Kurban Sehat dan Halal | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kurban Sehat dan Halal

Kurban Sehat dan Halal
Foto Kurban Sehat dan Halal

Oleh Rahmat Fadhil

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah (karena Rabbmu pula)” (QS. al-Kautsar: 2)

ALHAMDULILLAH dan syukur kehadirat Allah Swt kita dipertemukan kembali dengan bulan Zulhijjah yang penuh dengan nilai-nilai ibadah, di antaranya adalah ibadah kurban. Kurban dalam bahasa Arab disebut dengan udh-hiyyah, yang bermakna menyembelih hewan ternak dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt pada hari-hari tertentu (10, 11, 12, 13 Zulhijjah) dengan syarat-syarat khusus (An-Nasafi dalam kitab Thalabatuth-Thalabah Fi Isthilahat al-Fiqhiyyahdan Sayyid Sabiqdalam Fiqih Sunnah). Bahkan Imam Nawawi di dalam kitabnya Al-Majmu’ menyebutkan bahwa perkataan udh-hiyyah karena pelaksanaan kurban itu lebih utama disembelih pada waktu dhuha (ketika matahari telah naik).

Sehubungan dengan pelaksanaan kurban itu, tulisan ini mencoba untuk memberikan sedikit pemahaman kepada kaum muslimin sebagai bahan ulang kaji tentang kurban sehat dan halal didalam Islam. Pentingnya pengetahuan ini mengingat tidak sedikit yang berkurban, panitia pelaksana, pedagang ternak untuk qurban dan masyarakat umum, terlupa atau terluput dari hal-hal penting tentang pelaksanaan ibadah kurban ini. Padahal tujuan utamanya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, tentulah persyaratan dan prosedurnya sepatutnya telah diketahui dengan seksama agar sempurnalah nilai ibadah di sisi-Nya.

Satu hal terpenting dalam ibadah kurban adalah memilih hewan kurban yang sehat, ini termasuk sebaiknya memilih yang paling baik, paling gemuk dan paling bagus, sebagaimana firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267).

Ciri-ciri hewan kurban yang sehat dapat diamati pada hal-hal berikut ini: Pertama, hewan tersebut aktif bergerak, lincah, nafsu makan baik, dan agak agresif; Kedua, tidak mengeluarkan darah dari lubang-lubang yang ada ditubuhnya, meliputi mulut, telinga, kemaluan dan dubur. Ini juga sebagai cara untuk mendeteksi bila hewan tersebut terinfeksi Anthrax; Ketiga, rambut atau bulu tidak kusam, bila terjadi sebaliknya maka bisa jadi ada indikasi cacing hati; Keempat, hewan qurban memiliki kuku yang baik, sehat, utuh dan tidak cacat, dan; Kelima, perhatikan pada lubang hidung biasanya sedikit basah yang menandakan hewan normal. Begitu juga pada bagian mata biasanya terlihat bersinar dengan baik.

Selain kelima hal tersebut di atas, untuk kurban masih memiliki syarat lainnya, yaitu cukup umur. Beberapa panduan yang dapat dijadikan rujukan adalah sebagai berikut: Pertama, hewan kurban telah berganti gigi (musinnah); Kedua, Telah genap satu tahun dan masuk tahun ke-dua untuk kambing dan domba, dua tahun masuk tahun ketiga untuk sapi (tsaniyah), dan; Ketiga, telah genap berumur enam bulan untuk domba ekor gemuk (jadza’ah), yang dapat juga diketahui dari keadaan gigi hewan tersebut, sebagaimana pesan Rasulullah saw, “Jangan kamu menyembelih untuk qurban melainkan yang `mussinah’ (telah berganti gigi) kecuali jika sukar didapat, maka boleh berumur satu tahun (yang masuk kedua tahun/tsaniyah) dari kambing/domba.” (HR. Muslim).

Kurban halal
Mungkin ada pertanyaan, bukankah semua kurban itu halal? Lalu mengapa bisa jadi haram? Begini penjelasannya; Daging sembelihan kurban bisa menjadi haram karena penanganan dalam penyembelihannya tidak mengikuti adab penyembelihan hewan yang baik. Misalnya, hewan setelah disembelih tapi belum mati sudah dipotong kakinya, atau dipotong ekornya dan dikuliti. Ini berarti bahwa kita memotong kaki hewan tersebut, memotong ekornya dan mengulitinya dalam keadaaan hidup-hidup atau masih hidup. Sudah tentu tindakan ini sangat menyiksa hewan tersebut, sehingga boleh jadi hewan ini mati bukan karena sembelihan, namun karena kesakitan dari tindakan kita memotong dan mengulitinya dalam keadaan masih hidup.

Oleh karenanya, kita perlu ingat kembali kaidah fiqh-nya bahwa daging hewan halal yang tidak disembelih secara syar’i, maka hukumnya menjadi haram. Sehingga sangatlah penting untuk dipahami bahwa hewan kurban itu tidak boleh dipotong kakinya, dipotong ekornya, dan dikuliti jika hewan tersebut belum mati, sebagaimana sabda Nabi saw Abu Waqidi menyatakan, “Bagian mana saja yang dipotong dari binatang yang masih hidup, maka ia sama dengan bangkai.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Untuk itu kita perlu ilmu agar dapat memastikan bahwa hewan tersebut telah mati dengan sempurna. Ada beberapa cara untuk memeriksanya: Pertama, reflek mata. Untuk memastikan hewan telah benar-benar mati, setelah disembelih dan tidak bergerak lagi, kita dapat menyentuh bola mata (pupil) hewan tersebut dengan jari tangan. Jika masih memberikan reaksi, maka berarti hewan masih hidup karena syarafnya masih aktif. Akan tetapi bila tidak bereaksi lagi, maka hewan tersebut telah mati;

Kedua, reflek kuku. Pada unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba, di antara kedua kuku kakinya terdapat bagian yang sangat sensitif. Untuk memastikan hewan telah mati, maka kita dapat menggunakan ujung pisau dengan menusuk pada celah kuku kakinya tersebut. Jika masih bereaksi, maka hewan tersebut masih hidup, namun bila sebaliknya berarti hewan telah mati; Ketiga, reflek ekor. Ekor pada setiap hewan merupakan satu tempat berkumpulnya ujung-ujung saraf yang sangat sensitif. Kita dapat menggunakan cara ini untuk memastikan hewan telah mati dengan sempurna, yaitu dengan memencet (menekan) batang ekornya. Bila masih adanya reaksi, maka hewan tersebut belum mati, dan jika sebaliknya maka hewan tersebut telah mati dengan baik.

Jadi pastikanlah hewan-hewan kurban yang kita sembelih nanti, sebelum dipotong atau dikuliti, benar-benar telah mati dengan sempurna, sehingga menjadi sempurnalah penyelenggaraan ibadah kurban kita. Semoga Allah Swt memberikan rezeki yang halal dan baik kepada kita, sehingga dengan karunia-Nya itu kita dapat menyisihkan sebagiannya untuk menunaikan ibadah kurban tahun ini. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Rahmat Fadhil, Sekretaris Umum MIUMI Aceh dan Dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id