Karena Sejarah Dikira Dongeng (Meratapi Gampong Pande) | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Karena Sejarah Dikira Dongeng (Meratapi Gampong Pande)

Karena Sejarah Dikira Dongeng (Meratapi Gampong Pande)
Foto Karena Sejarah Dikira Dongeng (Meratapi Gampong Pande)

URI.co.id – Karib saya, Fikar W Eda, dalam satu diskusi terbatas dengan saya di Jakarta beberapa tahun lalu, mengutip pendapat seorang bijak tentang orang Aceh. “Cik tau gak, bedanya orang (kita) Aceh dengan Jawa.”

Tanpa menunggu jawaban saya (yang akrab dipanggilnya Pakcik), dia jawab sendiri pertanyaan itu.

“Kalau saudara kita (orang Jawa) sebuah legenda dan cerita rakyat bisa dibungkus seakan-akan sejarah. Cik tau kan Gatot Kaca (dalam pewayangan). Sosok itu sudah seperti sejarah,” kata Fikar.

Kalau kita (Aceh), lanjutnya, suatu saat nanti bisa-bisa sejarah tsunami dianggap dongeng. Contohnya Kapal Apung dengan berat ratusan ton, akan sangat mudah dipelintir menjadi dongeng.

Kok bisa benda raksasa sebesar itu berpindah tempat dari laut ke darat sejauh lebih 2 kilometer.

“Makanya, Cik jangan pernah melupakan sejarah. Catat dan rekam setiap apapun yang bernilai sejarah, jangan sampai nanti dianggap dongeng oleh anak cucu kita,” begitu kesimpulan diskusi saya dengan Fikar W Eda, sosok penyair yang juga Wartawan Harian Serambi Indonesia Biro Jakarta.

Saya jadi teringat lagi dengan diskusi ringan itu ketika berhadapan dengan sebuah fakta miris tentang jejak sejarah Aceh di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh.

(Baca: PENGANTAR Lipsus Proyek Tinja di Makam Ulama)

Jejak sejarah tersebut seperti dianggap tidak pernah ada sehingga di atasnya dibangun proyek bernama Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang di dalam paket proyek itu termasuk ‘bahan baku’ berupa tinja.

Adalah anggota DPR RI asal Aceh, Khaidir bersama rekannya Ramza Harli SE yang merupakan Wakil Ketua Komisi D DPRK Banda Aceh yang mengeluarkan pernyataan bahwa pembangunan proyek IPAL di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Gampong Jawa telah mengusik keberadaan situs sejarah Gampong Pande.

(Baca: Ironi Penguasa di Tanah Para Raja (1))

Sejarah mencatat, kawasan Gampong Pande merupakan lokasi bekas kerajaan Islam yang menjadi cikal bakal berdirinya Kota Banda Aceh, serta menjadi titik nol Banda Aceh.

Ironisnya, di atas situs sejarah tersebut –termasuk makam raja-raja dan ulama– disulap menjadi lokasi pembuangan limbah, termasuk limbah biologis (tinja).

(Baca: FOTO-FOTO Nisan Ulama dan Raja Aceh di Komplek Pembuangan Sampah)

Pemko Banda Aceh memang sempat memberikan tanggapan atau lebih tepat dikatakan pembelaan.

“Pada saat proyek itu direncanakan tidak ada situs sejarah atau batu nisan yang masuk dalam master-plan. Namun ketika mulai pengerjaan, ditemukan beberapa batu nisan yang sudah tertanam di dalam tanah,” kata Kepala Bappeda Kota Banda Aceh, Ir Gusmeri MT.

Ketika media semakin ramai memberitakan ihwal situs sejarah itu, para ahli juga semakin aktif merespons.

Arkeolog Husaini Ibrahim meminta Pemko Banda Aceh menyelamatkan situs sejarah Gampong Pande dari kehancuran akibat pembangunan tempat pengolahan limbah.

“Kami meminta situs sejarah Gampong Pande diselamatkan. Imbas pembangunan tempat pengolahan limbah sudah cukup parah,” begitu kata Husaini Ibrahim, sebagaimana dikutip dan dilansir sejumlah media.

(Baca: Warga Protes Proyek IPAL)

Menurut Husaini, situs sejarah Gampong Pande merupakan peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam. Di tempat itu merupakan titik awal berdirinya Kota Banda Aceh 812 tahun silam.

Husaini Ibrahim bersama sejumlah pemerhati sejarah lainnya juga meninjau langsung kondisi situs sejarah Gampong Pande. Hasil tinjauan langsung tersebut ditemukan kerusakan sejumlah makam.

“Ada beberapa makam di situs sejarah Gampong Pande digali untuk pembangunan pengolahan limbah ini. Dari nisannya, itu makam orang penting di masanya. Apakah makam ulama atau penguasa, belum diteliti,” kata Husaini seperti dilansir Antaranews.com.

(Baca: Miris, Makam Ulama di Banda Aceh Jadi Tempat Pembuangan Limbah)

“Pembangunan tempat pengolahan limbah bisa direlokasi tapi situs sejarah tidak bisa dipindahkan. Dengan adanya solusi, citra Banda Aceh sebagai kota sejarah bisa terus dipertahankan,” lanjut Husaini Ibrahim.

Dan, tentu saja, seperti diskusi saya dengan Fikar W Eda, yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita pandai mencatat, merekam, dan mengawal sejarah agar anak cucu kita tidak menganggap sejarah adalah dongeng.

Sehingga (suatu waktu nanti karena dianggap dongeng) di atas dongeng bisa dibuat apa saja, termasuk bunker tinja di situs tsunami, misalnya Kapal Apung.(Karena Sejarah Dikira Dongeng (Meratapi Gampong Pande)) (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id