Warga Protes Proyek IPAL | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Warga Protes Proyek IPAL

Warga Protes Proyek IPAL
Foto Warga Protes Proyek IPAL

BANDA ACEH – Warga Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, memprotes pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) di kawasan Gampong Pande-Gampong Jawa yang saat ini masih berjalan. Pasalnya, pembangunan itu telah menggusur situs sejarah serta akan menimbulkan bau tidak sedap ke permukiman warga.

Amatan Serambi yang kemarin turun ke lokasi, sekitar sembilan batu nisan kuno tampak sudah berjejer dan diberi garis polisi di area proyek itu. Menurut warga, awalnya batu nisan itu ditemukan saat penggalian kolam untuk proyek IPAL, kemudian dipindahkan ke lokasi lain, yang berjarak sekitar 50 meter. Batu nisan yang ditemukan itu diperkirakan berasal dari lima makam, berdasarkan corak dan bentuknya, para arkeolog menyimpulkan jika nisan itu milik makam ulama dan bangsawan.

Proyek senilai Rp 107 miliar itu dibiayai APBN sejak 2015, mengambil lokasi di dalam kompleks tempat pembuangan akhir (TPA), dengan luas areal IPAL itu sekitar satu hektare. IPAL juga masuk dalam proyek strategis nasional, dengan proyek sebanyak 500 rumah di Peuniti akan membuang limbah (tinja) ke instalasi tersebut, yang terhubung dengan pipa.

Irdus, mantan Keuchik Gampong Pande kemarin menyampaikan jika dirinya sangat menyayangkan proyek IPAL yang dibiayai pemerintah pusat itu harus menggerus situs sejarah, yang seharusnya dilindungi. Apalagi sebagian situs yang terganggu itu merupakan makam ulama pada masa kerajaan. Sehingga mereka menolak pembangunan IPAL di lokasi itu dan meminta pemerintah turun tangan.

“Bagaimana kami bisa menerima jika di makam indatu kami, di makam para ulama ini akan dijadikan tempat pembuangan tinja. Belum lagi bau yang nantinya akan ditimbulkan,” ujarnya.

Sementara sesepuh Gampong Pande, Adian meminta agar proyek itu dapat dihentikan dan dialihkan ke lokasi lainnya. Selama ini warga sudah sangat terusik dengan bau sampah. Sejak tahun 2006 warga sudah ada yang protes atas keberadaan TPA itu, namun tidak ditanggapi. Kini di daerah itu akan dibangun lagi IPAL.

Menurutnya, situs sejarah Gampong Pande sangat berkaitan dengan awal mula Islam di Aceh dan Nusantara, sehingga harus ada upaya penyelamatan. Hal serupa juga disampaikan Arkeolog, Dr husaini Ibrahim MA dan Pemerhati Sejarah, Tarmizi Hamid.

YARA somasi wali kota
Sementara itu, polemik pembangunan IPAL di makam para ulama Aceh terdahulu itu juga menimbulkan reaksi dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA). Kemarin, YARA menyomasi Wali Kota Banda Aceh dengan mengirimkan langsung surat somasi itu ke kantor wali kota.

Surat somasi YARA itu berisi empat point terkait pembangunan IPAL di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh tersebut. Salah satu point dalam surat itu, YARA meminta Wali Kota Banda Aceh, untuk menghentikan proyek tersebut. “Hentikan sementara proyek pembangunan itu sampai adanya penjelasan dan keputusan Wali Kota Banda Aceh,” kata Ketua YARA, Safaruddin SH dalam surat somasinya.

Selain itu, YARA juga meminta Wali Kota Banda Aceh untuk membuka kembali pembahasan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) terhadap pembangunan tersebut, dengan melibatkan ulama, pakar sejarah, arkeolog, dan masyarakat setempat.

“Kami menunggu jawaban dan tindakan Wali Kota Banda Aceh, paling lama dua minggu dari surat somasi ini, jika tidak diindahkan maka kami akan menempuh jalur hukum,” tegas Safaruddin.

Safaruddin juga mengatakan, bahwa pihaknya sangat mendukung dan mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Banda Aceh dalam melakukan terobosan pembangunan di Banda Aceh. Namun, dalam upaya tersebut, pemerintah terntunya harus memperhatikan segala aspek yang akan timbul akibat pembangunan tersebut. “Baik aspek hukum, lingkungan, sosial, budaya, dan sejarah. Ini harus benar-benar diperhatikan agar tidak menimbulkan konflik,” pungkas Safaruddin.

Asisten II Setdako Banda Aceh, Iskandar mengatakan, dalam waktu dekat Pemko Banda Aceh akan menggelar pertemuan dengan mengundang pihak pelaksana proyek IPAL, konsultan, tokoh masyarakat, dan arkeolog.

Dalam pertemuan itu mereka akan membahas persoalan IPAL dan situs sejarah secara teknis, sehingga diharapkan dapat ditemui solusinya.

Saat ini, Iskandar mengaku belum bisa memberikan komentar mengenai proyek itu dan protes warga. Namun jika sudah melakukan pertemuan nanti, maka pihak Pemko Banda Aceh akan memberi penjelasan. (mun/dan) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id