Spiritualitas Ibadah Haji | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Spiritualitas Ibadah Haji

Spiritualitas Ibadah Haji
Foto Spiritualitas Ibadah Haji

Oleh Zulfata

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah maha kaya dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97)

IBADAH haji merupakan upaya sekelompok manusia yang telah memiliki syarat dan rukun untuk melaksanakan aktivitas penghambaan kepada Allah Swt. Upaya penghambaan ini tidak dapat dibatasi oleh kepentingan negara, politik, suku dan budaya. Tetapi praktik haji adalah ibadah super akumulatif dari potensi kemanusiaan untuk mencapai ma‘rifatullah (mengenal Allah) melalui berbagai praktik simbolis yang dilakukan di Baitullah. Artinya, segala pekerjaan syarat dan rukun haji merupakan instrumen spiritual untuk mengenal hakikat manusia, baik dari sisi personal maupun kolektif. Kajian ini fokus mengontekstualisasikan antara makna spiritualitas ibadah haji dengan stabilitas kedaulatan umat muslim di dunia.

Upaya mengontekstualisasikan tersebut tentunya akan mengungkapkan berbagai makna yang tersirat di balik sejarah dan tujuan pelaksanaan haji. Patut direnungkan bahwa aktivitas haji tidak hanya berimplikasi kepada calon jamaah haji atau subjek yang telah melaksanakan haji, tetapi pembelajaran haji memiliki sifat yang universal. Akan lebih menggugah ketika kita membandingkan semangat umat manusia untuk melaksanakan haji atas kontribusinya terhadap peradaban dunia dewasa ini. Publik telah mengetahui bahwa pelaksanaan haji bukanlah aktivitas yang baru dilakukan oleh umat muslim, dan publik paham bahwa pelaksanaan haji dapat dijadikan sebagai instrumen pemicu perkembangan ajaran Islam di dunia.

Kemuliaan dan keberkahan pelaksanaan haji tidak hanya membentuk ketakwaan personal dan kolektif, tetapi haji juga dapat dijadikan sebagai bahan renungan untuk menggali berbagai kebesaran Allah Swt baik dari sisi sosial, agama, politik dan ekonomi. Betapa tidak, historisitas dari pelaksanaan haji juga mengandung nilai religi, budaya dan politik yang kompleks pada masa Nabi Ibrahim as dan Ismail as. Sehingga tidak jarang ditemukan setiap momentum ibadah haji datang, kisah teladan Ibrahim dan Ismail selalu mewarnai wacana keislaman di berbagai media masa. Sungguh tidak terbatas analisis yang lahir dari pemaknaan ibadah haji, mutliperspektif seperti studi keluarga, mistik, hingga etnis. Fakta ini menunjukkan benarlah bahwa dalam Alquran terdapat prinsip-prinsip berbagai studi ilmu pengetahuan.

Tanpa mendeskripsikan syarat dan rukun tentang ibadah haji, sukses tidaknya pelaksanaan haji bagi suatu negara, sangat tergantung pada kebijakan politik mengenai regulasi haji. Dengan demikian, tidak keliru rasanyanya jika mengatakan bahwa upaya perbaikan politik juga diperoleh dari hikmah spiritualitas politik ibadah haji. Alasannya bahwa melalui kisah teladan Nabi Ibrahim as ketika berhadapan dengan permasalahan raja yang menyukai istrinya, Nabi Ibrahim as mampu menyikapinya dengan strategi politik kebudayaan pada masa itu, sehingga konflik dengan raja dapat dihindari. Jadi, sungguh merugi jika terdapat sekelompok manusia yang tidak mampu belajar dari kisah teladan Nabi Ibrahim as, terlebih dalam memaknakan spiritualitas ibadah haji.

Ibadah haji dan politik tidak dapat dipisahkan selama ibadah haji tersebut masih ditangani oleh pemerintah, Indonesia misalnya, ibadah haji ditangani oleh Kementerian Agama RI. Kualitas dalam menagangi prosesi ibadah haji oleh negara dapat diukur dari sejauhmana pemerintah mampu belajar dari nilai-nilai yang terkandung dalam Ibadah haji, sehingga praktik korupsi atas nama dana haji tidak terdengar lagi oleh publik nantinya. Dan argumentasi ini juga bagian dari proses memaknakan ibadah haji secara sosial politik. Dalam konteks ini, beberapa waktu yang lalu pemerintah Indonesia sempat heboh dalam hal regulasi dana haji untuk membangun infrastruktur negara, sehingga ibadah haji dan negara adalah kajian yang krusial setiap tahun.

Spiritualitas haji
Secara akademis, kata spiritual berasal dari bahasa Latin yang artinya roh atau batin (spiritus), jika pemaknaan secara etimologi, kata spiritualitas diartikan sebagai suatu nilai ilahiah yang terkandung dalam praktik simbolis oleh manusia. Dalam studi tasawuf, makna spiritual tidaklah bersifat tunggal. Artinya bahwa segala isi alam raya ini memiliki dimensi spiritualitas tersendiri. Potensi spritualitas pada suatu objek sangat tergantung pada pengalaman dan kesadaran keagamaan seseorang dalam memahami spiritualitas tersebut. Harus diakui bahwa tidak mudah untuk mengukur makna sebuah istilah spiritualitas ibadah haji, namun demikian, nilai-nilai pembelajaran (iktibar) yang terkandung dalam spiritualitas ibadah haji tersebut dapat dijadikan sebagai pegangan konkret dalam menciptakan klasifikasi tentang spiritualitas.

Dalam konteks batas-batas spiritualitas ibada haji, terdapat tiga pengelompokan: Pertama, spiritulitas religi. Untuk melaksanakan ibadah haji yang mabrur membutuhkan konsekuensi yang terkadang sukar diterima oleh akal yang bersifat positivistik. Demi menunaikan haji, para jamaah haji rela menghabiskan uang, mengantri dan mengeluarkan tenaga untuk mengikuti tahapan-tahapan pelaksanaan haji yang sah. Tentunya semua ini berangkat dari kesadaran jiwa dan pengaruh iman yang diyakini dari ajaran Islam.

Tolak ukur untuk melaksanakan ibadah haji tidak hanya diukur dari sebarapa banyak harta seseorang, tetapi unsur panggilan Tuhan sangat menentukan seseorang untuk dapat menunaikan ibadah haji, seungguh hal ini jauh dari jangkauan nalar umat manusia. Ibadah haji dapat menghilangkan dosa, mennyucikan hati, dan mengetahui jadi diri sebagai hamba untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Wujud takwa tersebut dapat lihat melalui kepribadian subjek yang melaksanakan ibadah haji, baik ketika di tanah suci maupun kembali ke tanah airnya. Sebagai rukun Islam yang ke lima, ibadah haji pada dasarnya bersifat sakral. Sehingga pengalaman pelaksanaan ibadah sangat tergantung pada kesungguhan subjek haji dalam mengambil hikmah di balik semua prosesi ibadah tersebut.

Kedua, spiritualitas politik, pengelompokan ini berlandaskan dari nilai kejernihan hati dan keteladanan yang dipraktikkan oleh jamaah haji. Relevansinya dengan politik, semestinya perilaku politik yang berkembang dewasa ini harus mampu merefleksikan diri dari substansi pelaksanaan haji, karena hikmah ibadah haji tidak hanya untuk pembelajaran rohani dan alam gaib, melainkan hikmah ibadah haji juga dapat memberikan pembelajaran terhadap perkembangan politik dan ekonomi. Bagi sebagian masyarakat menganggap spiritual tidak ada hubungannya dengan politik. Seolah-olah politik cenderung mengusrus potensi kekuasaan yang bersifat administratif. Terlebih dalam anggapan para oknum politisi, spiritulitas politik hanyalah sebuah konsep ideal yang tidak bersifat empiris, dengan tidak menyebutnya utopis.

Padahal anggapan yang sedemikian dapat dikatakan sangat keliru. Hal ini menjadi penting karena umat muslim cenderung kalah dalam pertarungan ekonomi politik global, sehingga negara-negara muslim seperti Arab Saudi, Mesir dan Iran cenderung tersandung konflik ekonomi politik global. Padahal masing-masing negara tersebut berada dalam satu ajaran agama Islam yang selalu mengajarkan tentang perdamian dan persahabatan sesama muslim.

Ketiga, Spiritualitas humanis. Pengelompokan ini berkaitan dengan persoalan kemanusiaan. Hampir semua suku, etnis dan bahasa yang berbeda-beda di dunia dapat disatukan melalui pelaksanaan ibadah haji. Berbagai teori yang berkaitan dengan egaliter dan Hak Azazi Manusia dapat dilampaui oleh substansi pelaksanaan haji. Fakta ini menyampaikan informasi bahwa untuk menjaga persatuan umat muslim dan untuk menjaga nilai egaliter sesama manusia dapat ditempuh melalui pendekatan ketauhidan dalam Islam. Suka tidak suka, hanya konsep tauhid yang mampu menyatukan umat muslim di dunia, dan tanpa tauhid, umat muslim akan terus tenggelam dan terlena dalam konflik perbedaan antar sesamanya, padahal perbedaan adalah gejala sunatullah yang tidak mungkin dihindari oleh manusia.

Pembelajran tentang persatuan dan persamaan hak antar manusia pada praktik ibadah haji dapat dipahami melalui pakaian ihram. Para jamaah haji dituntut untuk sama agar tidak adanya perbedaan pakaian antara para pejabat dengan rakyat, atau para ulama dengan pembisnis. Semua jamaah haji memiliki satu harapan yang sama, yakni berharap mendapat ridha dan ampunan Allah Swt dengan prediket haji yang mabrur. Sisi lainnya, tidak tertutup kemungkinan terdapat jamaah haji yang masih “berasap” dalam memaknakan substansi ibadah haji, sehingga daya cinta terhadap Allah Swt tidak mampu dirasakan oleh jamaah haji tersebut. Fenomena ini jika meminjam bahasa Muhammad Iqbal, seorang filosof muslim yang mengatakan bahwa kualitas daya tarik cinta yang dirasakan oleh jamaah haji dapat melampui kualitas daya tarik gravitasi bumi.

Semestinya implikasi momentum ibadah haji juga dapat meningkatkan pembangunan SDM terhadap perkembangan negara yang aktif dalam mengurus ibadah haji. Dalam konteks Indonesia, tanpa menghitung jumlah subjek haji yang masih hidup dan seberapa banyak menikmati bulan Zulhijah, semestinya harus berbanding lurus dengan pembangunan SDM di Indonesia. Alasannya karena kita telah sepakat bahwa hikmah dari ibadah haji tidak hanya berlaku kepada subjek yang melaksanakan haji, tetapi hikmah tersebut berlaku untuk semua umat muslim. Dan sejarah pergerakan Indonesia telah membuktikan bahwa peranan subjek-subjek haji seperti Haji Agus Salim, Haji Oemar Said Tjokroaminoto hingga Buya Hamka yang telah sukses menorehkan tinta emas dalam perkembangan SDM di Indonesia, baik dari sisi politik, budaya maupun agama. Dengan demikian, tidak berlebihan jika mengatakan bahwa tanggung jawab ibadah haji dapat dibuktikan; sejauhmana umat manusia mampu mewujudkan peradaban dunia.

* Zulfata, M.Ag., alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan peminat kajian agama dan politik internasional. Email: fatazul@gmail.com (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id