Menantang Sangarnya Gelombang Hingga Kerap Bernasib Apes | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menantang Sangarnya Gelombang Hingga Kerap Bernasib Apes

Menantang Sangarnya Gelombang Hingga Kerap Bernasib Apes
Foto Menantang Sangarnya Gelombang Hingga Kerap Bernasib Apes

Cerita Nelayan Kecil di Aceh Singkil

SORE pekan kedua Agustus. Angin berhembus kencang memicu gelombang tinggi. Tujuh perahu nelayan kecil, memilih melego jangkar di muara Anak Laut Gosong Telaga, Singkil Utara. Ketika cuaca sedikit membaik perahu-perahu kayu itu tanpa komando kembali menuju ke lautan lepas. “Tidak usah jauh-jauh cuaca lagi sedang tidak bagus,” kata Nuar, nakhoda perahu berukuran 10×1,5 meter yang ditumpangi Serambi.

Tempias air asin membasahi muka ketika perahu dengan mesin pemotong rumput itu melaju. Perahu menghempas tak karuan akibat tamparan ombak laut. Waktu beranjak malam, hasil pancingan baru sekitar lima ekor. Tiba-tiba angin berhembus kencang. Sang nakhoda perahu memerintahkan penumpang perahu segera menggulung tali pancing. Perahu melanju menuju daratan terdekat.

Perasaan cemas pun muncul ketika ombak menghempas perahu. Sesekali terasa di puncak ketinggian ketika perahu naik di atas ombak. Sesaat kemudian perahu seolah tersedot ke dasar laut ketika ombak terlewati. Bagi Nuar serta Safni yang bertugas menaik dan menurunkan jangkar perahu, kondisi laut seperti itu merupakan hal biasa. Safnil sejak kelas tiga SMP sudah menemani sang ayah melaut.

Ia pernah terjebak gelombang besar di kawasan Pulau Banyak. Sedangkan Nuar pernah beberapa kali terombang ambing di lautan akibat mesin sampanya mati terendam air laut. Keduanya berpesan agar tidak meninggalkan perahu ketika menghadapi cuaca buruk. Sebab berdasarkan pengalaman perahu kayu tak akan tenggelam walau diterjang badai. “Kuncinya jangan tinggalkan perahu walau terkena badai karena tak akan tenggelam,” kata Safnil.

Ia menuturkan perasaan bahagia menjadi nelayan ketika hasil tangkapan melimpah. Namun jika dibandingkan ternyata lebih banyak dukanya. Inilah yang menjadi penyebab mayoritas nelayan hidup miskin, bahkan terlilit utang. Resiko nelayan yang kerap mempertaruhkan keselamatan menghadapi cuaca buruk mencari nafkah di laut, acap kali tak sebanding dengan penghasilan. “Mudah saja menghitungnya seperti kita bekal berangkat habis Rp 100 ribu. Tapi hasilnya tidak ada, inilah yang kerap dialami nelayan kecil,” ujar Nuar.

Tingginya resiko yang dihadapi nelayan di lautan mulai mendapat perhatian serius pemerintah. Salah satunya dengan program perlindungan berupa asuransi bagi nelayan. “Perlindungan asuransi sudah diberikan kepada 984 nelayan dari total 6.000 orang. Sisanya dilakukan secara bertahap,” kata Kadis Perikanan Aceh Singkil, Ismed Taufiq.

Program lainnya adalah dengan membangun pabrik es, memberikan alat tangkap jaring serta membangun tempat penyimpanan ikan (cold storage) dan memfasilitasi kepemilikan tanah berupa sertifikat gratis. Nelayan berharap Pemkab Aceh Singkil membantu menciptakan mata pencarian alternatif agar ketika cuaca tidak bersahabat nelayan tidak memaksakan diri melaut.(dede rosadi) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id