Idul Adha 1438 H, Ini Kisah Rakyat di Rumah Pejabat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Idul Adha 1438 H, Ini Kisah Rakyat di Rumah Pejabat

Idul Adha 1438 H, Ini Kisah Rakyat di Rumah Pejabat
Foto Idul Adha 1438 H, Ini Kisah Rakyat di Rumah Pejabat

URI.co.id, BANDA ACEH – Barangkali tidak semua orang mengetahui apa yang terjadi di Meuligoe Aceh, saban kali ada acara Open House (OP) pada setiap Hari Raya. 

Prosesi OP Idul Adha 1438 H kali ini, tak kalah mencengangkan, sekaligus melegakan hati. Ribuan masyarakat datang bertamu  ke Meuligoe Aceh  alias Pendapa Gubernur Aceh.

Mulai-dari anak-anak, muda-mudi, dewasa, tua, laki-laki, dan perempuan. Meuligoe semarak dengan warna-warni  baju-baju baru mereka.

Meuligoe yang tadinya teduh dan “sepi” berubah menjadi rumah besar bagi rakyat. Riuh redam bagai di sebuah pesta kawinan.

Suara tangis bayi dan lasaknya anak-anak telah memberi warna. Yang jelas, tetamu sangat leluasa berlalulalang hingga ke ruang dalam Meuligoe. Terserah.

(Baca: Sungguh Akhir Yang Indah, Sulaiman Meninggal Di Rakaat Kedua Shalat Idul Adha)

Siapa yang mau bersantap makanan Hari Raya di bawah teratak di halaman depan, silakan. Yang lebih suka makan bersama di ruangan yang tersambung teras depan Meuligoe, ya monggo.

Oh, ada yang mau masuk dan duduk di ruang tamu utama Meuligoe, siapa yang larang?  Ada juga satu ruangan yang lebih ke dalam, penuh dengan hidangan, eh berjubel juga tamunya. Untung AC Meuligoe berfungsi dengan baik.

Padahal, pagi 1 September 2017 sudah tepat pukul 11.00 wib, namun kendati prosesi Jumat sedikit lagi tiba, di situ pula tamu masih berbondong-bondong.

Ada dengan kanak-kanak di kiri kanannya, ada yang menggendong bayi. Beragam keperluan. Datang untuk makan lalu pergi, untuk foto bareng Nyonya Gubernur Aceh, Darwati A Gani, untuk melihat-lihat “dalaman”-nya Meuligoe.

Bahkan ada yang datang, bersantap, keliling Meuligoe, lalu bawa pulang makanan dalam kotak berlapis, berani lalu-lalang pula di teras depan. “Ya ampun, pake bawa pulang segala. Banyak pulak tu,” gerutu seorang tamu lain.

Lain halnya dengan seorang nenek yang terbilang lusuh, dengan percaya diri dan keluguannya  ingin sekali jumpa Bapak Ibu Gubernur Aceh.  Ada pula seorang ibu separuh baya bahkan sempat memegang lengan Darwati.

(Baca: Puskesmas Singkil tak Pinjamkan Ambulans ke Pasien Miskin, Ada Apa dengan Dokter Cantik?)

“Nyak, lon watee nyan na meuteumeng ija krong syit. Man jinoe lon meujak woe, peuna neubi membacut (Nak, hari itu saya ada dapat kain sarung. Jadi sekarang saya mau pulang, apa ada pemberian sedikit),” tanya perempuan itu dengan sungguh-sungguh setengah memelas.

“Uroenyoe uroe raya mak, hana ija krong,” jawab Darwati  bernada keibuan. So, perempuan itu tetap meminta, yang akhirnya diberi “angpau” juga, seperti para tamu khusus yang kanak-kanak. Makjang, semua tamu tetap terlayani. Itu adilnya pihak Meuligoe.

Lalu dengan telaten juga Nyonya Meuligoe melayani rakyat, yang belum rela pulang bila tak berfoto dengan “ibu negeri”nya.

Padahal masih banyak orang yang antre hendak jabat tangan. Apalagi pihak protokoler tak “tega” juga melarang foto bareng itu, sekalipun sangat memakan waktu.

Memang agak lucu sih menonton lakonan yang bukan lelucon itu. Namun itulah faktanya. Rakyat yang heterogen dengan segala keperluan dan kemauannya. dengan segala ketidaktahuannya, semisal tak eloknya membawa-bawa pulang makanan, yang seharusnya bisa untuk  jatah tetamu lain. Barangkali dia berpikir, toh open house itu memang untuk rakyat kok.

(Baca: Begini Momen Ketika Irwandi Dikepung Ibu-ibu di Nagan Raya)

Dalam plus minus OP  itu, toh tuan rumah sengaja menyiapkan makanan  untuk sepuluh ribu porsi. Sudah diprediksi sebelumnya. Bahkan ini dirancang dua minggu sebelum hari H.

“Walau pun ada jeda jumatan, tapi nanti open house kan berlanjut.  Jadi kita sipakan yang banyaklah. Kali ini ada variasi lain dalam hidangan yang kita sajikan. Memang sih umumnya menu masakan Aceh, terutama yang unik. Seperti asam udeung, beulacan, itek masak puteh, sie reuboh, kuah beulangong. Tapi ada makanan pendamping lain. Misalnya yang kami sajikan lewat gerobak-gerobak jajanan. Misalnya es krim, bakso,” sebut Darwati.

Persis pukul 12.00 wib, pintu-pintu masuk depan dan belakang Meuligoe Aceh  mulai ditutup. OP pun break sejenak, dan dilanjutkan usai Jumatan. Satu per satu  rakyat pulang.

Kebanyakan mengendarai sepeda motor, mobil bak terbuka, dan banyak juga yang menggunakan beca. Hanya puluhan saja yang berkendara mobil dinas dan pribadi di siang itu.

Barangkali rakyat lapis  atas tersebut  telah menjambangi gubernur dan keluarga sebelum pukul 11.00 wib. Bukankah undangan bagi rakyat seperti yang tersiar di akun media social Darwati, yaitu pukul 11.00, walau rakyat kebanyakan sebelum jadwal itu sudah ramai berdatangan. (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id