Warga Houston Kendalikan Sendiri Bencana Hurricane | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Warga Houston Kendalikan Sendiri Bencana Hurricane

Warga Houston Kendalikan Sendiri Bencana Hurricane
Foto Warga Houston Kendalikan Sendiri Bencana Hurricane

ZUHERNA BAHARI, mantan wartawati Harian Serambi Indonesia, melaporkan dari tempatnya bermukim, Houston, Amerika Serikat

BANYAK yang bisa dipelajari dari cara penanggulangan bencana alam Hurricane Harvey di Houston yang dianggap sebagai bencana terbesar di US tahun ini. Dalam topan/badai, halilintar, hujan deras, dan banjir selama empat hari empat malam (26-29 Agustus) yang menimpa Houston, jaringan listrik tetap menyala, internet “on” di hampir semua rumah, dan air bersih tersedia setiap saat. Yang juga mengagumkan adalah sigapnya para polisi dan pemadam kebakaran merespons panggilan-panggilan darurat (emergency calls) dari warga. Warga memang cukup familiar dengan “Call 911”. Anak kecil saja tahu.

Namun, selama Hurricane Harvey, di sejumlah website dan media sosial, warga diingatkan untuk hanya menelepon 911 apabila benar-benar dalam kondisi emergency, terutama yang menyangkut keselamatan hidup. Karena itulah ketika suami saya, Juan Al-Arashi, terperangkap banjir saat pulang kantor, Sabtu (26/8) pagi, dia dan beberapa pengendara lainnya terpaksa “menginap” tiga malam di sebuah kantor dekat dengan international airport. Mereka mendapat bantuan makanan dari sebuah hotel transit terdekat. Bahkan diizinkan mandi.

“Jangan khawatir,” katanya kepada saya via telepon. “Semua cukup di sini. Saya bisa shalat. Semua ada hikmahnya. Saya bisa mengisi waktu untuk berdakwah di sini, memperkenalkan Islam secara intensif kepada nonmuslim yang terjebak di sini.” Mereka memutuskan tidak menelepon 911 karena merasa tidak dalam kondisi yang mengancam keselamatan hidup.

Di Kota Houston ada sekitar 10 dispatchers 911. Tim 911 ini biasanya terdiri ata para polisi, paramedis dengan ambulansnya, dan pemadam kebakaran. Dalam hitungan menit biasanya tim 911 ini sudah sampai ke lokasi korban. Mengingat alamat-alamat rumah/perkantoran sangat terorganisir, dan mudah dicari dengan mengunakan GPS. Korban akan diminta terus berbicara dan tidak menutup teleponnya sampai tim 911 tersebut muncul di depan pintu. Namun, dalam kondisi banjir, para petugas emergency kadang harus menggunakan boat dan membutuhkan waktu yang relatif lamban mencari alamat/lokasi korban. Saat Hurricane Harvey kemarin itulah saya saksikan bahwa medsos seperti Twitter atau Facebook berperan sangat penting. Warga di kompleks-kompleks perumahan di Houston cukup aktif menggunakan fasilitas Groups di Facebook, di samping Groups lainnya yang berbasis bisnis, politik, keagamaan, dan sebagainya.

Response Group FB di kompleks-kompleks perumahan-–atau perkampungan–tersebut kerap mengalahkan kecepatan 911. Terutama untuk keadaan-keadaan darurat yang membutuhkan bantuan dalam hitungan detik, tapi bukan yang menyangkut “keselamatan hidup”.

Ketika seorang ibu memposting bahwa dia perlu susu merek tertentu untuk bayinya, seorang tetangga langsung datang mengantarkan susu. Sang ibu lalu meng-update posting-nya dengan remark “problem solved”. Juga bantuan-bantuan lain seperti makanan, diapers, mengungsikan orang-orang jompo ke tempat yang lebih aman, mobil yang terjebak banjir dan perlu dorongan, genteng bocor yang harus segera ditangani, dan sebagainya. Umumnya warga siap membantu tanpa melihat suku, agama, dan lainnya.

Minat warga untuk menjadi relawan atau bahkan “pahlawan kamanusiaan” cukup tinggi di negara ini. Mereka bukan hanya siap membantu, tapi juga menawarkan bantuan. Misalnya, seseorang mem-posting: Saya punya boat. Text saya jika kalian perlu bantuan. Atau “stock lilin kami cukup banyak, kalau listrik mati dan kalau ada yang tak punya lilin, ambil di sini.”

Di Houston Muslim Group (HMG), pemilik perusahan remodeling (kontraktor) yang muslim, menawarkan jasa untuk memperbaiki genteng yang bocor sehari siap secara gratis. Warga muslim di Houston juga bisa saling mengabarkan kalau ada rumah muslim yang rusak dan tak punya asuransi. Mereka bisa lagsung menerima bantuan uang/sedekah pada hari yang sama setelah membuat rekening di gofundme.com.

Sedangkan rumah-rumah nonmuslim umumnya memiliki asuransi. Bagi muslim, mereka percaya bahwa asuransi itu hukumnya haram. Sedangkan untuk asuransi mobil yang memang “diwajibkan” oleh pemerintah-–jika tak berasuransi, tak boleh mengendara mobil-— oleh para ulama menghalalkan asuransi sejenis ini.

Sejumlah sekolah, gereja, dan masjid yang terletak di kawasan-kawasan tinggi dijadikan tempat-tempat penampungan pengungsi sementara (shelter). Bantuan yang diterima shelter-shelter berupa pakaian, selimut, sepatu, payung, makanan, diapers, sampai ke toilet tissue berlimpah. Lebih dari cukup.

Hari ini, Rabu (30/8), ketinggian air mulai turun. Hurricane kabarnya bergeser ke kota lain di negara bagian Lousiana, berbatasan dengan Texas. Para pengendara yang terperangkap di tempat-tempat tertentu bisa pulang dijemput teman atau keluarga. Suami saya juga alhamdulilah bisa pulang dengan selamat. Sedangkan mobil yang terendam air kemungkinan akan diganti oleh pihak asuransi.

Sebagian pengungsi juga sudah pulang. Hanya pengungsi-pengungsi yang rumah mereka masih kebanjiran ataupun rusak parah masih bertahan di tempat pengungsian, karena kenyataan air bah belum sepenuhnya menghilang.

Yang mengagumkan bagi saya, sampai hari kelima Hurricane Harvey, listrik di kota Houston masih menyala. Luar biasa. Bandingkan dengan PLN kita di Aceh yang kadang tak ada hujan, tak ada angin, listriknya mati dua kali seminggu.

Akan lebih baik jika warga tinggal/menetap di rumah masing-masing. Tidak ke mana-mana.

Terbukti setelah hurricane berakhir, hari ini, media-media memuji ketegasan Sylvester Turner, Wali Kota Houston. Memang sebaiknya warga tidak perlu dievakuasi. Warga Houston terbukti cukup siap dan sigap menghadapi bencana tersebut secara mandiri. (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id