Komandan Al-Asyi: Pemusnahan Situs Sejarah di Gampong Pande Harus Segera Dihentikan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Komandan Al-Asyi: Pemusnahan Situs Sejarah di Gampong Pande Harus Segera Dihentikan

Komandan Al-Asyi: Pemusnahan Situs Sejarah di Gampong Pande Harus Segera Dihentikan
Foto Komandan Al-Asyi: Pemusnahan Situs Sejarah di Gampong Pande Harus Segera Dihentikan

URI.co.id, BANDA ACEH – Emas walaupun terkubur di bawah tumpukan sampah dan tinja tetap akan berkilau. Kalimat itu pantas dianalogikan terhadap kondisi situs sejarah makam para raja dan ulama Aceh yang tergerus dengan Proyek Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande, Banda Aceh.

Karena digerus dengan pembangunan proyek tinja, lokasi yang bernilai sejarah bagi rakyat Aceh itu kemudian menimbulkan reaksi perlawanan dari semua kalangan masyarakat.

Baca: IPAL Penting, Tapi jangan Ganggu Situs

Reaksi masyarakat terus bermunculanbaik dari para ulama, pengiat sejarah, akademisi hingga politisi pun bermunculan. Mereka angkat bicara terkait pembiaran lokasi situs bekas Istana Darul Makmur ini sebagai lokasi pembuangan sampah.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan cicit dari Sultan Aceh ini angkat suara. Pang Ulee Komandan Al Asyi, Tuanku Warul Waliddin memprotes keras pembangunan proyek IPAL itu seperti dalam pernyataan tertulis kepada URI.co.id, Rabu (30/8/2017).

Baca: Anggota DPR-RI Protes Proyek IPAL

Ia menilai, banyaknya aksi protes masyarakat Aceh ini menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli dan tidak acuh terhadap situs warisan indatu Kesultanan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayatsyah (1514-1530).

Ia mengatakan, beberapa tahun yang lalu kawasan itu dihebohkan dengan penemuan koin emas dan sepasang pedang yang diperkirakan berusia ratusan tahun sejak era Kesultanan Aceh masih tegak.

Maka apa yang dilakukan pada hari ini oleh Pemerintah Aceh yang didanai dari APBN dan ada sekitar Rp 2,3 miliar dari APBK dengan total Rp 107 miliar sejak 2015, 2016, hingga 2017 seakan tidak membaca tanda-tanda dari temuan ratusan koin emas beberapa waktu yang lalu.

“Seharusnya pada pascapenemuan koin emas tersebut harusnya pemerintah harus segera melakukan penelitian dan kajian lebih lanjut dan serius ada apa sebenarnya di Gampong Pande, Gampong Jawa, Peulanggahan, dan Keudah,” ujar cicit dari Sultan Aceh ini.

Sebagaimana disebutkan Tuanku Warul Waliddin yang juga cicit Sultan Aceh Terakhir ini bahwa didalam Buku Sejarah Aceh Seperti “Aceh Sepanjang Abad” karya Muhammad Said dan “Susunan Pemerintahan Aceh semasa Kesultanan” karya Van Langen telah disebutkan ada 5 wilayah yang dipimpin langsung oleh Sultan sejak awal Kesultanan hingga berakhir pada Perang Aceh-Belanda 1873.

Baca: ARSIP – Gampong Pande, Riwayatmu Kini

Gampong tersebuta adalah Gampong Pande, Gampong Jawa, Gampong Peulanggahan, Gampong Keudah dan Gampong Merduati, yang kesemuanya itu saat ini berada dalam kecamatan KutaRaja, Banda Aceh.

“Artinya siapapun Wali Kota Banda Aceh yang memimpin Banda Aceh wajib menjaga dan melestarikan kawasan ini, karena lokasi ini sangat tinggi nilai sejarah dan spiritualnya bagi yang paham sejarah Aceh. Tidak boleh dirusak apalagi dijadikan tempat kotor yang jauh dari kesucian,” katanya.

Baca: ARSIP – Gampong Pande, di Sini Kuta Raja Bermula

Karena menurutnya, dahulu para Sultan juga merupakan seorang ‘alim ulama yang selalu menjaga kesucian dari kotoran dan najis. Namun hari ini kita biarkan makam-makam beliau terkotori dengan kotoran dan najis.

“Kami dari Komandan Al Asyi menegaskan akan terus menuntut dihentikankannya proyek IPAL dan pembuangan sampah di lokasi ini hingga kapanpun apabila para petinggi negeri ini tidak mengambil keputusan penghentian pembuangan limbah di lokasi ini,” tegas Tuanku Warul dan Tuanku Muhammad. (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id