohingya)

Mengusir Dubes Myanmar di Indonesia juga dianggap tidak akan memberi dampak terhadap penderitaan Rohingya.

Menurutnya, saat ini muslim internasioal juga tidak kuat dalam hal bantuan kemanusian, termasuk muslim Indoneisa dan Aceh.

“Liat saja saat aksi solidaritas untuk Palestina di Banda Aceh, tidak ada yang datang, yang hadir, hanya sekitar 2 ribu orang. Padahal saat Aceh terkena tsunami solidaritas negara lain sangat besar,” ujarnya. (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id