Awas, Tragedi Maut di Ujung Konflik Keluarga | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Awas, Tragedi Maut di Ujung Konflik Keluarga

Awas, Tragedi Maut di Ujung Konflik Keluarga
Foto Awas, Tragedi Maut di Ujung Konflik Keluarga

Pekan ini, kita diguncang oleh dua peristiwa tragis yang berlatar belakang konflik rumah tangga. Pasca peristiwa-peristiwa itu kita wajar bertanya, mengapa dalam konflik rumah tangga ini manusia gampang “gelap mata”. Kekerasan yang berakhir dengan kematian seolah menjadi biasa.

Tragedi paling baru menimpa Nursiah binti Ibrahim (43). Bidan yang bertugas di Puskesmas Pembantu (Pustu) Cot Bada, Bireuen, ini ditemukan tewas bersimbah darah dalam rumah mertuanya di Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Selasa (29/8) menjelang petang.

Nursiah diduga dieksekusi oleh suaminya, Hamdani (35). Orang-orang dekat korban mengatakan, Nursiah dan Hamdani sering terlibat percekcokan. Hamdani yang merupakan suami kedua korban dinilai ringan tangan. “Mamak pernah dicekik,” kata anak kandung Nursiah mengungkap perangai ayah tirinya.

Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK mengatakan, Nursiah ditebas menggunakan benda tajam mengenai bagian wajah, tangan, dan punggung. Fakta lainnya, setelah Nursiah ditemukan tewas bersimbah darah, suaminya menghilang. “Berdasarkan keterangan sementara yang kita kumpulkan, pembunuhan itu diduga dilakukan suaminya,” kata polisi.

Dua hari sebelumnya, masyarakat Bumi Serambi Mekkah ini juga diguncang peristiwa pembunuhan berlatar belakang konflik rumah tangga. Adalah Herawati (21) yang diduga membacok Darmawati (38) hingga tewas di kebun kawasan Desa Pulo Panyang, Peusangan Selatan, Bireuen. Darmawati adalah istri pertama Rusli (4), sedangn Herawati diketahui sebagai istri kedua.

Polisi di Bireuen masih terus menyidik kasus ini. Selain menahan Herawati di sel khusus, polisi juga memeriksa Rusli sebagai saksi kunci peristiwa ini. Apalagi, ada kabar angin yang mengatakan Rusli tak segera memberi pertolongan saat korban dalam keadaan sekarat.

Di balik kasus-kasus itu sebetulnya yang paling menderita bukan cuma korban yang bersimbah darah. Akan tetapi, ada anak-anak dari korban yang harus menanggung beban hidup. Mulai beban material hingga beban moral. Dan, jumlah anak yang menjadi korban dalam tragedi maut berlatar konflik rumah tangga ini banyak. Ada anak tiri dan ada anak kandung, serta ada bersama. Makanya, ada anak yang kehilangan ibu karena terbunuh, sedangkan anak lainnya kehilangan kasih sayang karena orangtuanya terpenjara.

Oleh sebab itulah, lihatlah bagaimana warganet mengomentari peristiwa-peristiwa itu. Banyak di antara netizen yang mengatakan kemelorotan iman sebagai pembangkit jiwa-jiwa iblis di dalam diri manusia. Mereka gampang berbuat keji seperti membunuh.

Oleh sebab itulah, momentum Idul Adha ini mestinya menjadi saat yang tepat bagi kita semua untuk menebalkan keimanan agar kita semua terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah Swt. (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id