KKR akan Temui Korban Konflik | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

KKR akan Temui Korban Konflik

KKR akan Temui Korban Konflik
Foto KKR akan Temui Korban Konflik

* Direncanakan Usai Hari Raya Idul Adha

BANDA ACEH – Komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh berencana turun ke masyarakat menjumpai korban-korban konflik. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada pertengahan September mendatang atau seusai Hari Raya Idul Adha itu bertujuan untuk mewawancarai korban dan saksi-saksi konflik tentang kejadian masa lalu.

“KKR dalam waktu dekat atau pertengahan September akan turun ke lapangan untuk mewawancarai korban dan saksi-saksi serta melakukan testemoni terbuka dari korban konflik,” kata Ketua KKR Aceh, Afridal Darmi saat berkunjung ke Kantor Serambi Indonesia, Desa Meunasah Manyang, Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa (29/8).

Afridal yang datang bersama Fuadi, Ketua Pokja Reparasi dan Masthur Yahya, Ketua Pokja Perlindungan Saksi dan Korban disambut Sekretaris Redaksi, Bukhari M Ali.

Untuk tahun ini, kata Afridal, pihaknya hanya menargetkan bisa mewawancarai 500 korban konflik di seluruh Aceh. Sisanya akan dilanjutkan pada tahun depan.

Dia mejelaskan, proses wawancara korban dan saksi konflik nantinya akan dilakukan oleh tim dari KKR dengan cara face to face. Dalam wawancara itu, tim boleh mengikutsertakan psikolog jika dibutuhkan oleh si korban.

“Kalau misalnya kita membayangkan ada kemungkinan korban tertekan mentalnya karena kejadian masa lampau, maka kita hadirkan psikolog,” ujarnya.

Dalam proses wawancara, tim akan menanyakan kepada korban atau saksi terkait informasi yang diketahui oleh korban mengenai perihal yang dialaminya selama konflik.

Proses itu, kata dia, bukanlah untuk mengungkit luka lama, tetapi lebih kepada berupaya untuk meredamkan dendam atau beban yang dipikul oleh korban atau saksi konflik.

“Kalau misalnya setelah kita ngomong bangkit kemudian bangkit traumanya, itu hanya karena selama ini dia sudah membawa-bawa beban itu,” katanya diamini dua rekannya, Fuadi dan Masthur Yahya.

Afrizal Darmi juga menjelaskan tujuan dari dihimpunnya informasi kejadian masa lalu dari korban atau saksi-saksi konflik untuk dijadikan data sejarah betapa perihnya konflik di Aceh. Rangkuman informasi itu akan dijadikan sebuah laporan resmi negara untuk digunakan sebagai data dasar pemberian reparasi kepada korban konflik.

Selain itu, tambah dia, Pemerintah Aceh bisa menggunakan data tersebut nantinya untuk mencegah berulangnya pemberlakuan operasi militer di Aceh. “Informasi itu sendiri akan menjadi sebuah dokumen sejarah. Siapapun yang mempelajari Aceh ke depan bisa melihat dokumen-dokumen itu,” katanya.

Afridal juga menyampaikan, selain mewawancarai korban atau saksi konflik pihaknya juga akan mempelajari seperti apa praktik ketatanegaraan Indonesia sebelum pemberlakukan DOM di Aceh. Begitu juga bagaimana proses pengambilan keputusan Pemerintah Pusat yang berakhir pada operasi militer.

Harapannya, apabila ada kebijakan pemerintah pusat yang bisa membuat masyarakat Aceh kembali kepada masa lalu, maka bukti sejarah tersebut bisa menghentikannya. “Kita akan mengusulkan perubahan kepada pemerintah yang bisa menutup peluang terjadinya kembali konflik yang sama di Aceh,” ulasnya.(mas) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id