Idul Kurban; Kebersamaan, Kepedulian, dan Keteladanan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Idul Kurban; Kebersamaan, Kepedulian, dan Keteladanan

Idul Kurban; Kebersamaan, Kepedulian, dan Keteladanan
Foto Idul Kurban; Kebersamaan, Kepedulian, dan Keteladanan

Oleh Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA, Rektor UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

HARI Raya Idul Adha atau hari raya kurban yang diperingati umat Islam pada tanggal 10 Zulhijjah tidak terlepas dari sejarah Nabi Ibrahim yang menyembelih putra kesayangannya, Ismail, karena menjalankan perintah Allah Swt. Kisah pengorbanan kedua rasul Allah yang tercatat dalam Alquran ini menjadi ibadah yang disyariatkan dalam Islam dan menjadi salah satu amalan yang dicintai-Nya.

Kurban atau qurban secara harfiah berarti dekat. Dalam ajaran Islam, kurban juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, kerbau, dan kambing atau kibas yang disembelih pada hari Raya Idul Adha atau hari tasyrik.

Ibadah kurban sesungguhnya merupakan bentuk kepasrahan seorang hamba kepada Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Karena dilaksanakan pada puncak peringatan Hari Raya Idul Adha, maka tak jarang momentum Hari Raya Idul Adha itu disebut juga hari raya kurban.

Idul Adha, erat kaitannya dengan dua hal, yakni ketaatan dan pengorbanan sebagaimana representasi dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, `Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu’. Ia menjawab: Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS: As-Saffat; 102).

Ayat Alquran di atas telah mengajarkan kita bagaimana keimanan Nabi Ibrahim as yang diperintahkan Allah Swt untuk menyembelih putra kesayangannya. Inilah yang kita sebut dengan ketaatan dan pengorbanan. Taat dalam semua perintah Allah, meski harus mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai. Kemudian pengorbanan, yaitu rela dengan ikhlas, mengorbankan apa pun yang kita miliki, di jalan Allah, termasuk orang-orang yang paling kita cintai.

Kisah teladan dua kekasih Allah itu pula telah menyugesti umat Islam untuk berlomba-lomba berkurban pada setiap Idul Adha. Lantas, apakah kurban itu hanya berkaitan erat dengan ketaatan dan pengorbanan? Tentu saja tidak, kurban telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Islam, khususnya Indonesia wabil khusus lagi, Aceh.

Bagi masyarakat Aceh, kurban juga erat kaitannya dengan kehidupan sosial, sehingga ada nilai-nilai yang bisa dipetik dari ibadah yang dianjurkan tersebut. Masyarakat Aceh tidak hanya menjadikan kurban sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, tetapi lebih dari itu.

Pertama, kebersamaan. Kurban adalah ritual paling dinanti usai melaksanakan shalat Idul Adha. Masyarakat bersama-sama menyaksikan dan menyembelih hewan kurban. Semangat memupuk kebersamaan tergambarkan dalam ritual ini, sebagaimana kebersamaan umat muslim dunia—pada hari yang sama—sedang berkumpul di Arafah, Muzdalifah, dan Mina dalam konteks ibadah haji.

Selanjutnya, kepedulian. Bukankah dengan menyembelih hewan kurban juga telah menunjukkan sikap kepedulian terhadap sesama? Ibadah kurban juga telah menyadarkan umat Islam akan keharusan membangun persaudaraan dan rasa kepedulian terhap sesama. Kurban merupakan sebuah amalan kepada Allah yang manfaatnya langsung dirasakan oleh orang-orang yang membutuhkannya.

Kurban juga harus menjadi estafet bagi semua umat Islam untuk terus memupuk kepedulian terhadap sesama. Maka, jangan pula menafsirkan kurban itu sembelih hewan, membagikan, dan makan, itu salah. Tapi kurban ini harus dimaknai sebagai batu loncatan bagi kita semua, untuk terus melakukan hal yang sama, meski tidak dengan kurban.

Momentum kurban ini setidaknya mengingatkan kita bahwa masih banyak saudara kita yang belum tersentuh kesejahateraan dan mereka mengharapkan kepedulian kita. Maka, di luar Hari Raya Idul Adha, hendaknya kita senantiasa tetap ‘berqurban’ dan memupuk kepedulian kita kepada yang lainnya.

Terakhir, nilai dari ibadah kurban adalah keteladanan. Momentum Idul Adha merupakan contoh keteladanan keluarga Nabi Ibrahim as yang dengan tulus ikhlas karena Allah. Ibrahim telah menunjukkan sikap keteladanannya, melaksanakan semua perintah Allah Swt. Ibrahim dan Ismail telah menunjukkan kepatuhan totalitas sebagai hamba kepada Tuhan.

Kisah inspiratif dan religius ini tentunya harus kita adopsi, bukan hanya dalam melaksanakan ibadah kurban semata, tapi juga dalam melaksanakan semua perintah Allah Swt. Tentunya, di era sekarang, kita berharap para pemimpin di negeri ini juga senantiasa mengikuti jejak ketaladanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim as beserta keluarga.

Kita tentu merindukan sosok pemimpin yang tidak menambah kekayaan melalui kekuasaaannya, tapi kita rindukan pemimpin yang menghabiskan kekayaannya lewat kepemimpinan itu. Maka oleh sebab itu, keteladanan Nabi Ibrahim as ini sepatutnya dimiliki oleh setiap pemimpin kita saat ini yang berani mengorbankan segalanya dalam melaksanakan perintah Allah, juga dalam konteks menyejahterakan masyarakat. (dan) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id