Menemukan Masjid Kerajaan hingga Merusak Kawasan Inti Situs (2) | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menemukan Masjid Kerajaan hingga Merusak Kawasan Inti Situs (2)

Menemukan Masjid Kerajaan hingga Merusak Kawasan Inti Situs (2)
Foto Menemukan Masjid Kerajaan hingga Merusak Kawasan Inti Situs (2)

URI.co.id – Masih dalam misi menelusuri situs sejarah di Gampong Pande, tim Liputan Khusus URI.co.id juga menyambangi sebuah lokasi rawa, tidak jauh dari area pembangunan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL).

Hanya butuh waktu lima menit dari lokasi IPAL, para jurnalis dan arkeolog tiba di sebuah kawasan yang banyak ditumbuhi bakau dan nipah.

Di lokasi inilah tim menemukan bongkahan batu bersusun memanjang menyerupai sebuah struktur bangunan.

(Baca: PENGANTAR Lipsus Proyek Tinja di Makam Ulama)

Bila dilihat lebih teliti, struktur fondasi bangunan ini saling berkait hingga beberapa meter ke dalam rawa.

Beberapa bagiannya memang tidaK utuh lagi karena tergerus air payau.

Balai Arkeologi Medan sebelumnya sudah meneliti keberadaan bekas struktur bangunan itu.

Kesimpulan awal diyakini itu adalah struktur fondasi masjid tua peninggalan kerajaan.

Keyakinan ini juga didukung adanya temuan benda lainnya di lokasi yang sama menyerupai kubah.

Temuan fondasi bangunan dan kubah menunjukkan di kawasan ini dulunya ada aktivitas peribadatan.

“Kita menduga juga di sini dulu ada pasar. Sebab dalam sebuah kerajaan Aceh dulu ada masjid, pasar, istana, dan alu-alun. Karenanya perlu membuat rekonstruksi gambar secara ilmiah terhadap temuan ini,” ujar arkeolog Dr Aceh Husaini Ibrahim yang ikut bersama tim.

(Baca: Ironi Penguasa di Tanah Para Raja (1))

Ia memperkirakan masjid tersebut dibangun antara masa dua dinasti Kerajaan Aceh, Meukuta Alam, dan Darul Kamal.

Menurut catatan sejarah, Dinasti Meukuta Alam didirikan Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496-1528 yang kemudian dilanjutkan dengan beberapa sultan lainnya.

(Baca: FOTO-FOTO Nisan Ulama dan Raja Aceh di Komplek Pembuangan Sampah)

Sultan terakhir yang memimpin Dinasti Meukuta Alam adalah Sultan Zainal Abidin ibn Abdullah pada tahun 1576-1577.

Sedangkan Dinasti Darul Kamal dipimpin Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil pada tahun 1589-1604 dan dilanjutkan Sultan Ali Riayat Syah pada tahun 1604-1607.

Peleburan dari kedua dinasti ini kemudian lahirlah Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam pada tahun 1607-1636.

Masih di area dekat pembangunan IPAL, tim arkeolog juga menemukan beberapa makam tua bernisan.

(Baca: Karena Sejarah Dikira Dongeng (Meratapi Gampong Pande))

Namun keberadaan kompleks makam ini sulit dijangkau dengan berjalan kaki karena jalannya berlumpur.

Menurut informasi, kuburan itu hanya meninggalkan nisan, tanpa kerangka.

“Tidak tahu dimana sekarang kerangkanya,” ujar dia.

Husaini menjelaskan dalam ilmu arkeologi area temuan situs bersejarah dibagi tiga.

Ada kawasan inti, kawasan penyangga, dan kawasan pengembangan yang bisa dieksplorasi untuk ilmu pengetahuan dan pariwisata.

Kawasan inti adalah kawasan dimana benda atau artefak bersejarah ditemukan.

“Penemuan nisan tua di lokasi ini jelas menandakan ini (kawasan IPAL) sebagai kawasan inti. Karenanya sebagai kawasan inti tidak boleh diganggu, apalagi artefak yang ditemukan kemudian dipindahkan ke lokasi lain,” ujarnya.

(Baca: Mapesa Rilis Foto-foto Penemuan Nisan Saat Penggalian Kolam Limbah)

Menurutnya ketentuan ini jelas diatur dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Bahwa apabila ditemukan artefak atau diduga tempat tersebut adalah situs bersejarah maka harus diproteksi.

Segala kegiatan pembangun harus dihentikan dengan alasan apa pun.

“Diduga saja, sudah harus ada upaya untuk melindungi. Apalagi kalau jelas-jelas ada temuan di lokasi, pemerintah wajib melakukan perlindungan, bukan malah menghilangkannya atau memindahkannya ke tempat lain,” ujarnya.

Diakuinya secara parsial beberapa area di Gampong Pande sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Namun tidak secara keseluruhan kawasan.

“Harusnya ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya menyeluruh yang dilindungi, karena pusat pemerintahan Kerajaan Aceh di Gampong Pande ini sangat luas,” ujarnya.

Karena itu Husaini meyakini area pembangunan IPAL sekarang adalah bagian dari kawasan inti Kerajaan Aceh yang di dalamnya tersimpan banyak artefak maupun makam para raja dan ulama.

Asumsi ini dikuatkan dari hasil pengamatan sembilan nisan yang ditemukan di dalam galian kolam besar penampungan tinja di lokasi pembangunan IPAL.

(Baca: VIDEO: Liputan Khusus, Proyek Tinja di Makam Ulama)

Dari bentuk dan motif, nisan itu adalah diduga milik para raja dan ulama.

Sedangkan keberadaan istana kerajaan diperkirakan saat ini tidak ditemukan lagi karena sudah tenggelam beberapa ratus meter ke dalam laut.

“Karena itu keberadaan jaringan perpipaan limbah tinja IPAL dan TPA Gampong Jawa jelas tidak cocok di kawasan ini,” ujar penulis buku “Awal Masuknya Islam ke Aceh, Analisis Arkeolog dan Sumbangannya pada Nusantara”, ini.(Anshari Hasyim) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id