Membuka Hati, Menanti Solusi demi Generasi Penerus (6-Habis) | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Membuka Hati, Menanti Solusi demi Generasi Penerus (6-Habis)

Membuka Hati, Menanti Solusi demi Generasi Penerus (6-Habis)
Foto Membuka Hati, Menanti Solusi demi Generasi Penerus (6-Habis)

URI.co.id, BANDA ACEH – Saat ini pembangunan fisik IPAL sudah berjalan 42 persen lebih. Tiang-tiang besi sudah tertancap dalam tanah sedalam belasan meter.

Dua kolam raksasa penampung tinja juga sudah digali. Selanjutnya akan dibangun jaringan perpipaan induk dari lokasi IPAL tembus ke rumah warga di Peuniti, Kecamatan Baiturrahman.

Baca: IPAL Penting, Tapi jangan Ganggu Situs

Lalu limbah tinja lebih 2.000 warga akan mengalir ke dalam dua kolam penampungan.

Sebuah pemandangan yang dilematis di tengah kerisauan banyak pihak akan hilangnya bukti-bukti sejarah Kerajaan Aceh Darussalam.

Semua pihak berharap agar Pemko Banda Aceh punya solusi dan bertindak lebih bijak.

Baca: IPAL dan Misteri Raja Sulaiman di Gampong Pande (3)

“History define ourselves,” kata Cut Putri, aktivis lembaga Darut Donya kepada URI.co.id yang ikut turun ke lokasi proyek IPAL bersama jurnalis dan arkeolog, Rabu (30/8/2017).

Wanita perekam vidoe tsunami 2004 ini mengajak semua pihak menyadari betapa pentingnya menyelamatkan sejarah Aceh dari kepunahan.

“Kita tidak boleh diam. Walaupun IPAL dibangun menggunakan dana dari pusat, Pemko punya hak untuk menghentikan, kita tunggu respons. Kalau pemerintah diam saja, ini akan terjadi friksi di masyarakat,” ujarnya.

Baca: Ide ‘Gila’ yang Dihujat dan Ditolak (4)

Menurut Cut Putri bukan saja situs sejarah di lokasi IPAL yang harus diselamatkan.

Menurut hasil observasi dan penelitian para peneliti dari Perancis dan Turki, di bawah gunungan sampah TPA Gampong Jawa juga diduga kuat terdapat struktur bangun tua peninggalan sejarah Kerajaan Aceh.

“Keberadaan bangunan ini semestinya juga harus diselamatkan. Tapi sekarang apa yang terjadi, lokasi ini sekarang sudah berubah menjadi gunungan sampah, sesuatu yang amat memiriskan hati kita,” ujar perempuan keturunan bangsawan Aceh ini.

Semua pihak menurutnya tidak perlu melemparkan kesalahan pada siapa pun.

Menurut Cut Putri yang terpenting adalah bagaimana upaya mendorong agar situs bersejarah yang terdapat di dua lokasi, IPAL dan TPA Gampong Jawa dapat diselamatkan.

Baca: Seperti Melumuri Muka dengan Kotoran Sendiri (5)  

“Semua upaya sudah dilakukan. Bukti-bukti juga sudah ada, tak ada keraguan lagi. Tinggal sekarang keikhlasan dari hati pemimpin kita untuk meninjau kembali semua ini demi generasi penerus,” tambah Tarmizi A Hamid yang kerap disapa Cek Midi, kolektor naskah kuno Aceh.

Menurutnya tidak ada satu negara pun di dunia ini yang akan melakukan hal sekonyol itu, membuang kotoran di atas makam para raja dan ulama mereka.

Bahkan negara sesibuk apa pun di dunia ini, pasti akan memilih tempat paling buruk dan terasing untuk membuang tinja.

Baca: Warga Protes Proyek IPAL

Apalagi diketahui di lokasi tersebut terdapat situs bersejarah.

“Ketika diketahui atau diduga saja ada situs budaya dan bersejarah ditemukan, sebenarnya pembangunan apa pun harus dihentikan dulu, untuk kemudian diteliti,” ujarnya.

Ketua Lembaga Khazanah Raja Aceh, Teuku Raja Zulkarnaini berpendapat bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah.

Menurutnya pada tahun 2011 lalu Pemko Banda Aceh sebetulnya sudah mendata 61 hektare luas situs sejarah di Gampong Pande.

Namun pendataan ini tidak diikuti dengan proteksi dan langkah pemeliharaan maksimal dari pemerintah.

“Apalagi di Gampong Pande jelas adalah kota kerajaan, ada pabrik senjata, pencetak uang. Ini dibuktikan dengan artefak yang ditemukan arkeolog. Bukti-bukti sejarah ini harus dipelihara dan dijaga kelestariannya,” ujarnya.

Baca: Komandan Al-Asyi: Pemusnahan Situs Sejarah di Gampong Pande Harus Segera Dihentikan

Sejak isu IPAL mengemuka, Pemko Banda Aceh belum mengambil satu langkah kongkret untuk merespons keresahan publik atas fakta tergusurnya situs peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam di area proyek IPAL.

Asisten II Setdako Banda Aceh, Iskandar mengatakan, dalam waktu dekat Pemko Banda Aceh akan menggelar pertemuan dengan mengundang pihak pelaksana proyek IPAL, konsultan, tokoh masyarakat, dan arkeolog.

Akankah sebuah solusi dicapai? (Membuka Hati, Menanti Solusi demi Generasi Penerus (6-Habis)) (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id