IPAL Penting, Tapi jangan Ganggu Situs | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

IPAL Penting, Tapi jangan Ganggu Situs

IPAL Penting, Tapi jangan Ganggu Situs
Foto IPAL Penting, Tapi jangan Ganggu Situs

BANDA ACEH – Anggota DPRK Banda Aceh, Zulfikar Abdullah mengatakan sebenarnya pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) di kawasan Gampong Pande-Gampong Jawa yang kini masih berjalan penting bagi warga kota. “Cuma yang jadi masalah karena IPAL menganggu situs. Seandainya situs tidak terganggu, mungkin tidak ada yang menolak proyek ini,” kata Zulfikar kepada Serambi, kemarin.

Menurutnya, tak ada yang salah dalam perencanaan proyek yang dikerjakan sejak 2015 ini. Sebab, saat peninjauan lokasi tidak tampak situs sejarah seperti nisan-nisan ulama dan raja di tempat tersebut. Tapi, ketika dikerukan kolam-kolam IPAL, baru ditemukan nisam yang diduga tertimbun saat tsunami akhir 2004 lalu.

“Kita tidak menyalahkan siapapun, tapi harus diakui Pemko Banda Aceh tak pernah membuat peta situs sejarah. Nisan atau kuburan ulama atau raja dulu bertebaran di Banda Aceh, terutama di Gampong Jawa dan Gampong Pande. Kita tak tahu berapa luas area situs sejarah di sana,” katanya.

Meski IPAL penting, kata Zulfikar, tapi bila mengganggu situs sejarah, maka pemerintah harus memberikan perhatian khusus untuk menyelamatkan situs sejarah tersebut. Apakah dengan memindahkan lokasi IPAL atau menggeser kolam IPAL yang terkena situs sejarah, tapi proyek nasional tersebut tak boleh dihentikan.

Secara terpisah, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Muhammad Nur meminta proyek IPAL dikaji ulang. Ia menilai pengerjaan proyek tersebut terburu-buru dan dipaksa karena tidak ada kajian yang mendalam dari Pemko Banda Aceh.

“Kita mendesak Pemko Banda Aceh segera menggagas pertemuan atau dialog yang lebih konfrehensif dan mengedepankan prinsip-prinsip berkeadilan dan bermartabat yang melibatkan semua komponen masyarakat,” kata Muhammad Nur, kemarin.

Dikatakan, makam-makam ulama tidak bisa dipindah untuk alasan apapun, apalagi untuk kepentingan proyek. Kalau dipaksa pindah, sama dengan memindahkan situs cagar budaya. “Situs cagar budaya itu tidak bisa dibeli pakai uang, karena terbentuk oleh keadaan sejak zaman purbakala. Beda dengan proyek IPAL sebagai ciptaan pembangunan karena uang,” ungkapnya.

Permintaan hampir sama juga disampaikan Wali Kota Banda Aceh, AmiIPAL Penting, Tapi jangan Ganggu Situsah Usman SE Ak MM. “Kami minta pemerintah pusat meninjau kembali lokasi IPAL di Gampong Pande.

Saya sudah meminta Dinas PU memanggil kontraktornya,” tegas AmiIPAL Penting, Tapi jangan Ganggu Situsah di sela-sela Rapat Paripurna Pandangan Fraksi terhadap Rancangan Qanun tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBK 2016, Selasa (29/8).

Dikatakan, dirinya akan mempelajari kembali proyek IPAL tersebut. Sebab, pekerjaannya sudah dimulai sebelum ia menjabat Wali Kota.(mas/mir) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id