Wukuf; Mengadili Diri di Arafah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Wukuf; Mengadili Diri di Arafah

Wukuf; Mengadili Diri di Arafah
Foto Wukuf; Mengadili Diri di Arafah

Oleh Yusra Habib Adul Gani

ARAFAH adalah bumi merdeka dan bertuah, karena disinilah jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia tumpah-ruah, mengawali ibadah haji pada 9 Zulhijjah. Di tengah lautan manusia ini, seseorang menganggap dirinya tidak sedang berada dalam kemajemukan manusia yang memiliki kesamaan dan perbedaan kepentingan; akan tetapi berada dalam kesunyian diri, kesepian, dan kesendirian. Bumi Arafah bukanlah ruang para ilmuwan, cendikiawan, ulama dan pemimpin untuk berdebat atau berdiskusi tentang ilmu pengetahuan, politik, kekuasaan dan urusan dunia lainnya.

Di sini, eksistensi diri sebagai bagian dari kolektif lebur dan terkubur. Tiada siapa pun yang tampak di mata dan hati, kecuali diri Anda (hamba) yang berkomunikasi dengan bahasa menggugah, berharap semoga ratapan, tangisan, permohonan ampun dan maaf didengar oleh Allah Swt. Itu sebabnya, di Arafah tidak ada gerak fisik yang agresif, kecuali gerak hati, perasaan dan mulut –terfokus kepada kuantitas dan kualitas doa yang dipersembahkan ke hadhirat Khaliq (Allah)– diperebutkan dan dipertarungkan oleh jutaan jamaah haji melalui jaringan komunikasi langsung yang paling tersibuk saat itu, di mana bumi dan langit Arafah menjadi saksi.

Sebenarnya, proses untuk menuju ke tahap kesadaran keimanan di padang Arafah, sebelumnya sudah pun diperkenalkan dengan aksi Tawaf Umrah di Masjidil Haram sejumlah tujuh kali dan melakukan Sa’i Umrah (berlari kecil) antara Bukit Safa dan Marwah, juga sebanyak tujuh putaran. Angka 7 dalam bahasa Arab, selain berarti hitungan 1 s/d 7; juga bermakna tiada terhingga. Dengan perkataan lain, aksi Tawaf yang dikerjakan secara fisik –mengitari sudut Hajarul Aswad, sudut Iraqi, Syami, dan Yamani– adalah benar tujuh kali putaran.

Akan tetapi nilai keimanan yang diperoleh dari putaran tersebut bukan tujuh kali lipat, melainkan bernilai tidak terhingga, karena aksi yang diperankan oleh Nabi Ibrahim as (ayah) dan Ismail as (anak) sama sekali tidak dapat diukur dari jarak yang ditempuh melakukan Tawaf, melainkan muatan seikhlas mana seseorang melakukan ibadah haji; karena keputusan Ibrahim dan Ismail seperti digambarkan: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab: “Hai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffaat: 102), di mana kualitasnya berada di luar jangkauan imajinasi dan melangkahi tindakan manusia normal yang nilainya tidak terhingga.

Refleksi keimanan
Aksi yang diperankan oleh kedua-dua tokoh dalam ibadah Haji adalah refleksi keimanan transendental yang tiada tara. Itulah sebabnya, siapa pun yang mengerjakan shalat wajib satu kali di Masjidil Haram, fadhilah-nya mencapai 100 ribu kali, berbanding mengerjakan shalat di tempat lain.

Demikian pula gerak fisik ketika melakukan Sa’i antara Safa dan Marwah, adalah benar tujuh kali keliling, yang ide awalnya berasal dari kisah Siti Hajar yang terpaksa berlari meninggalkanatau membiarkan puteranya (bayi Islmail) di Safa keseorangan yang rentan dari ancaman keganasan binatang buas, dapat ditafsirkan sebagai realitas; demi mengejar sebuah fatamorgana ke arah Bukit Marwah yang menjanjikan tetesan air pembasuh darah bayi dan tubuh beliau, adalah harapan. Kehidupan manusia ternyata pertarungan untuk memilih antara realitas dan harapan yang putarannya tiada terhingga. Dalam konteks inilah dikatakan bahwa realitas yang kita saksikan ini sebenarnya bukanlah sebuah atau satu-satunya harapan. Harapan yang sesungguhnya adalah “kehidupan akhir yang lebih baik daripada kehidupan di dunia” (QS. Adh-Dhuha: 4).

Oleh karena itu, bumi Arafah adalah bentuk kesadaran penyerahan diri, mengubur diri ke dalam zikir dan menyerasikan rentak antara fisik dengan moral Anda, menyelam ke dasar lautan iman yang begitu dalam untuk menemukan fragmen keimanan yang paling berharga, dikemas dan diangkat ke permukaan hingga membentuk sebuah kepribadian bernilai abadi, menjadi sosok muslim berbudi mulia, berani, tegas dan rendah hati.

Berangkat dari pemahaman ini, maka langkah seterusnya melakukan Wukuf pada 9 Zulhijjah di Arafah, yang merupakan puncak dari ibadah haji, yaitu proses mengasingkan diri atau menempatkan diri kedalam arena kesunyian –seakan-akan gladi resik Padang Mahsyar– menunggu giliran dihisab oleh Allah Swt. Oleh sebab itu, walaupun berada di tengah jutaan manusia, tetapi pada hakikatnya, seseorang berada dalam kesendirian, kesunyian, dan kesepian. Tiada siapa pun di Arafah, kecuali Anda yang berzikir, meminta dan Allah yang memberi ampun! Arafah adalah kamp konsentrasi untuk mengubur diri kedalam zikir, merubuhkan bangunan arogansi dan keakuan, sekaligus menukarnya kepada sosok muslim yang tegar, sabar, tawakkal, tulus, membangun percaya diri dan percaya bahwa hanya Allah Swt satu-satunya kuasa pelindung manusia.

Di sini, seseorang tidak melakukan demonstrasi dan orasi, karena lokasi ini merupakan laboratorium keimanan untuk merapatkan dan menghangatkan hubungan antara hamba dan Khaliq, belajar mengenali wajah Arafah dan bukit Jabal Rahmah yang gersang, terjal dan curam, mencari inspirasi demi menghadapi perang akbar pada hari-hari berikutnya (10-13 Zulhijjah) memerangi Jumratul Ula, Jumratul Wusta, dan Jumratul Aqabah di medan perang Mina.

Setelah melewati proses kematangan moral dan keimanan di Arafah; jamaah haji segera memasuki “zona inteligen” –bukit Muzdalifah– pada 9 malam Zulhijjah, di mana pasukan perang bermalam di sini sambil memantau dari ketinggian, kejauhan dan kegelapan malam bukit Muzdalifah yang berkerikil, berbatu tajam dan berpasir ke arah lembah Mina “markas berhala” (medan perang sesungguhnya) untuk mengkaji, membaca peta kekuatan musuh dan membekali diri dengan senjata –63 butir batu– yang akan digunakan. Setiap orang mesti merahasiakan jenis senjata yang digunakan dan strategi serangan handal mendadak yang akan dimainkan di medan perang Mina.

Konsep dan metode menakluki musuh –tiga jumrah– versi Ibadah haji sangat berbeda dengan konsep dan metode perang yang dikenal secara umum dalam peradaban manusia. Yang lazim berlaku adalah merayakan kemenangan setelah meraih kemenangan dalam sebuah peperangan; sementara versi haji segalanya terbalik. Kemenangan justeru dirayakan sebelum melancarkan perang terhadap berhala tiga jumrah yang bermarkas di lembah Mina. Argumentasinya adalah jika Anda hendak melancarkan dan memenangkan sebuah peperangan –menaklukkan musuh dan membebaskan wilayah kedaulatan iman dan wathan– maka sejak awal lagi mesti mempersiapkan pasukan handal bermental baja, teguh iman, sabar, tawakkal, percaya diri, tidak berkhianat dan yakin dengan senjata yang dimiliki, niscaya membuat musuh kucar-kacir dan tidak mampu mempertahankan diri.

Kesiapan mental
Konsep kesiapan mental, ketulusan dan tekad di Arafah dan membangun jaringan inteligen serta kajian strategi penyerangan di bukit Muzdalifah dan sistem serangan total war yang dilancarkan secara mendadak di lembah Mina versi haji ini, telah diadopsi dan dimodifikasi oleh Thariq bin Ziyad –Panglima perang Islam– yang berjaya menaklukkan Andalusia, Spanyol. Thariq bin Ziyad, bersama 7.000 tentara yang terlatih menyeberang ke Spanyol dan mendaratkan pasukannya di kepulauan Gilbraltar, tepatnya di dekat Jabal Thariq, pada 711 Masehi.

Setelah menyeberangkan pasukannya ke daratan Spanyol, Thariq membakar perahu-perahu pasukannya. Lantas beliau katakan, “Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di depan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa, kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain, kecuali pedang dan tidak ada makanan bagi kalian, kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati dan janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak lebih buruk dari pada nasibku.” Sekarang hanya ada dua pilihan, “perang atau mati.” (Shuwarun min Hayatil Fatihin).

Keputusan ini telah menjungkir-balikkan teori perang para pakar perang Barat. Andalusia akhirnya ditaklukkan oleh tentera Islam. Seiring dengan kejayaan ini, Gubernur Musa bin Nusair mengabarkan kepada Khalifah Al-Walid bahwa “Penaklukan ini berbeda dari penaklukan-penaklukan lain. Peristiwanya seperti kiamat.”

742 Tahun kemudian, tampil Muhammad al-Fatih, sosok yang taat beribadah, berusia 21 tahun, cerdas dan menguasai enam bahasa, mengadopsi “konsep Arafah, Muzdalifah, dan Mina”, sehingga berhasil menaklukkan kerajaan Rum yang berpusat di Konstantinople-Bizantine. Menyiapkan pasukan yang taat beribadah, istiqamah, sabar, tangkas, tahan uji dan berani mati. Berkat semua ini, di pagi hari (29 Mei 1453 M) kerajaan Rum (Nasrani) yang dikenal perkasa itu terkejut, karena pasukan al-Fatih tiba-tiba sudah berada di depan matanya, berhasil menyeberangkan 70 kapal laut yang sebelumnya sudah diberi minyak pelumas untuk melicinkan semua kapal tersebut lancar dalam perjalanan melewati jalur darat melintasi Galata dalam satu malam saja. Konstantinople pun jatuh ke tangan kekhalifahan Turki dan menukar nama Konstantinople kepada Islambol (kota Islam), yang kemudian diubah oleh Kamal Attaturk menjadi Istanbul pada 1924.

Akhirnya, semua rentetan perjalanan keimanan mulai dari Masjidil Haram sampai ke Mina, secara keseluruhan mengajarkan tentang konsep perjuangan hidup yang diridhai Allah Swt. Adalah benar, Anda telah memerangi Jumratul Ula, Jumratul Wusta, dan Jumratul Aqabah dengan lontaran batu sebanyak 63 kali hingga musuh (berhala) itu babak belur dan berdarah. Pasukan musuh tidak memberi reaksi apa-apa dan kecundang di medan perang Mina. Namun begitu, mereka menyimpan rasa dendam dan membalas dengan cara lain, sekembalinya jamaah haji ke Tanah Air masing-masing, di mana musuh (setan) tersebut mengubah wajah, merambah masuk kedalam hati manusia untuk menghasut, menyeret dan menjadikan Anda menjadi “Haji Iblis” dalam bentuk figur yang sombong, dengki, iri hati, mencuri, prejudis, serakah, saling membenci sesama saudara muslim, membunuh, tidak adil, dan menerapkan ideologi imperialisme. Wallahu a’lamu bish-shawab.

* Dr. Yusra Habib Abdul Gani, S.H., Direktor Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark. Email: [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id