Dosen Aceh Kirim Surat Terbuka untuk Presiden, Manusiakah Mereka, Atau Apa? | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dosen Aceh Kirim Surat Terbuka untuk Presiden, Manusiakah Mereka, Atau Apa?

Dosen Aceh Kirim Surat Terbuka untuk Presiden, Manusiakah Mereka, Atau Apa?
Foto Dosen Aceh Kirim Surat Terbuka untuk Presiden, Manusiakah Mereka, Atau Apa?

URI.co.id, BANDA ACEH – Surat terbuka seorang warga Aceh kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) beredar di media sosial Facebook.

Surat itu ditulis dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi, yang berisi tentang keprihatinannya terhadap pembantaian kaum muslim Rohingya, di kawasan Rakhine, Myanmar.

Dalam suratnya, Rustam mengharapkan Presiden merespons tragedi buruk tersebut.

“Saya tidak paham, bagaimana langkah cepat dan tegas sesegera mungkin yang dapat dan harus Bapak Presiden lakukan. Setahu saya, Bapak adalah seorang Presiden dari sebuah negara yang berdaulat dengan rakyatnya yang mayoritas beragama Islam (Muslim),” tulisnya.

(Baca: Di Padang Arafah, JCH Aceh Terisak Doakan Nasib Kaum Muslim Rohingya)

Rustam memposting surat itu sekitar pukul 20.00 WIB, Rabu (30/8/2018) malam. Dan sampai pukul 14.00 WIB hari ini, tulisan tersebut telah dibagikan sebanyak 375 kali.

Berikut isi lengkap surat terbuka tersebut:

“SURAT UNTUK BAPAK PRESIDEN JOKOWI”

Yang Terhormat :
Presiden Republik Indonesia
Bapak JOKO WIDODO
di- JAKARTA,-

Assalamua’laikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Bapak Presiden Jokowi yang saya Banggakan.
Sebelumnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah memberanikan diri menyurati Bapak di saat mungkin Bapak sedang disibuki oleh tugas-tugas Negara yang tidak ringan dan penuh kompleksitas. Sekali lagi, saya mohon maaf Bapak Presiden.

(Baca: Cerita Warga Rohingya: Menakutkan, Desa Dibakar, Banyak Anak dan Orang Tua Terpisah)

Bapak Presiden yang Sangat saya Kagumi.
Terus terang, hari-hari terakhir ini saya merasakan keharuan, keprihatinan, bahkan keperihan hati yang tak terkira tiap saat saya membaca dan melihat derita yang sedang dialami oleh Saudara Seiman, Kaum Muslim Rohingya di Myanmar. Saya yakin, perasaan yang sama juga dirasakan oleh Saudara-saudara saya yang lain, termasuk juga oleh Bapak Presiden yang mulia.

Perasaan yang haru biru ini saya utarakan bukanlah berlebihan, Bapak Presiden. Hati siapa yang kuat melihat ragam bentuk penyiksaan, perlakuan, hingga pada pembunuhan yang dilakukan oleh pihak yang berkuasa melalui tangan-tangan mereka yang mengaku beragama (para Budhist), yang amat tidak beradab, jauh dari nilai-nilai moral, dan sangat tidak berperikemanusiaan.

Betapa banyak orang yang tidak berdosa harus meregang nyawa, hanya karena nafsu dan ambisi mereka yang tidak mencerminkan sikap kaum beragama. Ini belum termasuk mereka yang harus terusir dari tempat tinggalnya dan terpaksa mengungsi entah ke mana, tak jelas nasib dan masa depannya.

(Baca: Mengenal Attaullah, Pemimpin Gerakan Arakan yang Membela Muslim Rohingya)

Bapak Presiden yang saya Teladani.
Bagaimana sanggup hati ini memandang seorang anak Balita yang tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, tapi diperlakukan seperti anjing, dililit talinya di lehernya, lalu diarahkan merangkak di depan para Biksu yang terlihat seperti bergembira puas memandang si anak tadi.

Bagaimana hati ini sanggup memandang mayat-mayat anak kecil Muslim Kaum Rohingya tergeletak dengan kucuran darah segar, layaknya binatang yang baru disembelih, setelah rumah kediamannya dibakar dan harta mereka dimusnahkan.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar..
Manusia apa itu, para pelakunya? Manusiakah mereka, atau apa? Ke manakah nurani mereka? Haruskah mereka berperilaku sebrutal itu untuk kaum Rohingya, termasuk bagi anak-anak kecil Muslim Rohingya itu?

(Baca: Militer Myanmar dan Pemberontak Rohingya Saling Serang, 100 Orang Tewas dan Ribuan Muslim Mengungsi)

Bapak Presiden yang Berhati Mulia.
Tidak ada ajaran agama yang mengajarkan sifat-sifat biadab dan penuh sadis begitu. Saya dan kami yang berdiam di Tanah Aceh, juga di Tanah Air ini, yang mayoritas beragam Islam tidak pernah melakukan kekejaman sesadis itu untuk mereka yang tak seiman.

Saya dan kami sangat menghargai arti keberagaman. Teman-teman saya banyak yang Non Muslim juga, namun kami hidup berdampingan dengan interaksi sosial yang baik dan harmonis. Agama adalah tuntunan yang diwariskan sesuai dengan Takdir Allah SWT.

Salahkah jika mereka, kaum Rohingya menjadi Muslim, menganut Islam sebagai agama mereka? Patutkah juga jika kami yang mayoritas di Tanah Air ini (Muslim) harus memaksa mereka yang minoritas (Non Muslim) untuk mengalihkan Keyakinan yang mereka anut selama ini? Tentu tidak Bapak Presiden yang Mulia.

Bapak Joko Widodo yang Penyayang dan Bersahaja.
Diakhir nukilan singkat ini, saya amat bermohon kepada Bapak Presiden untuk merespon tragedi buruk yang kini sedang menimpa Kaum Muslim Rohingya di Myanmar. Tragedi yang benar-benar amat menyayat dan memilukan hati.
Saya tidak paham, bagaimana langkah cepat dan tegas sesegera mungkin yang dapat dan harus Bapak Presiden lakukan.

(Baca: Serba-Serbi Kehidupan Kim Jong-un yang Penuh Misteri)

Setahu saya, Bapak adalah seorang presiden dari sebuah negara yang berdaulat dengan rakyatnya yang mayoritas beragama Islam (Muslim). Rasanya semua Saudara yang Seiman di Tanah Air, juga di Dunia, saat ini sedang menanti perhatian dan perlakuan untuk menyelamatkan Kaum Muslim Rohingya.
Derita Muslim Rohingya adalah derita kita Muslim semua. Bahagia Muslim Rohingya juga kebahagiaan kita semua.

Bapak Presiden Joko Widodo yang Amat saya Hormati.
Saya tidak tahu, apakah surat ini akan sampai ke hadapan Bapak Presiden. Sungguh saya benar-benar tidak tahu. Namun, setelah menulis surat ini perasaan saya sedikit lebih tenang, kendati rasa haru mendalam masih menyesakkan dada saya.

Terus terang, saya adalah seorang guru/pendidik. Saya bukan orang partai, atau aktivis kemanusiaan. Semua yang saya tulis ini murni ungkapan hati saya kepada Bapak Presiden selaku pemimpin, yang juga presiden pilihan saya.

Mohon maaf, jika ada nuansa yang tidak indah dalam nukilan ini, sehingga membuat Bapak Presiden tidak nyaman karenanya. Sekali lagi, mohon maaf Bapak Presiden.
Saya berdoa semoga Bapak selalu dalam keadaan sehat walafiat dan tetap dalam lindungan Allah Subhanahu Wata’ala. Aamiinn..

Banda Aceh, 30 Agustus 2017
Wassalam,

Rustam Effendi
Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Syiah Kuala/
Pengamat Ekonomi Aceh (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id